Rafandra mengangguk dan mulai membungkuskan dua roti pesanan Aulia. Tangannya cekatan, meski sesekali matanya melirik Aulia yang kini berdiri santai dengan tangan di pinggang. “Ini,” ucapnya sambil menyerahkan roti-roti itu. “Tapi... maaf ya, aku nggak ada uang kembalian. Recehan lagi habis.” Aulia mengambil bungkus roti itu dan mengangkat alis. “Ambil aja sisanya. Anggep aja tips,” katanya ringan. Wajah Rafandra memerah. “Makasih, ya. Baik banget sih kamu.” Aulia menatap lapak yang belum terlalu ramai. Masih banyak roti tersusun rapi di kotak plastik. “Masih banyak ya dagangannya?” tanyanya santai. “Hehe, iya. Tapi santai aja, belum siang juga.” Aulia mendongak dan tersenyum, kali ini lebih lebar. “Aku bantuin ya?” Rafandra terdiam sejenak, kaget tapi matanya berbinar. “Serius? B

