“Maksud kamu, Pak Keenan, bos kita yang berwajah datar dan berhati dingin itu ngelamar kamu?” Anggukan kepala Achiera membuat tubuh Melly merosot.
Apa yang baru saja diceritakan oleh Achiera bak dongeng indah. Sulit sekali untuk percaya. Andai bukan sang sahabat yang bercerita begitu, Melly juga tidak akan percaya. Bagaimana bisa seorang tanpa ekspresi semacam Keenan memberikan tawaran tidak masuk akal kepada karyawan wanitanya.
Melihat bagaimana tanggapan Melly, Achiera hanya bisa mengembuskan napas. Dia memperhatikan sang sahabat yang menatap kosong ke lantai. Mulut Melly bahkan terbuka lebar. Seperti biasa, terkadang Melly memang bersikap berlebihan seperti itu. Jadi, Achiera tidak bermaksud meneruskan cerita sampai Melly kembali normal.
“Pak Keenan ngelamar kamu?” ulang Melly. Achiera melotot saat mendengar suara sahabatnya yang lumayan besar. Merasa bersalah, Melly hanya meringis. “Tunggu. Tunggu.”
Dengan gerakan cepat, Mellly kembali duduk tegak. Dia mengangkat telunjuk lurus ke atas. Keningnya mengerut. Sementara mulutnya tertutup rapat. Dia memejamkan mata cukup lama sebelum akhirnya menoleh pada Achiera. Kepala wanita itu mengangguk berulang kali saat meneliti penampilan sang kawan.
Geram dengan kelakuan sahabatnya, Achiera memukul lengan Melly cukup keras. Dia tidak memedulikan Melly yang menatapnya tajam sambil mengaduh. Siapa suruh malah melakukan hal-hal tidak berguna saat dia menceritakan kisah yang serius. Dia justru membalas tatapan tajam Melly yang mulai menyadari kesalahannya.
“Maaf, deh. Aku cuma bercanda. Soalnya cerita kamu bikin aku syok. Gimana ceritanya Pak Keenan ngelamar kamu coba?”
“Kamu ngomong seakan dia benaran ngelamar aku saja.”
“Memang gitu, kan? Dia ngajak kamu nikah, Chi. Itu kenyataannya.”
“Melly yang cantik. Bisa enggak sekali-kali kamu gunakan otak dengan benar? Sebenarnya apa yang ada di dalam kepala kamu sampai enggak bisa memahami ceritaku? Atau kamu mau aku temani ke rumah sakit saja?”
“Ngapain, sih, ke rumah sakit? Kamu buat aku merinding.” Melly memperlihatkan tangannya yang mengkerut pada Achiera.
“Mana tahu ada yang salah dengan isi kepalamu.”
“Eh, Achiera yang selalu jadi nomor satu. Aku memang enggak kayak kamu yang selalu jadi bintang di setiap semester. Punya segudang prestasi dan beasiswa penuh setiap tahunnya. Seujung jari pun kita enggak bisa dibandingkan. Tapi aku masih cukup pintar buat gunain otakku. Mengerti?” Melly menunjuk kepalanya sendiri.
Ucapan Melly justru membuat Achiera mencibir. Dia tahu jika sang sahabat hanya bercanda. Namun, dia tidak akan terjebak dengan kata-kata yang tampaknya seperti pujian itu. Melly pasti sengaja membuatnya jengkel dengan mengatakan semuanya. Dia benar-benar tahu bagaimana cara membalas perlakuan Achiera.
Meski terlahir dengan kecerdasan luar biasa, Achiera tidak suka saat ada yang membahas mengenai hal itu. Dia paling benci orang mengaitkan sikapnya dengan pergaulan atau lingkungan. Meskipun tingkat kepandaian memang memengaruhi sekitarnya, dia tetap tidak mau disebut sebagai sang juara.
Kata-kata pujian semacam itu, baginya, seperti racun. Dia mengalami cukup banyak kesulitan karena label “terbaik” yang menempel pada dirinya. Namun, dia juga tidak bisa melepas gelar itu karena sang bibi. Jadi, dia hanya bisa memilih untuk bertahan. Meski banyak yang sinis dengan prestasinya, dia tidak peduli.
“Masih mau ngomong?” tanya Achiera dengan gigi beradu. Melly mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf “V”. Achiera mendengkus.
