Chapter 18

1452 Words
"Tante Yaya," Reya mengalihkan tatapannya dari televisi. Zio berdiri di depan Reya dengan berlinang air mata. "Bobo Io," Zio mendekatkan kedua telapak tangannya yang saling berdempetan dimana ada ikan peliharaan Zio yang sudah mati. "Lho, Bobo nya kenapa bisa mati?" Reya merendahkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat ikan koki Zio yang sudah mati. Zio menggeleng menatap iba pada ikan yang sudah seperti temannya itu. "Ditaruh aja di tempatnya, nanti bilang sama Papi kalo ikan kamu udah mati." Reya beranjak dari sofa menuntun Zio untuk kembali menaruh ikan tersebut di aquarium lalu membawa Zio ke dapur untuk mencuci tangan Zio. Selesai mencuci tangan, Zio duduk di depan aquarium kecil menatap ikannya dengan dagu yang bertumpu pada kedua tangannya yang terlipat di atas meja makan. "Nanti bisa dibeli lagi, udah jangan sedih." Kata Reya sambil mengusap punggung Zio. "Tapi Io mau Bobo," Zio menunjuk ke arah ikannya dengan bibir bawah yang melengkung menahan tangis. Reya mengangguk, "iya, tapi kan Bobo udah gak ada. Bobo udah di surga." "Sulga?" Beo Zio. Reya langsung mengangguk dengan tangan yang tidak pernah berhenti mengelus punggung Zio. Zio beralih menatap ikannya. "Bobo ketemu Mami Io?" Tanya Zio masih dengan raut wajah sedihnya. "Emm..." Reya mendadak bingung harus menjawab apa, sepertinya ia telah salah berbicara tadi. "Io mau sama Bobo sama Mami," Zio menatap Reya sambil menyentuh tangan Reya dengan kedua tangannya. "Io mau ke sulga." Lanjut Zio. "Eh, jangan." Reya tampak terkejut walaupun ia yakin Zio tidak mengerti apa itu surga. "Jangan sedih, nanti kita cari Bobo yang lain." Kata Reya sambil tersenyum. Reya memeluk Zio karena bibir mungil Zio tidak mengeluarkan suara lagi. "Cali Mami Io bisa, Tante Yaya?" Reya menunduk sejenak untuk menatap Zio. Dengan cepat tangan Reya menghapus air matanya yang mulai tumpah akibat rasa kasihan yang ia miliki untuk anak kecil seusia Zio. ^•^ "Di buang aja, ya?" Zio menggeleng menatap lekat ikannya yang masih berada di aquarium. "Jadi kalo gak mau dibuang mau diapain?" Tanya Nevan dengan masih memakai pakaian formal nya karena ia baru saja pulang setelah menghadiri suatu acara. "Kubul," Nevan tersenyum mendengar jawaban Zio. "Oke, kita kubur." Nevan meletakkan aquarium yang ia pegang dan mengambil sendok dari dapur. Nevan dan Zio sama-sama berjongkok dengan mata tertuju pada tanah yang tertutupi rumput swiss yang berada di belakang rumah Nevan. Nevan menoleh sekilas ketika menyadari Reya sudah bergabung bersama mereka sambil berbicara pada Zio. Nevan beralih menatap Zio saat mendengar suara tarikan ingus. Zio mengelap ingus nya dengan lengannya yang tertutupi baju karena tidak kuasa melihat ikannya yang sebentar lagi akan masuk ke dalam lubang yang tidak seberapa itu. Nevan merogoh saku jas nya dan mengeluarkan tisu menaruhnya di dalam lubang sebagai alas untuk ikan tersebut. "Masukin, ya." Ucap Nevan sebelum ia memasukkan ikan ke dalam lubang yang sudah ia sediakan. Zio mengangguk tidak ikhlas. "Jangan sedih dong." Reya mengelus-elus pipi Zio dengan lembut. Zio menggeleng. "Gak sedih kok." Reya tertawa kecil karena Zio berbicara seperti itu dengan raut wajah yang masih terlihat sedih. "Mau ditaburin bunga juga?" Tanya Nevan membuka telapak tangannya yang sudah dipenuhi oleh kelopak bunga mawar. Zio mengangguk mengambil kelopak bunga mawar yang ada di tangan Nevan dan menaburkan nya di atas gundukan tanah dimana ikan Zio berada. "Mau dibacain doa?" Tanya Nevan setelah Zio selesai menabur bunga. "Nanti aja doa nya, udah mau Maghrib masuk yuk." Ajak Reya sambil menatap langit yang mulai menggelap. Nevan membawa Zio ke dalam gendongan dan mengatakan pada Zio jika ia akan membelikan ikan baru untuk Zio nanti. ^•^ "Tante Yaya bobok situ." Zio menunjuk kamar Nevan yang juga menjadi kamarnya. "Aku tidurnya di situ." Gantian Reya menunjuk ke arah kamarnya. "Bobok sama Io!" Zio menarik paksa Reya. "Gak bisa, aku kan udah bilang