Sudah berhari-hari gadis itu pulang terlambat, karena lembur yang dia agendakan. Setidaknya hatinya sudah kembali normal, meskipun memakan banyak waktu dan energi. Dia tersenyum senang saat melihat di luar sudah gelap. “Bisa pulang deh,” tukasnya merasa senang. Dia segera mematikan laptop kerjanya, memasukkannya ke dalam loker meja dan menguncinya. Dia pun mencangkol tasnya ke bahu. Segera berbalik keluar ruangan. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Angelo menunggunya di depan ruangan. Pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut sambil berjalan menghampirinya. Sedikit tak siap karena pada akhirnya dia harus berhadapan dengan Angelo. “Akhirnya kamu keluar juga. Kamu tahu aku menunggumu.” “Kamu? Berapa lama?” Sarmila merasa ingin tahu. “Mungkin satu jam?” “Satu jam?” Mani

