Mas Gen Meriang

1601 Words
“Mas Gen!” teriak Sarmila bersemangat, dia sudah berdiri menopang tubuhnya di pagar besi lantas melambaikan tangannya tinggi-tinggi pada Gentala. Dia bersemangat menyapa pria yang sudah terus menerus memasuki alam mimpinya. Sarmila dengan kepangan rambut andalannya menatap Gentala dengan mata berbinar ditambah dengan senyuman semringah ala iklan pasta gigi ternama pun dilakukannya. Dia benar-benar kesemsem dengan Gentala, si pria ganteng yang rupanya menjadi tetangga bibinya. Gentala melotot seketika saat melihat siapa yang ada di depannya. Sialnya, rumahnya dan rumah Lina hanya dibatasi dinding setinggi 2 meter saja. Kalau dia berada di lantai dua, maka dipastikan dia bisa melihat tetangganya itu. Sekarang, yang ada di balkon rumah Lina adalah ... Sarmila? Si anak kecil itu? Ingin sekali dia mencaci dan memaki gadis itu untuk tak berbuat aneh seperti itu.   Baru saja Gentala ingin melepaskan penat dengan menikmati malam di balkon lantai dua, kini malah dihadapkan oleh kenyataan kalau si ‘Anak Kecil’ ada di sana juga. Sarmila bersemangat tersenyum kepada Gentala, memperlihatkan deretan gigi rapi yang dipastikan tak ada potongan cabai yang terselip tentunya. Dia yang sedari tadi memikirkan Gentala tentu saja girang bukan main melihat si pria seksi yang tampan menggoda itu. “Mas Gen, tumben keluar kamar?” tanyanya setengah berteriak. Sarmila merasa senang ada seseorang yang kini tahu akan kehadirannya, atau memang dirinya yang GR?   Gentala ingin sekali tak meladeni Sarmila. Namun, dia malah menjadi penasaran pada Sarmila. “Heh anak kecil, sedang apa kamu malam-malam di luar begitu?!” sinisnya. Sarmila melotot tak percaya saat Gentala masih saja mengatainya anak kecil. Sarmila sedikit memundurkan tubuh mungilnya, dia bersedekap dengan wajah penuh komplain. “Mas Gen! Aku udah dewasa kali! Mas Gen matanya minus ya sampai mengira aku ini anak kecil?!” balas Sarmila tak terima. Gentala memilih diam, tak menggubris klarifikasi Sarmila. Lagi pula dia memang tak seharusnya meladeni anak kecil yang mengganggu kenikmatan dirinya untuk beristirahat. Jelas-jelas dia juga tak mau membuang-buang waktu. Gentala diam saja, memilih kembali ke posisinya. Menganggap Sarmila adalah makhluk astral yang seharusnya tak dilihat olehnya.   “Namaku itu Sarmila Kamayangan tahu!” tambah Sarmila dengan wajah terdongak, menampilkan satu dari sekian level rasa percaya dirinya yang tinggi. Gentala baru saja menghela napasnya, kini malah kembali meladeni Sarmila. “Saya tidak tanya namamu!” balas Gentala dengan wajah datar tanpa ekspresinya. “Ih! Mas Gen ini ya! Aku Cuma kasih tahu aja keleu! Lagian ya Mas, tumben-tumbenan Mas ada di rumah, duduk di balkon pula, kenapa Mas? Lagi sakit ya? Meriang?” cecar Sarmila semakin terus melancarkan suara nyaring tak tahu malunya itu. Gentala menggelengkan kepalanya, merasa tak habis pikir dengan Sarmila yang memiliki suara bak petasan renceng. Kenapa juga malam yang damai miliknya kini malah memiliki musik pengiring yang gratis begini.   “Saya niatnya ingin menikmati malam yang sunyi, tahunya malah ada penghuni baru yang suaranya melebihi si jalak.” Sarmila menggembungkan pipinya, merasa kesal bukan main dengan Gentala. Pria itu benar-benar banyak mengejeknya. Sarmila tetaplah Sarmila. Entah kenapa, dia malah senang saat mengajak Gentala berbicara meskipun dia tahu kalau pria itu malas meladeni ucapannya. “Mas ... kalau lagu meriang emang begitu, sukanya nyerocos aneh-aneh, saya tahu kok obatnya apa,” seloroh gadis itu masih saja tak menghentikan omongannya. Gentala semakin mengernyit bingung. “Saya tidak meriang kok, masuk angin saja