Di perjalanan, Rafandra masih terlihat kesal. Motor sportnya melaju cepat membelah sore yang mulai gelap, membuat Dinda harus memeluk erat jaket kulit sang senior. “Kamu kenapa sih segitunya kesel cuma karena Aulia nggak datang?” tanya Dinda pelan, mencoba mencairkan suasana. Rafandra tidak langsung menjawab. Hanya suara angin yang bersiur di antara mereka sebelum akhirnya ia berkata, “Aku benci orang yang nggak menepati janji.” Dinda terdiam. Ia tahu, ucapan Rafandra bukan hanya karena surat cinta dadakan tadi siang. Ada sesuatu yang lain. Mungkin, dari raut wajah Rafandra yang sempat berbinar saat membaca surat dari Aulia—yang menurutnya polos tapi jujur. “Tujuan kita ke mana?” tanya Dinda. “Mall Kemang, katanya tadi dia ke sana sama kakaknya,” sahut Rafandra singkat, masih fok

