Chapter 17

1450 Words
Tanpa mengetuk pintu, Reya masuk ke dalam ruangan Nevan sambil membawa minuman kopi, Reya membawakan minuman tersebut bukan karena keinginan Nevan melainkan keinginannya. Reya duduk di kursi yang tersedia di depan Nevan dan meletakkan minuman kopi tersebut di dekat Nevan. "Aku gak ada minta kopi." Reya menopang dagunya, "emang sengaja aku beliin." Nevan meletakkan pulpennya lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Pasti ada mau nya." Reya tertawa beralih menautkan tangannya. "Enggak, emang sengaja aku beliin. Kalo ada mau nya, emang aku lagi mau apa? Gak mau apa-apa kok." "Kalo ada mau nya juga gak masalah." Nevan mengambil kopi yang terletak di dekatnya. "Mau nikah misalnya." Lanjut Nevan sebelum ia meminum kopi yang Reya bawa. Reya tertawa kecil memperhatikan Nevan yang sedang minum. "Tadi aku ketemu sama mbak Dira." "Terus?" Tanya Nevan sudah kembali mencatat di selembar kertas. "Kata dia kita jadi makin deket aja, terus dia nanya aku sama kamu ada hubungan apa." "Kamu jawab apa?" Nevan terlihat begitu santai. "Gak ada hubungan apa-apa, karena emang aku gak mau ada yang tau soal hubungan kita, terutama orang kantor." Nevan diam menunggu kelanjutan cerita Reya. "Tapi dia gak percaya. Mbak Dira tau kalo aku tinggal di rumah kamu." Nevan menatap Reya, "tau dari mana?" "Katanya sih waktu dia lagi nelfon kamu dia ada denger suara aku lagi ngomong sama Zio. Aku sempet ngelak, aku bilang itu bukan aku, tapi dia ngotot bilang kalo itu aku, jelas banget dia denger suara aku, udah beberapa kali juga kata dia." Nevan menyusun lembaran kertas menjadi satu. "Kalo pun Dira tau soal hubungan kita gak masalah, Dira pasti ngerti, bisa jaga rahasia. Kamu tenang aja." Reya mengangguk seraya memperhatikan jemarinya yang sedang menyentuh kuku-kukunya. "Ada yang mau aku bilang." Ucap Reya. "Apa?" Balas Nevan seraya meminum kopinya. "Aku boleh liat. Emm, foto... Istri, kamu?" Nevan terdiam tanpa berkedip dengan mata lurus menatap ke arah Reya. "Aku udah lama banget pengen tau gimana istri kamu." Bagi Nevan terdengar cukup aneh ketika Reya menyebutkan kata istri kepadanya. Namun itu adalah sebuah kebenaran, Nevan pun memakluminya walaupun di satu sisi ia merasa tidak enak hati pada Reya. "Kalo aku gak mau ngasih tau?" "Kenapa?" "Ntar kamu berubah jadi badmood abis liat fotonya." "Emang kamu ada foto Mami Zio?" Nevan pun mulai bimbang ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Reya. "Punya?" Nevan mengangguk sambil mengamati ekspresi wajah Reya ketika ia memberikan sebuah anggukan, ekspresi wajah Reya terlihat sama saja dari sebelum-sebelumnya. "Ya udah aku mau liat, foto nya gimana? Foto pernikahan kalian?" "Enggak," jawab Nevan dengan cepat. "Tapi janji jangan ngambek apalagi sampe marah kalo udah liat fotonya." Reya mengangguk. Nevan beranjak dari duduknya dan pergi ke arah lemari yang berada di sudut ruangannya. Ketika Nevan kembali, jantung Reya sudah berdegup kencang hanya karena ingin melihat foto perempuan yang merupakan ibu Zio sekaligus istri Nevan. Nevan duduk di kursinya dan memberikan selembar foto kepada Reya. "Dua hari setelah ngelahirin Zio, Talitha minta di foto sambil gendong Zio. Terus ngomong, kalo misalnya aku