Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit warung kopi milik Mak Ijah seolah sedang berjuang melawan kegelapan yang mengepung desa pinggiran ini.
Desa Waringin Jaya adalah titik terakhir peradaban sebelum jalanan berubah menjadi urat nadi tanah merah yang menembus hutan angker menuju Sukawangi.
Dr. Ari menyesap kopi hitamnya yang mulai dingin. Sebuah peta usang dan tablet digital si depannya, menunjukkan titik buta yang luas.
"Sinyal GPS mati total setelah melewati jembatan kayu di depan, Ustaz. Benar-benar blank spot." Gumam Ari sambil memijat pelipisnya.
Ustaz Ridwan hanya diam. Tangannya sibuk memutar biji tasbih, matanya menatap lurus ke arah jalan setapak yang ditelan kegelapan rimba di seberang warung. "Ini bukan cuma soal geografi, Ari. Ada pagar yang sengaja dibangun untuk menjauhkan mata dunia dari apa yang terjadi di sana."
Ari yang memiliki latar belakang medis dan logika kuat, mencoba tetap rasional. Namun laporan tentang wabah saraf massal yang ia terima dari beberapa pasien rujukan yang berhasil kabur dari Sukawangi membuatnya merinding. Pasien-pasien itu datang dengan tatapan kosong, kulit yang penuh luka cakar aneh, dan ketakutan irasional terhadap cahaya matahari.
"Permisi, Mak," panggil Ari kepada Mak Ijah, pemilik warung yang sejak tadi hanya diam sambil mengelap gelas. "Kami berencana besok pagi mau masuk ke Sukawangi. Menurut Mak, jalan paling aman lewat mana ya?"
Prang!
Gelas di tangan Mak Ijah tergelincir, pecah berkeping-keping di lantai semen. Dua orang lelaki tua yang sedang merokok di pojok warung tiba-tiba berhenti bicara. Suasana yang tadinya cukup bising oleh suara radio tua, mendadak hening.
Wajah Mak Ijah yang keriput tampak memucat. "Mas-mas ini... orang kota, ya? Ada keperluan apa di Sesa Sukawangi?" Suaranya bergetar.
Salah satu lelaki tua di pojok, yang dikenal sebagai Pak Jaka, mematikan rokoknya. Ia bergeser mendekati meja Ari dan Ridwan.
"Mas., dengarin saya baik-baik. Sejak jaman bapak saya, Sukawangi itu bukan lagi bagian dari peta kita. Jaraknya memang cuma empat puluh kilo. Tapi di sana, waktu dan jalan itu punya kemauannya sendiri."
"Maksud Bapak?" tanya Ari sambil menyalakan alat perekam kecil di sakunya.
"Jalan ke sana itu jalan satu arah," lanjut Pak Jaka dengan suara berat. "Banyak yang masuk, tapi yang keluar... kalau tidak gila, ya mayat. Kalaupun hidup, jiwanya sudah tertinggal di sana. Di Sukawangi, hukum Tuhan tidak berlaku. Yang ada cuma hukum dari dia... Ki Panji."
Mendengar nama itu, Mak Ijah langsung melakukan gerakan menolak bala dengan tangannya. "Jangan sebut nama itu di sini, Pak Jaka! Nanti anjing-anjingnya dengar!"
Ari mengernyitkan dahi. "Kami dengar beliau itu dukun sakti yang membantu warga. Apa benar?"
Pak Jaka tertawa pahit. "Sakti? Ya, sakti kalau kau memelihara ribuan jin sebagai kesaktian. Dia itu raja kecil. Dia yang mengatur siapa yang boleh makan, siapa yang boleh menikah, dan siapa yang harus jadi tumbal. Tanah di sana itu haus darah, Mas. Setiap jengkal hutan dijaga oleh Lelembut yang patuh pada perintahnya."
Ustaz Ridwan memperbaiki posisi duduknya. "Apakah ada akses kendaraan, Pak? Kami membawa perlengkapan medis yang cukup berat."
