Di luar rumah, Satria duduk sendiri di pos penjagaan. Ia menatap langit malam, menengadahkan wajahnya seperti sedang berbicara pada Tuhan yang jauh di atas sana. > “Kalau benar dia bukan untukku, kuatkan aku, Ya Rabb…” Tak lama kemudian, jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Pak Hartawan dan Bu Widia berdiri dari duduknya. “Alvino, Karina, terima kasih atas jamuannya malam ini. Kami pamit dulu.” “Terima kasih sudah datang. Salam untuk keluarga,” ucap Ibu Karina ramah. Keluarga Pak Alvino mengantar mereka sampai ke halaman depan. Arjuna berdiri di samping Alesha, sempat menatapnya sebelum berpamitan. “Alesha… aku senang bisa kenal kamu. Semoga kita bisa ngobrol lebih banyak di lain waktu,” ucap Arjuna dengan senyum tulus. Alesha mengangguk pelan. “Iya. Terima kasih sudah datang.” Mo

