06. Lingkaran Sesat

1322 Words
Matahari pagi yang mengintip dari balik celah pegunungan, tidak mampu mengusir hawa mistis Di Desa Sukawangi. Seolah sudah menjadi bagian dari struktur tanah desa itu. Di sumur desa yang terletak di bawah pohon beringin besar, beberapa wanita sedang sibuk mencuci pakaian. Suasana pagi ini terasa berbeda. Tidak ada gosip riuh tentang harga cabai atau hasil panen. Semua mata tertuju pada dua sosok yang berdiri di ujung pancuran: Lestari dan Dian. Lestari tampak lebih pendiam dari biasanya. Matanya yang jernih kini seringkali terlihat melamun, menatap riak air dengan tatapan kosong. Sementara Dian, sang putri Kades yang dulunya dikenal meledak-ledak, kini bergerak dengan keanggunan yang janggal. Gerakannya lembut, namun ada aura lelah yang terpancar dari wajahnya yang tetap cantik. Saat mereka berpapasan untuk menjemur kain, langkah keduanya terhenti. Secara tidak sengaja, bahu mereka bersenggolan. Sebuah getaran halus seperti aliran listrik statis merambat di antara keduanya. Dian menatap leher Lestari, melihat sebuah memar kemerahan yang samar tertutup selendang. Di saat yang sama, Lestari menghirup aroma dari tubuh Dian—aroma kemenyan dan minyak melati yang sangat ia kenal. Aroma yang selalu tercium dari kamar ritual Ki Panji. "Kau... kau juga...?" bisik Dian terbata-bata. Lestari kaget. Wajahnya memucat, namun ia tidak bisa berbohong. Di bawah pengaruh mantra Ki Panji, kejujuran terhadap sesama korban seolah menjadi dorongan insting. "Ki Panji... beliau menyembuhkanku, Mbak. Katanya sukmaku harus dijaga." Dian tersenyum pahit. Ia menyentuh pundak Lestari. "Kita semua sedang dijaga, Lestari. Dijaga agar tidak pernah bisa pergi." Sebelum percakapan itu berlanjut, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Warga segera menyingkir, memberikan jalan bagi sosok yang paling mereka segani. Ki Panji berjalan dengan tongkat kayu berkepala naga. Di belakangnya, Ratna mengikuti dengan membawa baki berisi kembang setaman. "Hari ini adalah hari pembersihan diri. Kekuatan Banaspati semalam meninggalkan residu hitam di tanah ini. Semua wanita yang merasa tubuhnya tidak enak, harus ikut ke Sendang Biru di kaki bukit untuk ritual jamasan massal." Suara Ki Panji menggema, memberikan perintah yang kedengarannya seperti berkah namun sebenarnya adalah undangan menuju neraka. Warga desa menyambutnya dengan suka cita. Bagi mereka, jamasan massal adalah tradisi suci yang jarang dilakukan. Mereka tidak tahu bahwa Sendang Biru hanyalah panggung bagi Ki Panji untuk memperluas jaringan nafsunya di bawah perlindungan alam terbuka yang tersembunyi. Sendang Biru terletak di ceruk bukit yang rimbun oleh pohon-pohon tua. Airnya yang jernih dan kebiruan tampak begitu tenang, namun konon dihuni oleh sesosok siluman ular yang tunduk pada Ki Panji. Di sekeliling sendang, taburan bunga mawar dan melati sudah disiapkan. Para pria dilarang mendekat dalam radius satu kilometer, membuat tempat itu menjadi wilayah kekuasaan absolut Ki Panji atas para wanita desa. Sekitar sepuluh wanita—termasuk Dian, Lestari, dan Sulasmi yang masih tampak lemas setelah kejadian semalam, sudah berkumpul. Mereka hanya mengenakan kain kemben tipis yang melilit d**a hingga lutut. Kulit-kulit sawo matang itu tampak berkilau terkena pantulan cahaya air sendang. Ki Panji berdiri di pinggir sendang, merapalkan mantra dengan suara rendah yang merdu. Asap kemenyan yang dibakar oleh Ratna mulai menyelimuti area itu, menciptakan kabut tipis yang memabukkan. Satu per satu, wanita-wanita itu masuk ke dalam air yang dingin. "Ritual ini bukan sekadar mandi," ujar Ki Panji sambil melangkah masuk ke dalam air tanpa melepas kain jariknya. "Air ini adalah s****a bumi yang akan menyucikan rahim kalian. Jangan menolak jika air ini terasa hangat di tubuh kalian, karena itu adalah tanda bahwa kotoran ghaib sedang luntur." Mantra Aji Asmara Dahana kali ini ia sebarkan secara massal melalui media uap kemenyan dan getaran suara. Para wanita itu mulai merasa pening. Kesadaran mereka perlahan terkikis, digantikan oleh rasa nyaman dan gairah yang tidak pada tempatnya. Ki Panji mendekati Sulasmi terlebih dahulu. Di tengah kedalaman air yang setinggi pinggang, ia merangkul pinggul Sulasmi. Di depan mata wanita-wanita lain yang sedang dalam kondisi setengah sadar, Ki Panji mulai melakukan perbuatan cabulnya. Ia membelai d**a Sulasmi yang montok di balik kain kemben yang basah dan transparan. Sulasmi hanya bisa mengerang pelan, kepalanya tersandar di bahu Ki Panji. "Lihatlah, ini adalah bentuk penyaluran energi," ucap Ki Panji kepada yang lain. "Siapa lagi yang merasa dadanya sesak?" Dian yang pengaruh mantranya paling kuat, melangkah mendekat seolah ditarik oleh magnet. Ia berdiri di sisi lain Ki Panji. Tanpa malu, Dian melepaskan ikatan kembennya hingga kain itu mengapung di permukaan air. Memperlihatkan keindahan tubuhnya yang atletis dan kencang. Ia ingin disucikan lagi, ia haus akan sentuhan pria yang telah merampas akal sehatnya itu. Ki Panji tertawa puas. Di tengah sendang keramat itu, ia benar-benar berpesta. Tangannya bekerja dengan liar, satu membelai Sulasmi, satu lagi meremas p******a Dian. Ia seolah ingin menunjukkan bahwa di tempat ini, moralitas adalah sampah. Para wanita lain yang melihat pemandangan itu bukannya merasa jijik, justru merasa iri dan ingin mendapatkan giliran yang sama. Mantra hitam itu telah merusak kewarasan mereka. Ki Panji menarik Dian ke arah sebuah batu besar yang menonjol di tengah sendang. Di atas batu yang licin dan basah itu, ia membaringkan Dian. Sulasmi diperintahkan untuk memijat kaki Ki Panji sementara ia mulai mencabuli Dian dari depan. Di bawah langit yang tertutup rimbunnya pohon, adegan liar itu terjadi dengan sangat intens. Suara deburan air beradu dengan desahan napas yang memburu. Dian melengkungkan punggungnya, menerima setiap hentakan Ki Panji dengan nafsu yang meledak-ledak. Ia berteriak memanggil nama sang dukun dengan pemujaan yang gila. Lestari yang masih muda hanya bisa menonton dengan wajah merah padam, tangannya meraba tubuhnya sendiri, ikut terangsang oleh atmosfer yang diciptakan Ki Panji. "Semua akan menjadi milikku! Kalian adalah pelayan setiaku!" Teriak Ki Panji di tengah klimaksnya. Setelah puas dengan Dian, Ki Panji tidak berhenti. Energinya yang baru saja pulih dari Banaspati seolah tak ada habisnya. Ia beralih ke Lestari, menarik gadis muda itu ke dalam pelukannya. Di dalam air yang dingin, ia merenggut kepolosanLestari sekali lagi. Membiarkan gadis itu merasakan kebuasan yang lebih besar dari malam pertamanya. Ritual jamasan itu berubah menjadi pesta pora birahi yang gila. Ki Panji memperlakukan wanita-wanita itu seperti ternak, berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya tanpa sedikit pun merasa lelah. Ia menikmati setiap tetes keringat dan air mata yang jatuh ke dalam sendang. Baginya, setiap tetesan cairan kenikmatan dari wanita-wanita ini adalah persembahan bagi ilmunya agar tetap abadi. Ritual itu berakhir menjelang sore. Para wanita keluar dari sendang dengan wajah yang tampak berseri namun kosong. Mereka merapikan pakaian mereka, saling diam. Namun di dalam hati mereka masing-masing telah tertanam benih ketergantungan pada Ki Panji. Ki Panji kembali ke singgasana batunya di pinggir sendang. Ia menatap mereka satu per satu. "Kalian sudah bersih. Sekarang kembalilah ke rumah masing-masing. Jadilah istri dan anak yang baik. Tapi ingat, jika tubuh kalian terasa panas lagi, hanya Sendang ini dan aku yang bisa mendinginkannya." Warga desa yang menunggu di batas radius menyambut kepulangan mereka dengan sujud syukur. Mereka melihat istri dan anak mereka pulang dengan wajah yang segar, mengira bahwa Ki Panji benar-benar telah membuang sial dari tubuh mereka. Pak Kades menyalami Ki Panji dengan penuh haru, tidak tahu bahwa putrinya baru saja digilir secara brutal di atas batu keramat. Ki Panji berjalan pulang dengan langkah yang semakin kokoh. Kekuasaannya di Sukawangi kini telah mencapai puncaknya. Ia memiliki akses ke rahim setiap keluarga penting di desa itu. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa menantangnya. Di kamar penginapan desa tetangga, Ustaz Ridwan sedang bersujud dalam shalatnya. Ia merasakan sebuah kegelapan yang sangat pekat menyelimuti arah timur, arah di mana Desa Sukawangi berada. Dr. Ari sedang memeriksa data-data kesehatan warga desa sekitar yang menunjukkan pola penyakit yang aneh—banyak wanita muda yang mengalami gangguan saraf dan hormon secara masal. "Ada yang tidak beres di desa itu, Ari." Ucap Ustaz Ridwan setelah salam. "Bukan sekadar klenik biasa. Ini sudah menjadi syirik yang merusak jiwa." "Data medis juga tidak masuk akal, Ustaz. Kita harus masuk ke sana besok pagi. Apapun risikonya," jawab Dr. Ari tegas. Ki Panji tiba-tiba tersedak rokok kreteknya ketika sedang bersantai di rumahnya. Ia merasakan sebuah getaran asing. Sebuah doa yang kuat mulai mengetuk pagar ghaib desanya. Ia tersenyum sinis, matanya berkilat merah. "Datanglah... aku punya tempat di gudangku." Gumamnya jahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD