Meski perayaan Sedekah Bumi baru saja usai. Sore itu hawa dingin yang menusuk tulang justru semakin menjadi-jadi.
Di warung kopi milik Mbak Ratna, para lelaki desa berkumpul, membicarakan tuah Ki Panji yang mereka anggap telah membawa keberkahan. Namun, obrolan itu terhenti seketika saat sebuah teriakan histeris dari arah pinggiran hutan larangan.
"Tolong! Sarman jadi gila! Sarman kesurupan!" teriak Wak Tompel, salah satu tetua desa yang lari terbirit-b***t dengan kain sarung yang tersingkap.
Warga segera berhamburan menuju sumber suara. Di depan sebuah rumah panggung yang sederhana, Sarman—seorang penebang kayu bertubuh kekar—tengah mengamuk hebat. Matanya putih sepenuhnya, urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon tua yang melilit.
Tubuh Sarman mengeluarkan hawa panas yang sanggup membuat rumput di sekitarnya langsung menguning seketika. Ia menghantamkan kepalanya ke tiang rumah hingga kayu jati menjadi retak, namun ia sendiri tidak terluka sedikit pun.
"Itu Banaspati! Dia merasuki Sarman!" bisik warga dengan gemetar.
Tidak ada yang berani mendekat. Sarman melolong, suaranya mirip geraman binatang buas yang haus darah.
Di tengah kepanikan itu, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Warga segera membuka jalan, memberikan ruang bagi sang penyelamat.
Ki Panji datang dengan tenang, hanya membawa sebatang keris kecil yang terselip di pinggang dan sebuah bumbung bambu berisi air raksa. Wajahnya datar, seolah amukan iblis di depannya hanyalah gangguan kecil baginya.
"Mundur kalian semua! Jangan biarkan bayangan kalian menyentuh kakinya!" perintah Ki Panji dengan nada yang tinggi.
Sarman atau makhluk di dalam tubuhnya, seolah merasakan ancaman. Ia berbalik dan menatap Ki Panji. Pria kekar itu melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menerjang ke arah sang dukun. Namun Ki Panji hanya menggeser kakinya sedikit. Dengan satu gerakan tangan yang cepat, ia menghantam tengkuk Sarman sambil merapalkan mantra Aji kulhu Geni.
Blar!
Sebuah percikan api ghaib terlihat sesaat saat tangan Ki Panji bersentuhan dengan kulit Sarman. Bau rambut terbakar menyeruak. Sarman terpelanting, bergulingan di tanah sambil melolong kesakitan. Tubuhnya mengepulkan asap hitam yang sangat pekat.
"Keluar kau, penghuni hutan! Tempatmu bukan di sini!" bentak Ki Panji. Ia mencabut kerisnya, ujung logam hitam itu berpendar kebiruan.
Pertempuran itu berlangsung sengit secara batiniah. Ki Panji harus mengerahkan tenaga dalam yang besar untuk menekan kekuatan Banaspati yang mencoba membakar sukma Sarman dari dalam. Keringat mulai membasahi dahi sang dukun.
Ia tahu, ini bukan setan sembarangan. Ini adalah kiriman dari penunggu hutan yang merasa sesajen saat Sedekah Bumi masih kurang memuaskan.
Setelah pergulatan selama hampir setengah jam, Sarman akhirnya ambruk. Asap hitam terakhir keluar dari mulutnya dan terbang menghilang menuju arah hutan. Warga bersorak, kemudian segera sujud syukur melihat Sarman yang kini terbaring tak berdaya namun masih bernapas.
"Bawa dia masuk. Beri minum air rendaman bunga kantil," ucap Ki Panji dengan napas yang tersengal.
Ia segera berbalik, tak ingin warga melihat wajahnya yang mulai pucat. Energinya terkuras habis. Iblis itu memang keluar, tapi ia meninggalkan sisa racun ghaib di dalam tubuh Ki Panji.
Ki Panji berjalan cepat menuju rumahnya. Ia membutuhkan penawar untuk dirinya. Di Sukawangi, penawar bagi energi hitam yang panas hanyalah energi murni dari seorang wanita yang masih memiliki ikatan batin dengannya.
Begitu sampai di rumahnya, ia melihat Sulasmi—istri Sarman, yang sudah menunggu di teras dengan wajah penuh kecemasan. Sulasmi adalah wanita berusia dua puluh lima tahun dengan tubuh yang sintal dan d**a yang membusung, tipikal wanita desa yang subur dan montok.
"Ki... bagaimana keadaan suami saya?" tanya Sulasmi sambil mengejar Ki Panji masuk ke dalam rumah.
Ki Panji tidak menjawab sampai mereka berada di dalam kamar ritual yang kedap suara. Ia berbalik dan menatap Sulasmi dengan mata yang merah karena panas ghaib yang membakar gairahnya.