gak ada tolong kasih ke Zio foto ini biar dia bisa liat aku, itu udah kayak firasat sih. Ternyata bener, lima hari setelah foto itu Talitha meninggal." Reya menatap Nevan sejenak sebelum matanya kembali memperhatikan selembar foto seorang perempuan cantik berkulit putih dengan rambut lurus berwarna sedikit kecoklatan sampai sebatas lengan tengah menggendong bayi yang terbungkus kain bermotif lucu dan hanya memperlihatkan wajahnya, bayi itu adalah Zio. "Dia yang ngasih nama Zio?" Nevan mengangguk. "Zio pernah liat foto ini?" "Belum, Zio belum cukup ngerti untuk liat foto itu. Zio cuma nanya Mami nya dimana, kalo Zio udah ngerti bakal aku tunjukkin foto nya. Aku nyimpen foto itu karena Talitha yang minta aku nyimpen foto nya biar Zio tau gimana Mami nya." Kata Nevan. Reya yang semula menatap Nevan kembali menatap ke arah lembaran foto memperhatikan dengan seksama wajah cantik yang tengah tersenyum sumringah, perempuan itu terlihat begitu bahagia. Dan hanya dari raut wajahnya saja Reya dapat menyimpulkan bahwa Talitha adalah orang yang baik, tidak ada terbesit hal-hal yang negatif di pikiran Reya selama ia memperhatikan wajah Talitha melalui selembar foto. ^•^ Nevan dan Reya berdiri di dekat mobil melihat satu persatu anak-anak kecil yang baru keluar dari sebuah gedung. Reya menatap anak-anak yang sudah keluar dari gedung berlari ke arah orang tua mereka sambil membawa sesuatu. Anak-anak tersebut memberikan apa yang mereka pegang untuk orang tua mereka. Seperti bunga, coklat, ataupun lembaran kertas. "Pada kenapa? Lagi ada acara di sekolah ini?" Nevan menatap Reya dan menggeleng. "Hari ini hari ibu." Kata Nevan. Reya diam tidak mengeluarkan suara, yang ada dipikiran Reya, bagaimana dengan Zio sekarang. Nevan dan Reya bersiap ketika melihat Zio baru keluar dari gedung sekolah tanpa memegang apapun. Zio berjalan dengan lesu seraya memperhatikan teman-temannya yang tengah memberikan hadiah kepada ibu mereka. Nevan memberikan seulas senyum kepada Zio ketika anak tampan itu sudah berdiri di hadapannya dan juga Reya. "Kita pulang?" Tanya Nevan seraya berbungkuk melepaskan tas Zio. Zio mengangguk. Reya membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Zio. "Zio lagi sakit? Lemes banget kayaknya." Tangan Reya terulur ke belakang untuk mengelus pipi Zio. Zio menggeleng memajukan duduknya hingga jarak dirinya dengan Nevan dan Reya menjadi dekat. "Papi," panggil Zio seraya bersandar di bagian samping jok Nevan. "Hmm?" Balas Nevan dengan mata fokus memperhatikan jalanan. "Today is mothel's day." Nevan mengangguk memeluk pinggang Zio dengan tangan kirinya. "Io gak punya Mami." Nada suara Zio terdengar sedih. "Kan punya Papi." Ucap Nevan menghibur Zio yang mulai dilanda rasa sedih. Zio kembali duduk bersandar mengeluarkan sebuah cokelat dengan terdapat selembar kertas di ujung cokelat tersebut. "Untuk Tante Yaya, Io gak punya Mami." Zio memberikan cokelat tersebut kepada Reya. Dengan senang hati Reya menerima cokelat yang Zio berikan. "Makasih." Ucap Reya sambil mengelus rambut Zio. Zio mengangguk lalu berpindah duduk ke pangkuan Reya melingkarkan tangannya di pinggang Reya hingga ia terlelap sembari dipeluk oleh Reya. ^•^ Nevan memberikan barbel berbahan plastik dengan