Sarmila mendadak genit. Sifatnya berubah drastis hanya karena dirinya mendapati pria dewasa yang selama ini tak pernah dia jumpai tipe ketampanannya.
Semakin Gentala mengernyit bingung dengan sikap Sarmila, si remaja tanggung yang sepertinya memiliki sifat ganjen tak ada duanya. Itu yang harus dipertanyakan. Bagaimana bisa wanita itu menjadi banyak alasan untuk tinggal?
“Mas, rumahnya gede amat ya? Mas sendirian?”
Satu pertanyaan mewakili rasa ingin tahu Sarmila saat ini.
“Ya.”
“Woah ... enggak takut Mas sendirian? Nanti ada miss K gitu?” Wanita itu ikut mengambil piring lain untuk menyalin lauk yang ada di rantang.
“Miss K?”
Kini Gentala menatap Sarmila lama. Wanita itu malah dengan santainya memindahkan makanannya ke piring. Dia sendiri merebut rantang yang ada di tangan Sarmila untuk dicuci. Gentala tak suka berlama-lama dengan wanita belia seperti Sarmila.
“Iya, Miss K. Si makhluk ghaib yang selalu nongol pas malem hari itu,” seloroh gadis itu sambil terus mengelilingi dapur dan ruang makan di rumah Gentala.
Sarmila masih saja menatap kagum suasana dapur yang mewah, barangkali luasnya tiga kali lipat dari kamar miliknya. Dengan banyak lemari-lemari yang tertempel di dinding dan di bawah juga.
Sarmila semakin ngiler melihat banyaknya peralatan dapur yang canggih terutama dengan oven listrik. Dia ingin sekali rasanya sesekali masak di tempat itu.
‘Ah, jadi istrinya bisa tuh puas-puasin masak di dapur,’ batinnya sangat berharap.
Semua parabotannya termasuk mahal. Dia mengira bahwa mantan suaminya memiliki kekayaan yang sudah berada di level atas. Namun, di atas langit masih ada langit. Dan sekarang dia menyadari bahwa kekayaan Cakra hanya sebagian kecil dari kekayaan pria tampan bernama Gentala ini.
Satu hal yang disadari oleh Sarmila. Saat dia memandang lama Gentala, perasaan sukanya tumbuh dengan malu-malu. Rasa yang tak pernah dia alami saat bersama Cakra. Sangat berbeda.
Senyuman tersungging di mulutnya tanpa lelah dengan mata yang tak bosan memandangi wajah Gentala tentu saja. Bahkan dadanya bergemuruh hanya karena mata hitam milik Gentala itu menatapnya dengan kebingungan. Ketampanan Gentala benar-benar seperti sudah diciptakan sebagai keberkahan dan juga sebagai hasil perawatan mahal.
“Maksudmu hantu?”
Ah, kenapa juga dia harus bertanya soal itu? Semakin betahlah si anak ingusan itu ada di sini. Seketika Gentala menyesal bertanya begitu.
“Nah betul!!!” Sarmila sudah berteriak girang dengan jawaban Gentala.
“Tidak ada yang namanya hantu, Anak Kecil!”
Pria itu berbalik, merapikan rantang milik Lina dan menyodorkannya kepada Sarmila. Dia tak mau semakin lama menahan gadis itu di sini.
“Sudahlah, ini saya kembalikan. Jadi saya tak ada keperluan apa-apa lagi denganmu,” ketus pria itu, semakin tak bersahabat dengan kehadiran gadis berambut kepang dua itu. Bahkan bajunya terbilang kuno. Gentala dapat menilai hanya dengan melihatnya sekilas.
Sarmila tanpa sadar menerimanya, tapi dia masih betah saja berada di rumah besar dan mewah ini.
Masalahnya, matanya semakin betah setelah fokusnya teralihkan dengan dapur Sultan milik Gentala. Sekarang, Gentala berdiri tepat di depannya, tak ada berjarak satu meter!
Seketika matanya semakin nyaman dan tak mau beralih sedikit pun. Lehernya mendadak menjadi stuck dan tak sendi-sendinya membeku. Dia masih saja tergiur dengan tubuh atletis dipenuhi otot-otot penopang tubuh Gentala. Jelas-jelas dia bahkan merasakan salivanya siap menetes.
Gentala merasa risih saat melihat gadis itu semakin menatapnya intens. Dia merasakan kalau gadis itu memandangi tubuh setengah telanjangnya. Dia segera melambaikan tangannya.
