Umur 20 Tahun

1087 Words
“Sudah sampai, Bu,” sela sang sopir yang mengantarkan Sarmila ke tujuannya. “Iya Pak, terima kasih ya?” balas Sarmila dengan suara paraunya.   Mobil itu berlalu, meninggalkan Sarmila yang berdiri di depan rumah sederhana dengan papan bertuliskan ‘Kost Haji Arip’. Dia menghela napasnya sesaat sebelum akhirnya memantapkan diri untuk mengetuk pintu rumah itu.   Tangan Sarmila terangkat, dengan jari tertekuk, dia membenturkan jarinya ke daun pintu. Tok! Tok! Tok! “Assalamu’alaikum,” salamnya. Sarmila berdiri dengan kaku, kaki kanannya menggaruk kaki kirinya. Nyamuk-nyamuk di sini dengan ganasnya menghisap darahnya sampai terasa gatal.   Sarmila melihat ponselnya, sudah pukul 22.30 rupanya. Pantaslah jika pemilik rumah tertidur. Wanita itu berbalik, dia sedikit minggir lantas berjongkok sambil memeluk dirinya sendiri. Berharap si pemilik membukakan pintu untuknya.   “Wa’alaikumsalam, siapa ya?” Terdengar suara ibu-ibu yang meresponnya. Sarmila segera berdiri kembali di depan pintu. Cktak! Ctak! Dua putara kunci terdengar. Cklek! “Siapa ya? Eh—” Belum sempat Sarmila memberikan jawabannya, seorang ibu muda terpaku melihat sosoknya.   Ibu muda berkerudung panjang itu memandang intens Sarmila dari atas sampai bawah. Sarmila semakin tersenyum kaku karenanya. Mata ibu-ibu itu kembali memandang wajah Sarmila. Maniknya membulat dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya. “Sarmila?!” pekiknya tak percaya. “Assalamu’alaikum, Tante,” sapa Sarmila kembali sambil meraih punggung tangan wanita tiga puluh tahunan itu. “Sarmila!” Lagi-lagi, Ibu itu kembali memanggil namanya. Sarmila masih memajang senyuman lebarnya, meski matanya sudah membengkak akibat tangisannya sepanjang jalan.   Ibu itu kembali meneliti wajah keponakannya yang sudha lama tak dijumpai olehnya. Sarmila berubah menjadi gadis cantik di matanya. Tubuhnya semakin tinggi semampai, dengan rambut ikla terikat. Namun, wajahnya tirus dan pandangan matanya nanar. Menandakan sang keponakan tak bahagia. Bahkan rona wajahnya tak nampak, hidung bangirnya memerah dan bibirnya sudah pucat dan pecah-pecah. “Ya Allah, Nak Mila!” “Tante Lina, hiks ... hiks ....” Pecah sudah tangisan Sarmila saat adik dari mendiang Ibunya itu kini memeluknya erat. Dia kembali menangis di pundak sang Bibi. “Ya Allah, kemana aja kamu Nak ... ayo masuk! Masuk!” ajak Wanita yang dipanggil tante Lina itu.   Sarmila masih duduk dipeluk Lina, dia sudah meredakan tangisannya saat ini. sampai-sampai suami Lina dan anak-anaknya ikut keluar mendengar keributan kecil dalam rumah itu. Mereka menonton Sarmila yang menangis di pelukan Ibunya saat ini. Anak-anak Lina, yang merupakan sepupu Sarmila saling sikut, beradu tatap dan saling bertanya-tanya tentang siapa tamu yang datang malam-malam begini.   Lina membawa Sarmila ke dalam kamar kos yang kosong. “Kamu istirahat dulu, besok kita bicara lagi. Diminum juga teh angetnya,” pinta Lina sambil memberikan baju ganti untuk Sarmila. Keponakannya itu masih saja diam membisu. Namun, akhirnya mengucapkan sepatah kata yang sama. Yaitu, terima kasih. Bahkan Lina masih tak percaya jika keponakannya kini berada di dalam rumahnya saat ini. ***   Sarmila mencoba tidur, namun tak bisa. Dia benar-benar sedang merasakan kesedihan dan rasa putus asa yang dalam saat ini. Bukan karena perceraiannya, namun karena kegagalan mempertahankan rumah tangganya sendiri. Dia meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Lina. Sedikit banyaknya, rasa manis dan aroma melatinya mampu membuatnya sedikit tenang.  