Ke Mana Penghuninya?

1101 Words
Menutupi luka paling ampuh adalah dengan senyuman. Satu trik sederhana yang bisa diterapkan bagi Sarmila saat ini. Dia berdiri di depan cermin lantas menarik napasnya dalam-dalam sampai paru-parunya terisi penuh oleh oksigen dan menahannya selama 10 detik lantas ... “Hah!!! Hah!!! Hah!!!” Dia mengeluarkan napasnya kuat-kuat. Sarmila masih memandangi wajahnya di cermin. Dia sudah waktunya merubah diri. Batinnya tengah mempertegasnya saat ini. Wajahnya nampak tirus, semakin tirus sampai terbilang tak terurus. Sarmila mengasihani dirinya sendiri saat ini. tangannya menggenggam gunting tajam dan mengarahkannya pada rambut panjang sepinggul miliknya. Jari-jarinya perlahan menyisir, dia mempertahankan rambut panjangnya karena mantan suaminya menyukainya. “Cih, persetan!” desisnya kasar sambil mulai menggunting sejumput demi sejumput rambut berharganya itu. Dia sudah mengguntingnya sampai sebahu. Ringan! Setidaknya dia tengah membuang beban hidup dan masalahnya saat ini. Dunia tak akan pernah berhenti berputar, bagaimanapun juga. hidupnya berada di bawah lalu di atas dan sekarang kembali ke bawah lagi. Dia harus berpikir realistis tanpa ada khayalan dalam imbuhannya. Sudah waktunya, dirinya bangkit. *** Tok! Tok! Tok! “Mila, dipanggil Ibu,” panggil Dion yang diminta untuk memanggilkan sepupunya itu. “Iya, sebentar Dion!” teriak Sarmila dari dalam kamarnya. Dion segera berbalik, berniat turun kembali namun ... Tubuhnya spontan berputar saat terdengar pintu kamar itu terbuka. Cklek! “Ya, Dion?” Pria berusia satu tahun lebih tua dari Sarmila itu membeku, matanya tak berkedip memandangi sosok sepupunya saat ini. Dia ... Blush! Dion memanas! Sarmila menghampiri Dion sambil tersenyum lebar. Matanya bahkan sedikit menyipit dan lesung pipinya timbul sampai memberikan efek kejut pada jantung pemuda itu saat ini. Sarmila menghampiri Dion, dia memandang sepupunya. “Dion, ayo!” ajaknya untuk turun. Tanpa sadar, pria berambut cepak itu sampai tak bernapas. Dia lupa caranya saat maniknya menangkap Sarmila yang cantik saat ini. “Cantiknya,” gumamnya pelan seiring Sarmila yang sudah menuruni tangga terlebih dahulu. “Aduh! Ya Tuhan! Ada apa denganku?!” akunya sambil memegangi jantungnya yang tak jua berhenti berdetak normal. Dion mengingat jelas bagaimana dulu Sarmila begitu suram wajahnya saat pertama kali datang. Entah, karena dirinya yang memang tak menyadari kecantikan sepupunya itu atau memang dirinya terlalu abai sampai baru menyadari betapa ayunya Sarmila. Dion memilih untuk buru-buru turun dari atas. Dia tak bisa berlama-lama di lantai dua karena memang itu khusus untuk wanita yang notabenenya adalah penghuni Kost. Sarmila menghampiri Lina yang tengah berkutat di dapur saat ini. Dia mengambil satu baskom yang dibawa oleh Lina. “Ada apa Tante?” tanyanya. Tanpa diminta, Sarmila sudah mengaduk adonan berisi tepung dan air itu saat ini. “Nanti sore, bisa Tante minta tolong untuk antarkan makanan ke tetangga sebelah?” Sarmila mengangkat wajahnya. “Tetangga sebelah?” beonya. Lina mengangguk. “Tetangga sebelah yang rumahnya kaca semua itu Tan?” Sarmila mencoba memastikan tempat yang dimaksud oleh Lina. “Iya, Ibunya Gentala tadi minta tolong ke Tante untuk membuatkan makanan,” tutur Lina sambil menyiapkan rantang. “Gentala?” Sarmila masih belum tahu siapa yang dimaksud oleh Lina. “Iya, tetangga sebelah itu namanya Gentala, Mila ....” “Oh ... iya, iya, siap Tante!” Sarmila yang fokus membantu Lina menggoreng ayam diperhatikan terus menerus oleh Lina dari belakang. “Kamu potong rambut??” tanyanya. “Iya, Tan. Acak-acakan ya?” “Gampang, nanti minta Dion bantu rapikan aja.” Mereka sudah