"Mobil?" Pak Jaka menunjuk ke arah luar. "Jeep kalian itu mungkin kuat di lumpur, tapi dia tidak kuat melawan hal lain. Sering terjadi, orang berkendara seharian di jalan tapi pas bensin habis, mereka sadar kalau mereka cuma mutar-mutar di tempat yang sama. Itu namanya Kesasar Ghaib. Dan kalau malam tiba... jangan sekali-kali berhenti kalau dengar suara bayi menangis atau lihat bungkusan putih di tengah jalan. Tabrak saja atau kalian yang akan ikut dibungkus."
Mak Ijah mendekat, suaranya kini berbisik. "Dua bulan lalu, ada mantri dari kabupaten datang ke sana. Katanya mau imunisasi. Tiga hari kemudian, motornya ditemukan di pinggir sungai, tapi orangnya hilang. Seminggu setelah itu, istrinya bilang dia melihat suaminya berdiri di depan pintu rumah malam-malam. Tapi kakinya tidak menyentuh tanah dan wajahnya rata."
Ari merasakan bulu kuduknya berdiri. Sebagai dokter, ia ingin membantah semua ini sebagai halusinasi massal atau legenda urban. Tapi tatapan mata Mak Ijah dan Pak Jaka tampak jujur. Tatapan dari orang-orang yang benar-benar pernah melihat kengerian yang nyata.
"Mas. Kalau Mas sayang nyawa, balik kanan saja besok pagi," ucap Pak Jaka final. "Sukawangi itu bukan desa. Itu adalah penjara jiwa. Ki Panji tidak suka orang asing, apalagi orang pintar yang bawa agama dan obat-obatan. Kalian akan dianggap sebagai pengganggu kenyamanan tuan-tuan ghaibnya."
Malam semakin larut. Dr. Ari dan Ustaz Ridwan kembali ke penginapan kecil mereka di belakang warung. Di dalam kamar yang sempit, Ari memeriksa kembali tas medisnya.
"Ustaz, apa kita benar-benar harus melakukan ini? Omongan warga tadi... tempat itu terdengar seperti wilayah yang sudah dikuasai oleh kultus berbahaya bercampur psikosis massal." Tanya Ari.
Ustaz Ridwan membuka Al-Qur'an kecilnya. "Ari, jika benar apa yang mereka katakan, maka ribuan orang di Sukawangi sedang diperbudak oleh satu manusia yang bersekutu dengan iblis. Tugas kita bukan cuma mengobati fisik, tapi memutus rantai sihir itu. Semakin mereka melarang kita, semakin jelas bahwa di sana ada sesuatu yang sangat busuk yang sedang disembunyikan."
Tiba-tiba dari arah luar jendela penginapan, terdengar suara tawa melengking yang sangat jauh namun tajam. Ari berjalan ke jendela dan membukanya sedikit.
Di antara kegelapan hutan lebat 40 km itu, ia melihat titik-titik cahaya merah yang berkedip-kedip. Seolah-olah ada ribuan mata yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Besok kita berangkat subuh," ucap Ustaz Ridwan tegas. "Jangan bawa keraguan di hati, karena keraguan adalah pintu masuk pertama bagi mereka."
Ari mengangguk, meski tangannya masih sedikit gemetar saat menutup jendela. Di bawah bantalnya, ia menyiapkan sebuah pisau bedah dan sebuah senter. Sementara itu Ustaz Ridwan mulai membacakan ayat-ayat perlindungan, suaranya memenuhi kamar itu.
Di tempat lain, Ki Panji sedang berdiri di teras rumah Joglo-nya. Ia memegang sebuah boneka jerami yang sudah dililit dengan kain kafan. Ia tersenyum menatap arah barat, arah di mana kedua pemuda itu berada.
"Dua jiwa baru... satu membawa logika, satu membawa iman. Akan sangat nikmat melihat logika itu hancur dan iman itu luntur di kaki saya." Gumam Ki Panji.
Ia lalu melempar boneka itu ke dalam bara api. Dan seketika itu juga, lampu di penginapan Ari dan Ridwan pecah berantakan secara bersamaan.