“Heh, anak kecil!” sentaknya berusaha mengalihkan pandangan Sarmila.
“Anak kecil? Siapa yang Mas panggil anak kecil coba?” Wanita itu menggembungkan pipinya, merasa tak suka dengan julukan yang diberikan oleh Gentala. Benar-benar Gentala menganggapnya anak kecil dengan pandangan meremehkannya.
“Ya jelas kamu. Kamu bukan wanita dewasa menurut saya. Umurmu saja saya yakin masih belasan. Sudah sana pulang!” usir Gentala yang membukakan pintu untuk Sarmila.
“Mas Gen! Aku ini sudah 20 tahun tau!” sentak Sarmila mencoba mengklarifikasi.
20 tahun bagi Gentala adalah anak kecil! Gentala semakin menggeleng-gelengkan kepalanya, zaman sekarang, 20 tahun beranggapan sudah dewasa, tapi hanya untuk bermain-main dan juga berpacaran, gaya berpacaran yang terbilang … wow, uh, ah, apa juga itu.
“Dan itu berarti kamu memang anak kecil.”
Gentala mendorong paksa Sarmila keluar dari rumahnya. Bisa gawat kalau dia malah membiarkan wanita yang menurutnya masih anak-anak itu berada di dalam rumahnya saat ini. Dia tak lagi merasa risih karena memang mendepak gadis itu keluar dari rumahnya.
Sarmila berontak, berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Gentala di tangannya, berusaha memberikan gaya tarik yang berlawanan dengan gaya dorong yang diberikan oleh Gentala. “Mas! Mas! Jangan dorong-dorong dong!” sergahnya dengan suara nyaring.
“Silakan kembali ke asalmu,” ucap Gentala dingin sambil menutup pintu gerbang raksasanya.
Drakkk! Sreeekkkk! Brakkk!
“Ya Allah! Tuh laki-laki sadis amat sih! Ganteng-ganteng tapi judes!” sembur Sarmila memaki Gentala tentunya.
Sarmila pulang sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Dia masih ingin banyak mengobrol dengan Gentala. Namun, sepertinya Gentala tak suka berbicara atau ... memang tak suka padanya?
Buru-buru Sarmila menaruh rantang tanpa mengajak Lina bicara. Dia segera masuk ke kamarnya dan berkaca. Dia memberengut kesal.
“Ini namanya anak kecil?!” pekiknya.
Dia memperhatikan dengan jelas wajahnya. Wajahnya bahkan terlihat lebih tua dari usianya, karena memang dirinya sudah tak perawan!
“Sejak kapan anak kecil, dadanya segede ini?!” Kembali dia mengomel. Sambil tangannya malah menangkup dadanya sendiri, mengukurnya.
Masih saja dia merasa tak terima dengan ucapan Gentala yang meremehkannya.
Dia malah membuka bajunya sendiri, berpose s*****l* ala-ala model berbikini. Difotonya pantulan bayangan dirinya lantas kembali dipakainya kembali dress berpotongan sederhana itu.
“Tuh kan! Aku ini bahkan dibilang semok*, bohay! Aduhai! Tralala sekseh kali!”
Sarmila kembali ke bawah. Dia menemui Lina yang masih menonton variety show.
“Tante Lina, aku mau tanya deh,” selanya, menganggu kegiatan Lina tentu saja.
“Ya? Eh, gimana tadi? Gentala mau?” Lina malah bertanya.
“Udah Tan, tuh buktinya rantangnya kosong,” jawab Sarmila dengan penuh percaya diri. Jelas saja, dia juga yang menyaksikan dan membuntuti Gentala.
“Biasanya dia balikin lagi sama isi-isinya kalau Dion atau Meydi yang antar loh,” seloroh Lina sambil mengingat-ingat sebelumnya.
Kesempatan. Senyuman di bibir Sarmila tersungging kembali, seolah-olah mendapatkan jackpot untuknya bisa kembali bertemu Gentala.
“Nanti biar aku aja yang anter, enggak akan ditolak! Garansi seratus persen deh!” Buru-buru Sarmila berpesan kepada Tantenya itu.
“Ya sudah, sekalian kamu tanya ada loker enggak? Kan lumayan,” usul Lina kembali. Wanita itu merasa senang dengan Sarmila yang mau bercerita padanya.
Sarmila mengangguk-angguk dengan semangat.