saling mengobrol, lebih tepatnya Lina yang banyak berbicara dan Sarmila hanya mendengarkan saja. “Mila, nanti kamu kalau sudah kerja jangan lupa cari cowok yang lembut hatinya, ganteng dan yang terpenting jangan beristri! Ingat itu! Dulu Bapakmu itu terlalu kolot sampai bisa-bisanya menjodohkanmu sama si terigu Cakra kembar itu!” Lagi-lagi Lina tengah menggerutu, menyayangkan kehidupan Lina. Lina terkekeh mendengarnya. Dia baru tahu kalau terigu memiliki nama seperti itu. “Iya Tan, nanti deh ... aku kan nggak tau gimana mau melamar kerjanya,” timpalnya. “Gampang, nanti tante coba tanya sama Gentala deh, siapa tahu ada lowongan,” balas Lina masih bersemangat mengajak Sarmila berbincang-bincang. Sarmila segera mengikat rambut sebahunya agar tak semakin berkeringat. Hidup di Jakarta rupanya lebih panas daripada di Bogor. Keringatnya sampai mengucur deras tanpa henti. “Sudah nih, sana antarkan!” perintah Lina yang menyodorkan rantang berisi banyak makanan. “Iya Tante.” *** Wanita muda itu tampak mendongak, menganga melihat gerbang besi yang tertutup. Dia bingung bagaimana cara membuka gerbang si rumah tetangga yang setinggi 2 meter itu saat ini? Sarmila berkali-kali mencari bel untuk ditekannya. Dia tak katrok-katrok amat soal bel, namun dia tak menemukannya sama sekali. Diletakkannya rantang di jalanan semen, lantas dirinya berjongkok untuk sedikit mengintip ke dalamnya. Barangkali ada orang. Sarmila kebingungan bukan main. “Dimana sih belnya?!” ketusnya karena sudah merasa kesal. Ingin pulang dan mengadu pada Lina, nanti malah ditertawakan. Ingin lanjut mengetuk si gerbang, tapi tak mungkin dapat didengar kalau mengetuk dengan jari-jari kurusnya itu. “Duh! Ini gerbang bikin susah orang!” omelnya. “Neng, mau masuk ya?” “Eh, copot-copot! Ayam-ayam!” Spontan Sarmila latah saat ada suara cempreng dari arah belakangnya. Dia memutar tubuhnya sambil memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. “I—iya Bu, saya bukan mau maling kok, ini saya bingung gimana buka pagarnya,” ucap Sarmila dengan penuh kejujuran. Dia tak mau dituduh jadi maling saat ini. “Oh, sini, saya bantu,” tukas wanita gempal yang sudah berumur itu. Sarmila memerhatikan bagaimana tangan ibu itu masuk melalui kotak kecil yang ternyata lubang untuk menekan kuncinya. SREEEGGG!!! GREG! GREG! “Ajaib banget si Ibu!” pekiknya merasa senang saat gerbang itu terbuka lebar. Sarmila bertepuk tangan dengan hebohnya saat ini. Prok! Prok! Prok! “Hebat si Ibu! Bisa buka gerbangnya!” Wanita yang membantu Sarmila hanya tertawa saja, lantas kembali pergi meninggalkan Sarmila yang masih takjub dengan pintu gerbang ajaib itu. “Udah kayak Aladin aja, abra kadabra!” Sarmila pun mulai melangkah masuk dengan menenteng rantang makanannya. “Wuahhh! Gila! Keren banget!!!” Lagi-lagi Sarmila memekik tak percaya saat melihat sekelilingnya. Dia kira akan biasa saja, rupanya rumah tetangganya itu benar-benar mewah! Sarmila menengok kanan kirinya, namun tak ada satu pun orang yang ada di halaman rumah itu. Dia bingung, ingin lanjut masuk saja atau ... kembali pulang? Tapi ... ini amanat dari Tantenya, lantas? Sarmila menghela napasnya pelan. Dia kemudian mencoba berkeliling, dan mencoba mencari tahu penghuninya. “Kenapa sepi banget sih ini rumah?! Gimana coba kalau dimaling? Atau ini rumah gede tapi kosong melompong!” ketusnya masih mencoba mencari tahu. Sarmila mencoba melihat dari dinding kaca itu, dia menyipitkan matanya, mencoba mencari tahu pemiliknya. “Hei! Sedang apa kamu mengintip begitu?!” Suara bass mengejutkan Sarmila. “Emonyong!!! Monyong!” Sarmila kembali latah. Dia berbalik dan menganga ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD