Lima tahun telah berlalu. Waktu yang tak singkat, namun bagi Safiyah… waktu itu terasa seperti serpihan luka yang ia jahit satu demi satu dengan air mata dan doa. Setelah perceraian yang menyayat hati, Safiyah tidak memilih untuk terpuruk. Ia menjemput pagi dengan kesabaran, menutup luka dengan kerja keras, dan membesarkan kedua anaknya dengan cinta yang tak bersyarat. Dengan tabungan yang ia kumpulkan—dari sisa warung kecil, dari bantuan kecil orang-orang yang tulus, dan dari hasil keringatnya sendiri—Safiyah membangun sebuah rumah makan. Tak besar, tapi cukup untuk menghidupi mereka bertiga. Kini, rumah makan “Aliyah Rasa” berdiri di sudut jalan strategis, dikenal sebagai tempat makan dengan rasa rumahan yang lezat dan pelayanan hangat. Nama itu ia ambil dari nama putri kecilnya, Al

