Awan mendung menyelimuti langit Jakarta pagi itu. Aroma tanah basah dan bunga melati menyeruak di antara pelayat yang berkerumun mengelilingi liang lahat. Hujan gerimis jatuh perlahan, seolah langit pun turut berduka atas kepergian Widia. Jenazahnya dibalut kain putih, dibawa dengan hati-hati ke tempat peristirahatan terakhir. Pak Hartawan berdiri di tepi liang, matanya sembab, namun sorotnya tegas. Di sampingnya, Aulia menggenggam payung sambil menunduk dalam diam, sementara Arjuna berdiri mematung, memeluk bahu Kinanti yang terus membisikkan doa agar suaminya kuat. Tak jauh dari mereka, Satria dan Alesha juga hadir. Alesha menggenggam tangan Inara kecil yang bingung melihat suasana penuh tangis itu. Di sampingnya, Satria menatap liang lahat dengan rahang mengeras—ia tak bisa lupa luk

