Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Matahari menyapa lebih hangat, dan udara membawa aroma hujan semalam yang menenangkan. Inggrid membuka mata, masih tersisa rasa kantuk yang manis. Seno sudah tidak di sisi tempat tidurnya; rumah terasa hening, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Ia tersenyum sendiri, seolah bisa merasakan keberadaan Seno meski lelaki itu tak terlihat. Tak lama, dari dapur terdengar bunyi panci dan aroma kopi segar. Inggrid bangkit, menelusuri lantai kayu dengan langkah pelan. Saat memasuki dapur, ia melihat Seno sibuk menyiapkan sarapan. Delon sudah duduk di kursi makan, mengibas-ngibaskan tangan kecilnya sambil tersenyum lebar. “Kamu bangun telat, Grid,” goda Seno, menatap Inggrid dengan mata yang berbinar. “Aku… mau menikmati sedikit ketenangan pagi,” ja

