Panggil Saja Bapak

1064 Words
Semua mata memandangi perempuan yang baru turun dari lantai dua itu saat ini. Keluarga bibi Sarmila tengah sarapan dan Sarmila baru turun usai mendengar alarm dari ponselnya bernyanyi sumbang. Lina melihat jelas bagaimana mata Sarmila bengap usai menangis semalam. “Eh, sudah bangun, Mila?” tanya Lina yang menyambut kedatangan keponakannya itu.   Sarmila tersenyum canggung. Apalagi di saat kedua sepupunya yang bahkan hanya Meydina, sepupu kecil yang pernah ditemuinya dan entah siapa namanya untuk sepupu laki-lakinya itu. “Iya Tante, maaf baru bangun,” selanya masih meringis. Sudah numpang, malah jadi bangun siang. Memang pantaslah dia tak tahu diri di sini. “Nggak apa-apa Mila, ayo duduk, sarapan dulu,” ajak Lina yang menyodorkan piring bersih kepada Sarmila.   “Udah lama ya, kamu beda banget, Mila,” timpal sepupu Mila, Meydina. Sarmila menatap lama wajah Meydi, si perempuan cantik dengan tubuh tinggi semampai dan berwajah arab. Rambut keritingnya bahkan tak bisa dikatakan jelek* saat wanita itu kini beranjak dewasa. “Iya, kita baru ketemu lagi sekarang. Pangling aku!” Meydi ikut tersenyum. Merasakan keduanya yang sesama perempuan dan baru bertemu di usia dewasa adalah hal rumit. Mata Sarmila beralih memandang adik Meydi. Dia bingung, bagaimana caranya menyapa anak laki-laki itu.   “Ekheum! Aku juga mau kali disapa,” celetuk laki-laki berambut cepak yang duduk di samping Lina saat ini. Sarmila mendadak mengulas senyumnya. “Hai, maaf ya, belum tahu namamu,” balasnya. Sarmila mengambil duduk di samping Meydi. Dia melihat paman iparnya tak banyak bicara, lebih asyik dengan makanan yang dimasak oleh istrinya tentu saja. “Nggak apa-apa kok, wajar aja! Aku juga baru tahu kalau punya sepupu.” Laki-laki itu kembali tertawa renyah. “Panggil aja Dion,” imbuhnya. Pletak! “Aw! Bapak kenapa malah pukul Dion deh?!” Sendok yang berada di tangan Karyo dipukulkan ke kepala putranya sendiri. “Nggak usah banyak tingkah! Kamu itu  udah telat kuliahnya!” omel Karyo.   Sarmila hanya tersenyum saja menyaksikannya. “Halah! Kayak Bapak dulu ngga pernah telat aja!” gerutu Dion yang kini misuh-misuh. Lina hanya menggelengkan kepalanya saja, dia tak habis pikir dengan ayah dan anak itu. Selalu ribut di meja makan seperti biasanya. “Sudah, sudah, dimakan dulu Mila, kamu pasti laper.” Kali ini Lina menjadi penengah agar keributan itu tak berlanjut. ***   “Maafkan Tante, Tante tidak tahu kabarmu sama sekali,” ucap Lina penuh penyesalan usai Sarmila menceritakan apa yang tengah menimpanya itu. “Nggak apa-apa Tan, justru aku yang merepotkan karena berujung numpang di sini,” tutur Sarmila dengan penuh rasa tak enak hati. “Alah! Kamu ini, kayak sama siapa aja, sudahlah, nggak apa-apa kok, kamu di sini aja, cari kerja. Lupain itu laki-laki pilihan ayahmu itu! Kamu yang cantik begini malah disia-siakan! Kalau sampe itu Kunyuk ketemu sama Tante, habis dia jadi perkedel!” murka Lina yang sudah memperlihatkan marahnya saat ini. Sarmila berpikir, seharusnya dia yang marah tapi kenapa jadi malah tantenya begini? Wanita itu hanya meringis saja mendengar makian dari mulut Lina.   “Kamu itu masih cantik, muda, masih panjang hidupmu! Nggak usah kamu pikirkan itu manusia laknat! Lagian, jadi janda nggak salah kok, move on, yang lalu biarkan jadi pelajaran.” Lagi-lagi Lina mencoba menghibur Sarmila. Tangannya mengelus lembut kepala Sarmila. Membelainya seolah-olah menggantikan tangan halus mendiang Ibu dari wanita muda itu saat ini. Sarmila mendadak menjadi rindu dengan ibunya. Dia sudah kembali menangis, mengingat kehidupan pahitnya sendiri.   “Huaaa!!! Tante! Hiks ... hiks ....” Sarmila semakin terisak hebat. Lina menyerah, dia meringis juga memikirkan apa yang menimpa keponakannya itu saat ini. tangannya dengan suka rela memeluk Sarmila. Membiarkan Sarmila menikmati kesedihannya dulu. ***   Satu bulan merupakan waktu yang berat bagi Sarmila. Dia yang sedikit banyaknya tengah bersedih merasa tak enak hati karena menumpang hidup dengan keluarga Lina, tantenya. Lina adalah satu-satunya keluarga dekat yang tersisa usai kepergian kedua orangtuanya. Perjodohan di Kampung ketika dirinya berusia 18 tahun merupakan hal biasa di sana. Menikah muda bukanlah sebuah hal buruk ataupun trending topic. Melainkan memang sebuah stigma orang Kampung yang memaksakan pendapat kepada anaknya. Maka salah satu korbannya adalah Sarmila. Sarmila ingin sekali memaki ayahnya saat itu. Namun, beralasan menjadi anak berbakti, akhirnya dia menyetujui untuk dinikahi oleh Cakra, pria dewasa yang sudah memiliki satu istri. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah tertimpa tangga, encok pula! Begitu pribahasa untuk hidupnya saat itu. Pernikahannya juga ditentang oleh Lina, Tantenya, adik dari Ibunya saat dua tahun yang lalu. Namun, pemikiran kolot dari mendiang ayahnya  menjadikannya korban yang tak patut dikasihani.   Sarmila masih saja melamun. Dia duduk di kursi balkon lantai dua, menyerong ke samping memandangi rumah megah yang selalu dikaguminya itu. Lagi-lagi, rumah berhiaskan kaca sebagai dindingnya menjadi laternatif self healing baginya saat ini. Wanita itu duduk meringkuk, dengan lutut tertekuk dan wajahnya tenggelam di lengannya yang berlipat saat ini. Matanya berkedip-kedip satu frekuensi konstan. Dia tak jemu untuk melamun dengan pemandangan rumah megah nan unik itu.   “Ehem! Mila.” Suara bass membangunkan Sarmila kembali ke dunia nyata. Dia mengangkat kepalanya, menoleh dan mendapati Karyo yang berdiri di sampingnya. “Eh, iya Om?” sahutnya. Karyono tersenyum ramah, dia menarik kursi dan duduk di samping Sarmila. “Sudah merasa baikan untuk satu bulan ini?” tanyanya kembali. Sarmila tertawa canggung, dia mengusap tengkuknya dan duduk dengan sopan menurunkan kedua kakinya. “Hehe, Om tau aja,” balasnya.   Keduanya sama-sama terdiam beberapa saat. Tak ada yang bersuara selain satu kamar yang ditempati anak Kost tengah menyalakan televisi sampai suara maksimum, suaranya terdengar sampai luar. Sarmila bingung mau berbicara apa. Dia tak dekat dengan suami Lina, namun tak juga jauh. Hanya masih canggung saja.   “Apa kegiatanmu ke depannya, Mila?” Sarmila terhenyak. Dia bingung, menatap Karyo sambil menggelengkan kepalanya pelan. Karyo tersenyum. “Om memang tak tahu banyak tentangmu, tapi ... anggaplah Om ini sebagai pengganti Ayahmu ya?” Satu kalimat yang membuat Sarmila membisu dan akhirnya menyunggingkan senyuman. Senyum senang karena Karyo menerimanya. “Iya Om, makasih ...,” ucapnya pelan.   Karyo masih memandang Sarmila, dia merasa miris, kasihan dan juga iba atas apa yang terjadi menimpa wanita muda itu. Rasanya dia merasa seperti Meydina yang mengalami hal itu sangatlah menyakitkan. “Panggil saja Bapak, sama seperti Dion dan Meydi ya?” Lagi-lagi Karyo melangkah, mendekatkan diri pada Sarmila yang sudah sebulan ini tinggal dengannya. Sarmila tertegun mendengarnya. Wajah teduh Karyo yang menatapnya seolah menjadi satu pukulan telak akan rasa rindunya kepada kedua orang tuanya saat ini. “Ba—bapak,” gumamnya tersendat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD