Pagi datang dengan langkah pasti, membawa aroma tanah basah yang masih setia menempel di udara. Cahaya matahari menyusup melalui sela tirai kamar, menyentuh wajah Inggrid yang terlelap dengan damai. Seno terbangun lebih dulu, menatap perempuan di sisinya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada syukur, ada rasa ingin melindungi, dan ada keyakinan yang kian menguat bahwa pilihannya tidak salah. Ia bangkit pelan, memastikan gerakannya tak mengusik tidur Inggrid. Di dapur, Seno menyiapkan sarapan sederhana. Suara wajan dan aroma telur orak-arik perlahan mengisi rumah, menciptakan suasana hangat yang terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Ada ketenangan yang kini tinggal, bukan sekadar singgah. Inggrid terbangun ketika aroma kopi menyapa hidungnya. Ia tersenyum kecil, menarik selimut se

