Satria menarik selimut ke tubuh mereka berdua, lalu memeluk Alesha dari belakang dengan erat. Nafasnya yang hangat menyapu pelan tengkuk istrinya, membuat Alesha merasa aman dan dicintai. “Maafkan Mas, ya…,” bisiknya lirih, penuh penyesalan. “Mas cuma lelaki bodoh yang kadang nggak peka, tapi hati Mas cuma buat kamu, Lesha. Cuma kamu satu-satunya.” Alesha terdiam beberapa saat, merasakan degup jantung suaminya yang berpadu dengan miliknya. Hatinya mulai luluh, perlahan melepaskan semua rasa curiga dan amarahnya. Ia menggenggam tangan Satria yang melingkar di perutnya. “Aku percaya sama Mas… Tapi tolong, jangan buat aku ragu lagi,” bisiknya pelan. Satria mencium ubun-ubun istrinya. “Nggak akan, sayang. Mas janji.” Dalam keheningan malam, mereka saling menatap sebentar sebelum akhirnya

