Lift menutup pelan di belakang Kendy, meninggalkan Inggrid sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi. Jemarinya berhenti di atas keyboard. Kata-kata di layar berpendar, tetapi pikirannya berkelana, berputar pada satu nama yang sejak pagi menempel di dadanya: Seno. Ada rasa hangat yang menenangkan ketika ia mengingat cara Seno menatapnya, bukan sekadar ingin memiliki, melainkan ingin menjaga. Inggrid menghela napas panjang, memaksa dirinya kembali fokus. Ia membuka file laporan keuangan, menelusuri angka-angka yang berloncatan tak wajar. Di sela-sela konsentrasinya, ponsel bergetar pelan. Satu pesan masuk. Mas Seno: Udah sampai kantor? Jangan lupa makan siang. Aku kangen. Inggrid tersenyum kecil, senyum yang lahir begitu saja tanpa disuruh. Jarinya mengetik balasan singkat

