Arka menutup pintu kamar dengan perlahan. Satu tangan menggandeng lembut jemari Safiyah yang tampak sedikit dingin dan gemetar. > “Kita ke kamar kita, Sayang…” Langkah mereka menyusuri koridor menuju kamar utama. Pintu kamar mewah itu dibuka. Ruangan luas dengan interior bernuansa ivory dan emas menyambut mereka. Tirai menjuntai elegan, lampu gantung kristal bergemerlap, dan ranjang megah berlapis satin putih berdiri anggun di tengah ruangan. Safiyah terpaku. Selama bertahun-tahun menyandang status istri Arka, ia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah ini, apalagi kamar suaminya. Semuanya terasa asing… mewah… terlalu megah untuk seseorang yang dulu hanya menyeka lantai rumah sakit. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, lututnya saling bersentuhan, menunduk. Arka menut