Dia hanya duduk di kasur busa yang lusuh dengan satu bantal dan satu guling di sisinya saat ini.   Sarmila memilih bangkit, membuka jendela kamarnya untuk mendapatkan angin malam. Dia menatap luar rumah yang sepi. Tak ada  bintang yang berkerlip indah. Kehidupan keras kota Jakarta mampu meredupkan cahaya bintang yang bisa dia lihat dengan mata telanjang saat malam tiba.   Mata Sarmila yang tengah berkeliling, lantas berhenti menatap ke arah sampingnya.  Rumah megah yang berdiri yang nampak sepi, hanya berjarak selokan saja. Namun, matanya yang masih normal pun melihat satu mobil yang masuk ke dalam rumah besar itu. Sarmila masih memerhatikan saja. Dia yang menempati kamar lantai dua jelas bisa melihat kegiatan yang ada di bawah. Namun, matanya kini terangkat, melihat lantai dua rumah besar itu kini terang dengan lampu yang baru saja dinyalakan.   Iris bulat itu masih mengikuti pergerakan seseorang di balik bangunan itu. Entah bagaimana si pemilik membangun rumah tanpa dinding, digantikan dengan kaca. Dapat dia lihat dengan jelas apa saja yang tengah dilakukan pria itu. Termasuk dengan .... “Huk!!! Uhuk!!!” Sarmila tersedak saat meminum tehnya. Matanya membulat penuh, memandangi apa yang tengah dilakukan oleh seorang pria yang sibuk mondar-mandir. Kenapa juga dia bisa melihatnya saat ini?! “Bisa-bisanya itu cowok ganti baju tapi nggak nutup tirai?!” omel Sarmila yang segera masuk ke dalam kamarnya kembali.   Tetangganya yang aneh. Membangun rumah tanpa dinding, berganti pakaian tanpa menutup tirai dan juga ... entah apa lagi. Sarmila memilih berbaring di kasurnya. Dia menatap langit-langit kamar sambil terus memikirkan kehidupan masa lalunya. Dia mengangkat jari lentiknya. Sudah tak bercincin. Tak ada yang mengikatnya dan tak ada yang harus dilayaninya untuk saat ini.   Kehidupannya terlalu naas di usia muda. ***   Tok! Tok! Tok! “Mila, sudah bangun?” Lina, bibi Sarmila mengetuk kamar keponakannya. Dia masih khawatir dengan keadaan Sarmila saat ini. Mila yang masih terlelap tak mendengar ketukan pintu itu. Wajar saja, dia baru bisa tertidur di jam tiga pagi. Waktu yang salah untuk membuka mata namun otaknya bekerja ekstra.   Lina kembali mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Cklek! Salah satu anak kos yang menempati kamar di sebelah Sarmila keluar, dia menatap pemilik Kosan itu. “Memang ada isinya Bu?” tanya gadis yang tengah mencangkol handuk di bahunya. “Eh, Ghea, iya nih ... ponakan tante semalem baru datang,” balas Sarmila. “Oh, ya udah Bu, saya mau mandi dulu, mau kuliah.” Lina mengangguk saja. Dia pun ikut turun lantaran Sarmila sepertinya masih tidur saat ini.   “Belum bangun kali Bu, wajar saja, namanya juga semalam baru sampai,” timpal suami Lina, Karyono yang tengah sarapan. “Memang, cewek semalem itu siapa Bu?” tanya putra Lina. “Itu, Sarmila, sepupu kamu, Dion ...,” jawab Lina sambil memberikan segelas kopi panas untuk Karyo. “Kok, Dion belum pernah liat ya?” gumam pemuda yang berstatus mahasiswa itu. “Jelas, aku aja ketemu Mila-Mila itu pas kecil, dan baru ketemu sekarang ini.” Anak pertama Lina, Meydi ikut menimpali obrolan kecil pagi itu. “Iya, Ibu juga kaget semalam. Soalnya Ibu nggak ketemu dia lama banget, setelah dia nikah itu.” “Loh? Nikah? Emang umur dia berapa Bu? Perasaan kayak masih 19 tahunan.” Dion yang sipa melahap sesuap nasi gorengnya kini malah ikut terpancing dengan obrolan itu. “Dia dinikahkan sama kakak ipar Ibu, di umur 18 tahun kalau nggak salah. Sekarang umur 20 tahunan,” tutur Lina.   “Hah?!!! Dua puluh tahun?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD