Safiyah melangkah pelan, membawa satu nampan besar berisi nasi rawon, sambal, kerupuk, dan segelas es jeruk. Dengan tangan dingin dan hati yang tak tenang, ia meletakkannya di meja pojok tempat Arka duduk menunggu. > “Silakan, Tuan Arka. Saya permisi.” Suaranya datar. Profesional. Berusaha menjaga jarak. Namun saat ia berbalik, suara yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya kembali memanggilnya. > “Temani saya makan… sayang.” Kata itu diucapkan cukup keras untuk membuat beberapa pengunjung yang masih makan menoleh. Beberapa bisik-bisik mulai terdengar. Naning dan Annisa yang sedang menyapu meja ikut menatap, bergidik geli tapi penasaran. Safiyah terdiam, mematung di tempat. Wajahnya merah, bukan karena cinta, tapi karena malu. Ia ingin menolak. Ingin pergi. Tapi matany