"Suamimu selamat, tapi iblis itu meninggalkan kutukan di tanganku. Jika tidak segera dipindahkan, tangan ini akan busuk. Dan aku tidak akan bisa lagi melindungi desa ini."
Sulasmi gemetar. "Apa yang harus saya lakukan, Ki? Saya akan lakukan apa saja agar Ki Panji tetap bisa menolong kami."
Ki Panji tersenyum nakal. Ia mendekati Sulasmi, memegang kedua pundak wanita itu. Hawa panas dari tangan Ki Panji menembus kain kebaya tipis yang dikenakan Sulasmi, membuat wanita itu mendesah pelan karena sensasi yang aneh.
"Kau harus menjadi wadah penawar, Sulasmi. Hanya rahim seorang istri yang tulus yang bisa menyerap racun ini dan mengubahnya menjadi energi murni bagiku." Dusta Ki Panji dengan nada yang sangat meyakinkan.
Mantra Aji Asmara Dahana kembali ia rapalkan, kali ini lebih kuat karena bercampur dengan sisa energi Banaspati. Sulasmi merasa kepalanya pening, pandangannya terhadap Ki Panji berubah. Sosok dukun itu tampak begitu perkasa, begitu tampan, dan begitu ia butuhkan.
Secara tidak sadar, Sulasmi membiarkan tangan Ki Panji merayap ke bawah, meraba lekuk pinggulnya yang lebar.
"Buka pakaianmu, Nduk. Biarkan berkah ini masuk ke dalam dirimu," perintah Ki Panji.
Sulasmi yang sudah di bawah pengaruh mantra dan rasa hutang budi yang besar, mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu. Tubuh polos Sulasmi tampak begitu menggoda—seorang wanita dewasa yang sudah matang. Ki Panji segera menanggalkan jubahnya dan mendorong Sulasmi ke atas amben kayu.
Nafsu yang bercampur dengan energi liar iblis membuat Ki Panji bergerak lebih buas dari biasanya. Ia menghantam Sulasmi dengan kekuatan yang luar biasa. Setiap desahan Sulasmi terdengar seperti musik di telinganya.
Racun ghaib yang tadi membakar darahnya kini seolah tersalurkan ke dalam tubuh wanita itu melalui penyatuan yang intens.
"Ahhh... Ki... Panas... tapi enak..." gumam Sulasmi dengan mata terpejam rapat. Ia merasa seolah tubuhnya sedang dibakar oleh api gairah yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya yang kasar.
Ki Panji terus bergerak. Mengeksplorasi setiap inci tubuh Sulasmi, memastikan bahwa wanita ini akan menjadi koleksi tetap di dalam jaringan haremnya. Ia memainkan peran sebagai penguasa dan pemuas secara bersamaan.
Di dalam kamar itu, kehormatan Sulasmi dirampas dengan dalih pengorbanan untuk suami, sementara di luar, warga masih memuja-muja nama Ki Panji sebagai pahlawan yang mengalahkan Banaspati.
Satu jam penuh gairah itu berlalu dengan klimaks yang menggetarkan seluruh ruangan. Ki Panji ambruk di atas tubuh Sulasmi yang berkeringat, merasa energinya telah kembali pulih sepenuhnya—bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Sisa energi iblis itu kini telah ia jinakkan dan ia simpan di dalam batinnya sebagai kekuatan baru.
"Sekarang kembalilah pada suamimu. Jangan ceritakan apa yang terjadi di sini, atau kutukan itu akan kembali pada Sarman." Ancam Ki Panji sambil merapikan pakaiannya.
Sulasmi hanya bisa mengangguk pasrah, ia merasa tubuhnya kini telah ditandai oleh Ki Panji. Ia merasa tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang sang dukun, bahkan saat ia tidur di samping suaminya nanti.
Setelah Sulasmi pergi, Ki Panji berdiri di depan cermin besar. Matanya kini bersinar lebih terang. Ia tertawa pelan.
Desa ini benar-benar telah menjadi kebun pribadinya. Di mana ia bisa memetik bunga apa pun yang ia inginkan, kapan pun ia mau, dengan alasan suci apa pun yang ia buat.
Ia menatap ke arah hutan larangan melalui jendela. "Kirimkan lebih banyak iblis, biarkan mereka takut, agar mereka semakin membutuhkanku." Batinnya jahat.
Sementara itu di kejauhan, di luar batas Desa Sukawangi, Dr. Ari dan Ustaz Ridwan baru saja turun dari kendaraan mereka di sebuah penginapan kecil di desa tetangga. Mereka mulai mendengar cerita-cerita aneh tentang Sukawangi dan dukun saktinya.