“Achi, kan?” tanya Marwa setelah memperhatikan Achiera beberapa saat. “Iya, Nek. Saya Achiera.” Dipanggil dengan sebutan Achi rasanya sedikit aneh. Achiera belum pernah mendapat panggilan seperti itu sebelumnya. Dia melirik Keenan yang hanya mengangkat bahu. Tampaknya pria itu juga tidak tahu kalau sang nenek akan datang. Malangnya nasib Achiera yang tidak mempersiapkan diri terlebih dahulu. Baru saja membandingkan penampilannya dengan keluarga Keenan, Achiera justru bertemu dengan Marwa ketika dalam keadaan serba kurang. Achiera mengutuk dirinya sendiri. Mungkin sebaiknya dia tetap bersembunyi di kamar mandi agar tidak mempermalukan diri. Dia bahkan tidak berdandan dengan pantas. Apa lagi saat melihat Achiera yang masih terlihat cantik di usia senja. Wanita itu mencoba tersenyum ketik