“Eh, Tan, aku serius mau tanya Tan ...,” rengek gadis itu dengan duduk condong ke arah Lina.
“Ada apa?”
“Aku emang kayak anak kecil ya?”
Lina yang sedari tadi menonton kini beralih memandangi keponakannya sendiri. Dia lantas menggeleng.
“Enggak kok, badan kamu aja bagus begini. Body goal kalau kata si Jedar mah!”
“Nah kan! Iya, ‘kan Tan? Ihhh ... masa orang itu bilang aku anak kecil sih?!” adunya pada Lina.
Lina hanya tertawa saja mendengarnya. Entah siapa yang dimaksud orang itu oleh Sarmila. Bahkan Sarmila adalah keponakan yang paling bongsor kalau dari penampilannya.
***
Sarmila memandangi rumah besar itu kembali. Seperti rutinitas biasanya, kini dia mengintai rumah kaca yang menjadi tetangganya itu.
Gentala.
Gentala.
Gentala.
Bahkan namanya saja kini terdengar maskulin saat diucapkan. Terbilang gentle dan juga kuat. Kuat di ranjang.
“Aih! Piktor banget deh aku, hihi ….” Bahkan gadis itu cekikikan mendengar kenakalan imajinasinya.
“Aduh ... aku bahkan masih ingat muka gantengnya itu, duh … meleyot deh hatiku ini.”
Sarmila semakin mengingat-ingat jelas wajah Gentala yang tadi siang dia temui langsung. Sejujurnya Gentala terlihat dewasa dan macho.
Alamat dirinya tidur bermimpikan roti sobek, bahkan dengan bahu yang tegap dan punggung yang pelukable.
“Hih, Mas Cakra mana ada sih otot-otot kayak gitu! Lembek dia!” sungutnya menghina mantan suaminya, tentu saja masih ada sakit hati karena mantan suami kurang ajar itu.
Bahkan Cakra tak menghubunginya sampai saat ini. Dia memang dilupakan sepertinya.
Sarmila tak akan kuat jika Cakra meneleponnya untuk memintanya kembali. Namun, rupanya pemikirannya salah. Pria yang pernah menjadi suaminya itu bahkan sepertinya tak pernah menganggapnya ada.
Anak.
Itu yang diinginkan Cakra saat menikahinya. Pria itu mendapatkan barang segel seperti dirinya namun setelah tak bisa mendapatkan keinginannya lantas membuangnya begitu saja.
Seakan dia sebagai wanita hanyalah untuk tempat berkembang biak, sudah k*****s* maka segera tidur. Sedangkan dirinya? Hanya berpikir untuk melayani suami di atas ranjang agar tak durhaka.
“Duh!!! Sedihlah aku kalau jadi diri ini!” pekiknya mencoba melupakan Cakra.
Matanya yang melihat lantai dua rumah Gentala menyala semakin berbinar. Dengan semangat penuh perjuangan, Sarmila memerhatikan rumah itu.
“Aaak!!! Gila! Dia ganti baju!” pekiknya gemas sambil menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya. Namun, di sela-sela jarinya dia bahkan melihat Gentala melepaskan bajunya.
“Aduh! Seksi banget!” imbuhnya sambil merasa kegirangan bukan main.
Meskipun umurya 20 tahun. Namun, karena dirinya sudah menikah maka membuat otaknya lebih dewasa dari pada wanita yang seumuran dengannya. Sarmila tak memungkiri, dalam hatinya dia menyimpan banyak kekaguman untuk pria dewasa seperti Gentala.
Bahkan jika dipikirkan pun, dirinya bahkan bereaksi. Minimal kekaguman akan muncul pada siapa pun yang menjumpai Gentala. Dia yakin itu.
“Aaaa! Mas Gen,” bisiknya masih dalam tahap kegirangan.
***
Gentala sendiri yang baru saja pulang kerja, tak memikirkan apa pun selain pekerjaannya. Membujang di usia matang membuatnya banyak didesak oleh adik dan ibunya sampai saat ini.
Gentala mengambil satu minuman kaleng yang ada di kulkasnya. Entah kenapa dirinya berpikiran untuk menuju balkon depan kamarnya.
Saat itu juga dia mematung. Mendapati pemandangan yang ada di depannya, tak sampai dari 10 meter. Dia melihat jelas sosok yang ada di depannya. Anak kecil itu?!
Hampir saja dia menyemburkan minuman kalengnya saat melihat Sarmila tersenyum kepadanya dan melambaikan tangannya.