Bab 27

1601 Words

Lampu putih di ruang ICU menyala temaram, memantulkan cahaya dingin di dinding kaca yang memisahkan kehidupan dan perpisahan. Di antara suara alat-alat medis dan detak jantung yang melemah di monitor, Satria melangkah perlahan ke sisi ranjang ibunya. Bunda Melati, yang terbaring lemah dengan selang oksigen dan infus di sekujur tangan, perlahan membuka matanya. Tatapan itu sayu, namun menghangat ketika melihat sosok anak laki-lakinya berdiri di sana. "Satria... anakku..." suara bunda lirih, nyaris tenggelam oleh suara mesin pernapasan. Satria segera mendekat dan menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Bunda, jangan banyak bicara dulu... istirahat, biar bunda cepat pulih." Bunda Melati menggeleng pelan, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Maafkan Bunda, Nak... Bunda selalu merepotkanmu..

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD