Brakkk..
"Bell!" pekik Natasa, dengan membuka kamar sang kakak dengan sangat kasar.
Natasa, masuk ke dalam kamar Abella dengan Alex tanpa permisi. Abella, yang tengah menyulam di balkon kamar nya, terkejut saat mendengar pintu dan suara adik nya bersamaan.
Abella, beranjak dari duduk nya. dia melangkah ke arah kamar dengan heran. kenapa, Natasa tiba-tiba saja berteriak dengan memanggil nama nya.
"Nat, kamu kenapa??" tanya Abella dengan heran.
"Bell, Lo itu orang udik dan bodoh!" pekik Natasa di depan wajah sang kakak.
Abella, memejamkan mata indah nya. Abella, tidak tau apa yang membuat adik nya, terlihat sangat marah. "Nat, kamu kenapa sih??" tanya Abella dengan nada suara yang masih sangat lembut.
Natasa, bukan nya menjawab apa yang di tanyakan kakak nya. dia dengan tega nya mendorong Abella dengan kencang, sampai Abella terjatuh.
Brukk..
Ahh..
"Nat, kamu apa-apaan sih??" tanya Abella dengan memegang pinggang nya, yang terasa sangat sakit.
"Aku, apa-apaan!!?? kamu, yang apa-apaan" sahut Abella.
"Salah, kakak apa Nat??" tanya Abella dengan berusaha bangun.
"Salah, kakak!! itu, sok dekat dengan teman-teman ku!! aku benci, aku nggak suka, aku jijik, kakak tidak selevel dengan ku dan teman-teman ku!! kakak, itu udik, bodoh, tidak berpendidikan!" maki Natasa
Dada Abella, terasa sangat sesak mendengar Natasa menghina sedemikan rupa. mata indah Abella memerah, dia tidak menyangka adik nya, akan sangat merendahkan nya.
Mata Abella, perlahan mengembun, tanpa terasa air mata Abella turun membasahi kedua pipi nya. sedangkan Natasa, dia malah menatap Abella dengan jijik.
"Menjijikan! menikah dengan, pria tua! tidak sekolah, malah bekerja di cafe! berujung menikah" hina Natasa.
"Kenapa nggak sekalian jadi Ja***ng" lagi dan lagi remaja 18 tahun yang ada di depan Abella menghina Abella habis-habisan.
Abella, memejamkan mata nya dengan menganggukkan kepala nya dengan pelan. dia, kini sadar! kalau Abella, tidak sebanding dengan Natasa.
"Jadi, selama ini! kamu hidup, kamu jalan-jalan! kamu bisa sekolah sampai kelas 2 SMA, tidak pakai uang kakak?? kamu, cari uang sendiri?? sampai kamu menghina kakak seperti itu??" ucap Abella dengan memukul d**a nya sendiri dengan kencang.
Dada nya, sangat lah sesak. Abella, kesusahan bernapas. seolah pasok udara di rongga d**a nya sudah mulai habis.hinaan, demi hinaan yang Natasa berikan, seolah Abella selama ini bekerja, untuk diri nya sendiri.
"Kamu, mengatakan kakak tidak selevel dengan kamu?? hahahaha, bahkan baju yang kamu kenakan sekarang, uang yang kakak berikan! semua yang kamu, pakai selama ini, semua dari kakak!! kini, kamu dengan sombong nya, mengatakan kalau kamu tidak selevel! hahaha" lanjut Abella.
"Hahah!! kalau kamu memang tidak cocok dengan kakak, pergi! pergi dari sini" pekik Abella dengan kencang.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba, Natasa datang ke kamar Abella lalu menghina-hina Abella. padahal, Abella tidak merasa bersalah dengan Natasa.
Setelah, teman-teman Natasa makan siang. Abella, kembali ke kamar nya. dia tidak keluar kamar, sampai Natasa datang ke kamar nya dengan marah-marah.
Dan kini Natasa datang tanpa alasan yang jelas, melukai perasaan Abella yang berkorban segala nya untuk Natasa. sedangkan Natasa, hanya karena masalah sepele dia marah-marah, sampai tega menghina Abella.
Natasa, mendekati Abella. dia menjambak rambut sang kakak dengan kasar. dia ingin menunjukan siapa diri nya yang sebenar nya. "Bel, kamu itu hanya sampah yang di buang Ayah dan Ibu! kamu, harus memperlakukan ku dengan baik atau mendiang Ayah dan Ibu tidak tenang di Neraka" ucap Natasa.
Natasa, melepas, rambut Abella dengan kasar. membuat Abella kembali tersungkur diatas lantai dingin kamar nya. Abella, sudah terbiasa dengan sikap Natasa, yang sangat tidak lah sopan pada nya.
Natasa, melihat kakak nya yang duduk di atas lantai dengan menangis tanpa rasa kasihan. Abella, selama ini bertahan dengan adik nya, karena memang hanya Natasa yang dia miliki selama ini.
Meskipun sikap Natasa sangat kasar. Abella, tidak perna mempedulikan nya. dia menganggap Abella, masih sangat labil. seolah Abella, lupa kalau Natasa dan Abella, tidak beda jauh.
"Kak, kamu jangan sok menangis disini! aku peringatkan, jangan mencoba mendekati teman-teman ku, karena mereka semua orang berpendidikan! jangan membuat ku malu di sekolah" ucap Natasa dengan menendang kaki Abella.
Dhukk.
Hiks
Hiks
Hiks.
Abella, menangis sesenggukan di atas lantai dingin kamar nya. dia, memukul d**a nya sendiri. dia, tidak tahan dengan sikap Natasa, tapi Natasa satu-satu nya.
Abella, menatap kepergian Natasa dengan gaya sombong nya. Natasa, tidak melihat Abella sebagai kakak, tapi seperti mesin pencetak uang nya.
"Bel, lihat bagaimana aku akan membuat kamu merasa tidak pantas untuk Mas Alex" batin Natasa dengan menutup pintu kamar Abella dan Alex.
Natasa sangat iri dengan Abella yang muda bergaul dengan teman-teman nya. bahkan empat teman-teman nya, terlihat akrab dengan Abella.
Belum, lagi cara Abella berbicara, bercanda, tawa sangat berkelas, tidak ada kata sombong atau pamer dalam canda tawa nya dengan teman-teman Natasa.
Natasa yang merasa menjadi peran utama, dia tidak rela teman-teman nya asik dengan Abella. Natasa, masih ingin menyombong dan membuat hubungan Putri dan Er tidak baik-baik saja.
Kini, Natasa melampiaskan kemarahan nya pada Abella. sedangkan Abella, dia tidak bisa marah, tidak bisa murka, selain dia hanya bisa menangisi diri nya yang terlalu sayang Natasa.
Abella, duduk termenung di balkon kamar nya. dia memikirkan, mengingat saat dia bercanda tawa dengan teman-teman adik nya. dia, merasa sangat asik dengan kehidupan remaja sesungguh nya.
"Aku, hanya ingin melindungi kamu! jangan sampai kamu, terlibat keributan dengan teman sekelas kamu, tapi apa yang kamu lakukan pada kakak Nat! kamu menghina kakak! padahal selama ini, kakak sangat sayang dan peduli sama kamu" batin Abella dengan mengusap air mata nya yang turun dengan deras nya.
"Apa, seburuk itu Nat, kakak dimata kamu??" batin Abella lagi
Abella, merasa dia selalu salah di depan mata adik nya, tidak lah ada benar nya sedikit pun. Abella, terkadang sangat lelah dengan apa yang Natasa lakukan pada nya. tapi kembali lagi, pada cinta dan sayang Abella untuk Natasa.
Hah..
Abella, membuang napas kasar. dia mengusap air mata yang masih saja menetes. "Sudah lah, tidak semua remaja bisa di samakan! meskipun aku dan Natasa sama" batin Abella menyemangati diri nya, dia kembali memaafkan Adik nya dengan sangat mudah.
Abella, kembali melanjutkan kegiatan nya sebelum sang adik datang membawa kemarahan nya, yang tidak lah jelas. Abella, tidak ingin berpikir terlalu buruk dengan sang adik.
Berbeda dengan Natasa yang masih sibuk dengan pikiran labil nya. dia masih saja mencari cara mendapatkan ketua osis dan juga Kakak ipar nya.
Di sekolah dia ingin paling di puja Er dan saat di Mansion dia ingin yang paling di manjakan Alex dengan segala kekayaan yang dia miliki.
Natasa, begitu sangat ambisius dan mendekati gila. dia ingin meraup dua pria sekaligus dan menyingkirkan kakak kandung nya, yang selalu ada di garda terdepan, saat Natasa, membutuhkan bantuan.