“Oke. Aku paham sama ceritamu. Tapi bukannya ini aneh. Kenapa dia milih kamu?”
Keadaan sama sekali tidak berubah. Achiera memijat pelipisnya yang terus berdenyut. Dia sudah tidak punya kekuatan untuk bercanda dengan Melly. Tangannya sudah bersiap untuk memberi pelajaran tambahan pada Melly. Untung saja, sahabatnya itu segera menangkupkan kedua tangan di depan d**a sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Iya, iya. Aku ngerti. Aku bakal serius sekarang.”
“Kalau kamu bercanda lagi, lebih baik aku enggak cerita lagi sama kamu.”
“Oke.” Melly meletakkan tangan di kening seperti orang yang sedang memberi hormat. Dia cepat-cepat menurunkan tangannya saat melihat Achiera yang berniat pergi. “Jadi, gimana? Kamu mau pertimbangin lamaran dia?”
“Aku juga enggak tahu, Mel. Menurut kamu gimana? Rasanya aneh saja nikah sama atasan sendiri. Pasti bakal enggak nyaman banget kalau ketemu di kantor. Iya, kan?”
“Tapi kalian, kan, enggak saling suka.”
“Justru itu yang buat semakin parah. Kami enggak saling suka, terus tiba-tiba nikah. Bukannya aneh. Gimana kalau aku jadi gosip orang sekantor?”
Kehidupan Achiera selalu penuh ketenangan. Dia berusaha semampunya agar segala hal berjalan dengan baik. Kadang kala dia lebih suka mengalah atau memendam perasaan untuk membuat sekelilingnya lebih baik. Dia tidak suka melihat kekacauan karena keegoisannya untuk bahagia. Bukankah kedamaian itu indah?
Menjadi bahan omongan banyak orang benar-benar tidak membuat Achiera nyaman. Dia sudah cukup sering mengalami hal ini saat sekolah dulu dan tidak bermaksud mengulang lagi. Apa lagi lingkungan kerja di sini sangat menyenangkan. Orang-orang ramah dan saling membantu. Achiera sudah sangat bahagia berada di perusahaan ini.
Wanita berambut panjang bersandar di tempat duduk. Dia memainkan pena yang ada di tangan. Matanya tertuju pada langit-langit ruangan. Meski begitu, pikirannya mengembara ke tempat yang jauh. Dia kembali mengingat wajah Nila saat memintanya menikah. Kemudian, berganti dengan wajah dingin Keenan yang mengajak menikah.
“Hidup selau penuh kejutan, kan?” gumam Achiera tidak jelas. “Aku benar-benar enggak nyangka bakal ada kisah kayak gini dalam hidupku. Bukannya ini kayak sinetron atau novel? rasanya apa yang aku alami ini enggak nyata.”
“Memang. Sekarang, kamu sudah jadi salah satu tokoh utama dalam novel menikah dengan CEO tampan. Judul yang aku buat keren banget, kan?”
Perkataan Melly membuat Achiera memutar bola mata. Dia kembali duduk dengan baik dan mulai memperhatikan Melly yang tersenyum tidak jelas. Wanita itu melotot saat Melly memainkan sebelah mata seraya menunjukkan foto Keenan yang tengah duduk sambil tersenyum. Dia menepuk kening.
Harus Achiera akui, Keenan memang tampan. Rasanya semua orang akan menyetujui hal ini. Bahkan wajahnya bisa dibilang berada di atas rata-rata. Dia pasti akan memiliki banyak penggemar jika menjadi artis. Tentu saja jika mereka melihat seseorang dari wajahnya. Akan tetapi, Keenan bukan hanya tampan.
Tidak ada yang akan meragukan kecerdasan Keenan. Semua orang juga setuju dengan ini. Prestasi yang diraih Achiera bahkan tidak sebanding dengan pencapaian pria itu. mungkin itu sebabnya Keenan yang jadi bos dan Achiera menjadi bawahan. Pesona Keenan tidak bisa dianggap main-main.
“Hayo!” Achiera hampir terjengkang saat Melly menepuk keras pundaknya. Dia mendelik. Sementara Melly terbahak. “Lagi mikirin CEO tampan, ya?” godanya.
“Bisa enggak kamu serius?”