tidak, saya sehat walafiat tahu!” ketusnya. Nada bicaranya sama sekali tak berubah dengan keceriaan yang Sarmila tunjukkan. Betapa judesnya seorang Gentala di mata Sarmila. Namun, batinnya lagi-lagi membela diri. Jelas-jelas mata Sarmila sudah terjatuh pada pesona yang dimiliki oleh Gentala. “Masnya bisa saja, enggak usah mengelak Mas, nanti aku kasih loh obatnya, diskon 50% deh, eh enggak, beli obat gratis Mila,” kelakar Sarmila dengan berpose dua jari ala remaja yang selalu menjadi style imut bagi mereka atau memang hanya itu gayanya? Gentala berdecih, “cih! Anak kecil tidak usah menggoda om-om, nanti kualat kamu.” Masih dengan percaya dirinya, Sarmila malah berpose memasang wajah genit, mengedip-kedipkan salah satu matanya. “Gratis deh untuk Mas Gen yang ganteng mah ….” Gentala seketika bergidik ngeri. Bulu kuduknya ikut berdiri, dia mulai mengusap tengkuknya. Tiba-tiba terpikirkan kalau ucapan Sarmila tentang miss K teringat di dalam benaknya. “Enggak nyambung kamu! semprul!” sembur Gentala yang bersiap kembali masuk ke dalam rumahnya. Sarmila hanya cekikikan saja saat tahu bagaimana Gentala meresponnya.   Pria itu dingin, datar, judes, jutek, muka tembok dan segala yang menggambarkan bagaimana dia memandang Sarmila. Saat Gentala berbalik, Sarmila merasa ada kehilangan dan tak rela untuk ditinggal. Dia cepat-cepat mencegahnya dengan wajah setengah panik. Matanya yang sedang mendapatkan pemandangan gratis pria ganteng nan seksi akan siap berakhir. Dia jenuh dengan pemandangan itu-itu saja di kesehariannya. “Sudah anak kecil, sebaiknya kamu tidur, tidak baik malam-malam begadang di luar. Tubuhmu makin kuntet nanti,” tukas Gentala sembari mengejek sebelum akhirnya menutup pintu.   Sarmila terbelalak mendengarnya. Dia tak percaya dikatai kuntet oleh seorang Gentala. “Mas Gen ini bener-bener minus ya matanya?! Tinggi 165 itu enggak kuntet buat wanita Indonesia, tinggi Mas tinggi!!! bisa jadi model!” teriak Sarmila berapi-api, berusaha untuk membalas ucapan Gentala. Suaranya yang melengking terdengar di balik pintu rumah Gentala yang ada di ruang lantai dua. Gentala menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia merasa Sarmila memang masih anak kecil, tepatnya belum dewasa. Ukuran 20 tahun tak bisa dikatakan dewasa baginya. Kecuali di atas 22 tahun, barulah bisa terbilang wanita dewasa, itu pun jika memenuhi syarat kategori orang dewasa. Gentala pun bersiap untuk tidur, dia sudah masuk ke dalam kamar. Berbaring dan juga menyelimuti tubuhnya di bawah hembusan udara air conditioner. Mencoba terlelap setelah seharian bekerja di kantor yang selalu membuatnya menjadi workaholic.   Sementara Sarmila merasa kecewa setelah melihat tubuh Gnetala yang semakin hilang sosoknya. Hanya malam yang sepi yang menemaninya. Dia sudah kehilangan hiburan untuk mata dan mulutnya. Padahal mereka bisa saja mengobrol bukan? Mereka tetangga bukan? Siapa tahu Gentala jadi menyukainya. “Ih! Otakku mulai ngawur lagi,” keluhnya sambil menoyor kepalanya sendiri, berusaha menyadarkan imajinasinya yang kelewatan. “Ah, sudahlah. Selamat tidur tetangga,” bisiknya sebelum akhirnya dia juga masuk ke dalam kamarnya.   Sarmila merasakan sepi melanda lagi. Sejujurnya dia butuh teman. Sambil merenungi nasib kehidupannya, Sarmila malah menjaid senyum-senyum sendiri. Entah kenapa terbesit sosok Gentala di kepalanya. Mengingat pria itu bertelanjang d**a* saat dia mengantarkan makanan. “Kapan aku bisa antar makanan lagi ya? Hihi, siapa tau bisa liat body seksi Mas Gen lagi, kan lumayan, hot-hot seuhah kitu.” Sarmila cekikikan di bawah selimut tipis miliknya. Suara kipas angin yang sudah lama tak diganti pun menjadi musik pengantar tidurnya. Sarmila tertidur dengan khayalan-khayalannya sendiri. ***   Gentala yang semakin dicecar soal menikah membuatnya uring-uringan. Kenapa ibunya selalu ikut campur dengan perasaannya dan prinsip hidupnya? Pria itu duduk dengan memijat pelipisnya yang berdenyut. Seorang wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya tak bisa menutup mulutnya barang sebentar saja. Benar-benar seperti burung berkicau yang minta diberi makan.   “Kamu tuh sudah tua, Tala ... Mama bingung bagaimana memberitahukannya lagi ...,” pekik Rosalinda, Ibu Gentala yang merasa frustrasi dengan kondisi putranya saat ini. Gentala menghela napasnya sesaat, sebelum akhirnya beranjak menghampiri Ibunya yang tengah melotot kepadanya. Dia menekan lengan Ibunya, menuntunnya untuk duduk di sofa lantas menyodorkan satu gelas air mineral yang telah disediakan oleh sekretarisnya. Rosalinda segera meminumnya sampai tandas. Usai berbicara panjang kali lebar kali tinggi dan putranya itu masih tak menuruti kemauannya, maka dia pastikan akan terus merepet. Glek! Glek! Glek! Beberapa tegukan tanpa jeda sudah menghabiskan satu gelas air.   Gentala lantas menaruh kembali gelasnya dan menatap Ibunya jenaka. “Sudah Ma merepetnya? Sampai menghabiskan satu gelas loh ini ...,” bebernya. Rosalinda membulat, matanya semakin nyalang menatap putranya yang tak tahu diri itu. Bisa-bisanya Gentala malah meledeknya?! “Gentala Samudra Lintang!!!” Kali ini teriakan menggelegar memenuhi ruangan kantor. Gentala bahkan sampai menyingkir, dia tak bisa menghentikan suara nyaring sang Ibu yang sama persis dengan si ‘Anak Kecil’ yang menjadi tetangganya itu.   “Mama nggak mau tahu! Pokoknya selama 3 bulan ini kamu harus bawa satu calon, atau Mama akan jodohkan saja kamu dengan perawan, janda, gadis, tante-tante atau sekalian nenek-nenek tua! Mama nggak mau tahu! Titik!!!” Lagi-lagi Ibunya benar-benar membuatnya semakin pening bukan main. “Mama selalu bisa ya membuat kepala Gentala seakan-akan pecah saat ini?” timpal Gentala dengan nada dinginnya. Rosalinda sudah menyerah, dia tak mau menyudutkan putra tirinya itu namun, di satu sisi dia memang harus melakukannya.   “Tala, tolong turuti Mama kali ini saja, Mama memang bukan Ibu kandungmu. Tapi, Mama tak mau melihat kamu sendirian di rumah besar itu Tala ... atau Mama harus pakai Ayahmu agar kamu mau menikah?” Deg! Mendengar kata ‘Ayah’ membuat d**a* Gentala bergemuruh hebat.   “Apa Mama mau dimusuhi oleh Gentala juga seperti pria tua itu?” tanyanya dingin, matanya tak lagi memandang sang Ibu yang membesarkannya itu. Rosalinda menghela napasnya pelan. “Tala, apa susahnya menikah? Apa yang kamu takutkan sih? Mama tidak akan khawatir kalau dengan usiamu saat ini sudah memiliki tiga anak, tapi kenyataannya kamu malah sendirian,” tutur Rosalinda menghampiri Gentala yang menatap pemandangan luar di balik dinding kaca kantornya itu. Tangannya berada di saku celananya, membiarkan dirinya membayangkan sosok Ayah yang sudah lama tak dia temui. Toleransinya terbuka hanya pada Rosalinda. “Oiya, Mama tak perlu meminta bu Lina untuk membuatkan makanan. Tala tak suka jika ada orang asing masuk ke rumah Tala,” tegasnya.   Rosalinda merasakan bagaimana Gentala menutup diri saat ini. Jika dia menyerah, dia tak bisa menepati janjinya pada Ibu Gentala untuk membuat Gentala bahagia dalam hidupnya. “Tala, harapan Bundamu adalah melihat kamu bahagia dan Mama bertugas untuk membuktikannya, Sayang ... Mama mohon, pikirkan kembali apa yang Mama pinta,” timpal Rosalinda sebelum akhirnya keluar dari ruangan Gentala.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD