Pagi itu kampus ramai oleh mahasiswa yang membicarakan hasil ujian semester. Aulia membuka portal nilai dengan jantung berdebar. Dan saat matanya menangkap angka-angka yang tertera di layar, bibirnya spontan tersenyum lebar. Nilainya melonjak naik drastis, bahkan untuk mata kuliah yang sebelumnya ia anggap momok, kini berhasil ia lampaui dengan nilai yang nyaris sempurna. “Aku harus kasih tahu Rafandra!” serunya dalam hati. Jemarinya segera sibuk membuka ponsel. Namun belum sempat ia mengetik pesan, matanya menyapu sekeliling koridor kampus—mencari sosok lelaki bersweater abu-abu yang biasanya muncul tiba-tiba dari tangga belakang. Tak ada. Aulia menunggu. Satu jam. Dua jam. Tapi tak juga terlihat bayangan Rafandra. Ia kemudian menghampiri Dinda, teman sekelas Rafandra yang sedang dudu