“Aku lagi serius, Chi. Aku rasa sebaiknya kamu pikirin baik-baik tawaran itu.”
“Itu yang aku lakuin sekarang, kan?” Melly mangut-mangut saat melihat tatapan sebal Achiera. “Dia kasih waktu aku sebulan buat bikin keputusan.”
“Bagus, dong. Waktu kamu cukup banyak. Tapi, kayaknya kamu bakal terima dia.”
Pandangan Achiera beraih cepat pada Melly yang memainkan sebelah mata. Dia juga belum tahu harus memberi jawaban apa. Saat ini, Keenan satu-satunya calon yang ada. Apa dia perlu mencari pria lain untuk perbandingan. Siapa? Dia bahkan tidak mengenal siapa-siapa. Dia tidak mau gegabah mengambil keputusan.
Benarkah apa yang dikatakan oleh Melly? Meski Achiera mengulur waktu, apa pada akhirnya dia tetap akan memilih Keenan? Lagi pula, di mana dia bisa mendapatkan pria paket lengkap seperti Keenan? Bosnya itu memiliki semua hal yang diimpikan oleh gadis mana pun. untuk masalah ini, Achiera tidak bisa menyangkal.
“Sepertinya kamu pengin banget aku nikah sama dia,” ujar Achiera dengan wajah ditekuk.
“Memangnya kamu enggak?”
“Bukannya aku sudah bilang, nikah sama dia bakal bikin aku enggak nyaman di kantor.”
“Kalau itu masalahnya, kamu bisa nyembunyiin pernikahan kamu, kan?”
Mata Achiera terbuka lebar begitu mendengar perkataan Melly. Kenapa otak pintarnya tidak memikirkan hal itu? Lalu, dia teringat situasinya. Pria seperti Keenan, mana mungkin akan menyetujui usulan ini? Dia adalah bos di sebuah perusahaan. Dia juga merupakan anak tunggal dari pengusaha ternama. Mana mungkin pernikahannya dirahasiakan.
Achiera bahkan sudah membayangkan berada di sebuah pesta yang sangat megah dengan tamu pesohor kaya. Belum apa-apa dia sudah merasa sesak. Sepertinya dunia Keenan terlalu sulit untuk dimasuki. Bagaimana kalau dia hanya mempermalukan dirinya sendiri dengan menjadi istri Keenan?
“Menurut kamu dia bakal setuju dengan ini?”
“Kenapa enggak? Lagian, ini bukan pernikahan sebenarnya, kan?”
“Iya. Aku tahu. Tapi gimana dengan keluarga kami? Mereka menganggap pernikahan kami benaran, Mel. Mana mungkin mereka bakal setuju. Lagian, dia itu seorang bos. Mana mungkin dia menikah tanpa pesta.”
“Ya ... bilang saja ini buat sementara. Kalian bakal ngumumin pernikahan setelah siap.”
“Kamu pikir itu masuk akal? Dia mungkin enggak bakal setuju.”
“Kamu belum coba. Dari mana kamu tahu dia bakal setuju atau enggak.”
Benar juga. Semua hal bisa dicoba, bukan? Achiera menutup wajah dengan kedua tangan. Kemudian, dia menyadari sesuatu. Dia belum menyetujui untuk menikah dengan Keenan, kenapa dia harus berpikir sejauh ini? Andai saja ada calon yang lebih sederhana, dia pasti mau mengganti pilihan. Ya. Andai saja ada.
“Aku belum setuju buat nikah sama dia,” ujar Achiera dengan tatapan tajam. Melly tertawa.
“Bukannya tadi aku sudah bilang. Pada akhirnya kamu pasti bakal milih dia.”
“Kenapa aku merasa kamu terlibat dalam hal ini.”
“Kamu terlalu berkhayal. Memangnya dia orang seperti itu?” Achiera setuju. Keenan bukan pria yang suka melibatkan orang lain untuk mengatasi masalahnya. “Aku bilang gitu karena enggak bakal ada calon lain yang lebih baik dari dia.”
“Kalau untuk itu, aku setuju sama kamu. Di mana bakal ada pria yang lebih baik dari dia di lingkungan kita? Apa ini artinya aku sudah terjebak?”
“Iya. Kamu terjebak dalam pesona CEO tampan,” kata Melly, lalu kembali terawa.