Rafandra menggeleng cepat. “Nggak dong. Namanya juga lagi berjuang. Kalau nggak begini, saya nggak bisa dapet uang lebih,” jawabnya dengan nada ringan, seolah kelelahan adalah bagian kecil dari sebuah impian besar yang sedang ia kejar. “Kamu hebat,” ucap Aulia lirih, tulus dari hati. Rafandra tertawa kecil. “Biasa aja. Saya bukan anak orang kaya, jadi ya memang harus kerja keras demi bisa kuliah. Sudah semestinya.” Aulia mencibir manja, menggoda, “Hmm… kamu nyindir aku, ya?” Rafandra mengangkat alis. “Nggak, kok. Serius.” Siang itu, kantin kampus lagi rame-ramenya. Aulia duduk di salah satu meja bareng geng ceweknya—Nisa, Lala, dan Putri. Mereka lagi asik ngobrolin tugas dosen killer sambil nunggu jam masuk kelas selanjutnya. “Eh sumpah ya, tugas Pak Damar tuh absurd banget. Disuruh