warna merah pada Zio karena saat ini mereka sedang melakukan olahraga bersama di ruangan fitness yang ada di rumah Nevan. Zio menggeleng menolak barbel plastik yang diberikan kepadanya. "Kenapa gak mau? Biasanya selalu pake ini, kan?" Nevan mendekatkan barbel tersebut pada Zio. "Io gak suka." Zio melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kenapa gak suka?" Zio menunjuk barbel sungguhan yang bisa diangkat dengan satu tangan. "Io mau itu." Gantian Nevan yang menggeleng. "Anak kecil gak boleh pake itu, ntar tangannya sakit. Lagian Zio gak kuat angkatnya." "Tapi Io gak suka itu." Zio mengerucutkan bibirnya sambil menunjuk barbel plastik miliknya. "Ya udah kalo gak suka..." Nevan mencubit gemas bibir Zio yang mengerucut. Nevan tertawa karena bibir Zio semakin maju ke depan. "Zio kenapa ngambek?" Tanya Reya baru datang dan langsung mendapati Zio tengah mengerucutkan bibir seperti sedang kesal. Zio berlari ke arah Reya. "Io mau itu, tapi gak boleh." Zio menunjuk barbel milik Nevan yang tersusun rapi. "Anak kecil emang gak boleh pake itu." Zio pikir Reya akan membelanya, ternyata sama saja membuat Nevan tertawa karena Reya berpihak kepadanya. "Kan Papi dah cakap." Sahut Nevan dengan logat seperti orang Melayu. "Gak boleh ke Zoo, gak boleh angkat itu. Telus gak boleh apalagi?" Tanya Zio pada Nevan yang sedang berlari di treadmill. "Gak boleh jadi anak nakal." Nevan mengedipkan matanya pada Zio seraya tersenyum memperlihatkan gigi nya. Zio menghentakkan kakinya lalu duduk di lantai bersamaan dengan Reya. "Mandi aja yuk," ajak Reya sambil mengusap rambut Zio. Zio menggeleng berbaring menjadikan paha Reya sebagai bantalan. "Udah sore lho, masa gak mau mandi. Zio juga abis olahraga, pasti bau asem badannya. "Bau asem?" Beo Zio. "Iya," Zio mengangkat tangan kanannya seperti tengah menulis abstrak di udara. "Tante Yaya kapan jadi Mami Io?" "Tanya Papi kamu." Zio menurunkan tangannya menatap Reya. "Papi..." "Jangan!" Reya langsung menutup mulut Zio dengan tangannya. "Zio manggil Papi tadi?" Nevan turun dari treadmill kemudian mengambil handuk untuk mengelap keringatnya. Zio yang sudah duduk menatap Nevan lalu menatap Reya dengan tangan Reya sudah menjauh dari mulutnya. Reya memberikan peringatan dari gerakan matanya. "Papi!" Pekik Zio berlari menghampiri Nevan. Reya memejamkan mata sejenak sambil menunduk. "Tante Yaya kapan jadi Mami Io?" Mendengar pertanyaan Zio Reya mengangkat kepalanya. "Kok nanya kayak gitu?" "Tante Yaya suluh Io." Reya langsung memalingkan wajah. Nevan menatap Reya yang seperti orang tuli membuang wajah seolah-olah tidak mendengar ucapannya dan Zio. "Oh, Tante Yaya yang suruh Zio nanya kayak gitu?" Zio mengangguk. Nevan ikut mengangguk dengan berkacak pinggang. "Tanya sama Tante Yaya. Tante Yaya mau nya kapan." Kata Nevan tanpa memelankan suaranya. Dengan semangat, Zio berlari ke arah Reya. "Tante Yaya mau kapan?" Reya menatap Zio sekilas, "kapan-kapan." Balasnya seraya bangkit berdiri dan keluar dari ruangan tersebut. Tanpa laporan dari Zio, Nevan dapat mendengar jawaban Reya. Dalam diam, Nevan tersenyum dengan kepala yang dipenuhi oleh berbagai macam ide dan imajinasi untuk Reya nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD