Bagi Sarmila, keindahan adalah Gentala. Matanya bisa dengan mudahnya terbuka dan tak merasakan kantuk saat memandangi Gentala yang ada di balkon. Malam itu, sengaja dia tak menampakkan dirinya agar dia puas melihat pahatan sempurna sang Adonis. Sengaja dia sedikit merunduk, duduk meringkuk sebatas tinggi balkon. Mengintip sedikit melalui celas pembatas balkon dan dindingnya. “Ma, sudah kubilang, aku bisa mencarinya sendiri. Mama hanya butuh aku membawa perempuan bukan? Tak perlu Mama menjodohkan aku dengan wanita-wanita tak jelas itu!” desis Gentala yang berbicara dari balik telepon. Gentala terus mengurut keningnya, mendadak dia merasa pening seketika. Pembicaraan Gentala memang dapat didengar Sarmila. Gadis itu tahu bagaimana caranya untuk bersembunyi. Dia sudah cekikikan menahan

