Dua jam kemudian, mobil Arka berhenti di depan kantor polisi. Ia melompat keluar, dan dari kejauhan melihat Yusuf berdiri di samping seorang pria muda. “Yusuf!” teriaknya. “Aaaabi!” Yusuf berlari dan langsung dipeluk erat oleh Arka. Tangis keduanya pecah di pelataran Polres. Arka mencium ubun-ubun Yusuf berkali-kali. “Maafkan abi, Nak. Abi lengah…” Azzam berdiri tak jauh, tersenyum melihat momen penuh haru itu. Arka akhirnya menoleh padanya, menatapnya dalam-dalam. “Kamu yang menyelamatkan anak saya?” tanya Arka dengan suara serak. Azzam mengangguk. “Kebetulan saya lewat dan curiga, Pak. Alhamdulillah saya sempat lihat Yusuf.” Arka menghampiri dan menggenggam tangan Azzam erat. “Saya Arka Hendra. Ingat nama saya. Hutang budi ini... tidak akan pernah saya lupakan.” Azzam menjabat ta