gak bisa tidur sama Papi kamu." "Sama Io!" Reya berdecak kecil karena dirinya terus di tarik. Ketika Reya memaksa untuk berhenti Zio malah merengek hingga akhirnya Reya pasrah saat Zio membawanya masuk ke kamar Nevan. Reya berdiri terdiam di ambang pintu menatap lurus ke arah Nevan yang sudah memejamkan mata. "Tante Yaya!" Zio merengek saat Reya malah berbalik untuk pergi dari kamarnya. "Aku gak bisa tidur di sini." "Bisa!" Reya menggeleng. Zio menghentakkan kakinya seraya mengulurkan kedua tangannya seperti meminta untuk digendong. Reya menghela napas panjang mengangkat tubuh Zio dan menggendong Zio membawa anak itu ke tempat tidur. Tepat setelah Zio berbaring, Nevan membuka mata dan langsung menatap ke arah Reya yang tengah duduk di tepi tempat tidur. "Papi," panggil Zio saat menyadari Nevan telah membuka matanya. "Hmm?" Nevan melingkarkan tangannya di pinggang Zio. "Pintunya kunci." Zio menunjuk ke arah pintu kamar. Dan pupus lah sudah niat Reya untuk kabur dari kamar tersebut setelah Zio tertidur nanti. Anak kecil yang cerdik, pikir Reya. Nevan beranjak untuk mengunci pintu kamarnya. Reya kesal juga kepada Nevan yang benar-benar mengunci pintu kamar dan menaruh kunci tersebut di bawah bantalnya. "Biar Tante Yaya gak pergi kan?" Tanya Nevan sudah berbaring di sebelah Zio. Zio mengangguk. Nevan mengangguk lalu memejamkan matanya. Bibir Reya sedikit mengerucut melihat kelakuan antara Ayah dan anak yang tidak jauh berbeda jika sudah menyangkut tentang dirinya. "Tante Yaya bobok sini." Zio menepuk sisi tempat tidur yang ada di sebelahnya. "Iya nanti." Balas Reya sambil menatap kuku-kukunya. "Papi, Tante Yaya gak mau bobok." Adu Zio pada Nevan. Reya langsung menoleh mendengar aduan Zio. Nevan membuka mata. "Tante Yaya, bobok dong." Ucap Nevan dan berhasil membuat Zio tersenyum. Nevan dan Zio sama-sama memperhatikan Reya dimana mereka saling adu pandang. "Tante Yaya gak mau." Adu Zio lagi pada Nevan karena Reya masih saja duduk. "Tante Yaya..." Suara Nevan terdengar begitu lembut jantung Reya dag-dig-dug serta bibirnya berkedut menahan senyum. "Ini bukan kamar aku." Ucap Reya sambil menatap ke arah lemari. Nevan menyentuh lengan Zio beberapa kali membuat Zio langsung menatap Nevan jika sebelumnya mata Zio tertuju pada Reya. "Mungkin Tante Yaya mau bobok di sebelah Papi." Mata Reya membulat. "Tante Yaya mau..." "Enggak!" Reya memotong ucapan Zio. "Ya udah aku tidur di sini aja." Reya berbaring di sebelah Zio. Zio tersenyum dan langsung melingkarkan tangannya di perut Reya. "Papi peluk Io sama Tante Yaya." Ucap Zio pada Nevan yang sedang memperhatikan mereka. Reya menggeleng karena Nevan benar-benar mendekat lalu memeluk dirinya dan Zio. "Biar gak dibilang zina cepet-cepet halalin ak-" Reya menutup mulutnya. Nevan mengangkat kepalanya menjauh dari banyak menatap lekat Reya. "Apa?" Tanya Nevan dengan tersenyum memperlihatkan gigi nya. Rasa kantuk yang menyerang Nevan mendadak hilang seketika. "Oohh..." Nevan menyentuh pinggang Reya menggoda gadis itu. "Ih muka nya langsung merah." Nevan tertawa melihat wajah Reya memerah seketika. "Udah awas." Reya menepis tangan Nevan yang sudah beralih berada di pipinya. Zio hanya diam memperhatikan Nevan dan Reya. Zio sedikit meringis ketika tubuh mungilnya dihimpit oleh tubuh Nevan dimana Nevan sedang menggoda Reya. "Ih Papi." Zio berusaha mendorong tubuh Nevan namun tenaga Zio sama sekali bukan apa-apa untuk Nevan, malah Nevan tidak menyadari Zio yang sedang berusaha mendorongnya. "Udah gak sabar banget kayaknya." Goda Nevan sambil mencolek-colek pipi Reya. "Ih awas!" Entah sudah berapa kali Reya menepis tangan Nevan. "Udah gak sabar ya?" Nevan terus menggoda Reya dan malah membuat wajah Reya semakin merona. "PAPI!!!" Nevan dan Reya terkejut mendengar teriakkan Zio. Zio mendorong tubuh Nevan dan berhasil membuat Nevan menjauh. Setelah Nevan menjauh Zio langsung turun dari tempat tidur. "Eh-eh mau kemana?" Tanya Nevan sambil tertawa melihat Zio berjalan dengan cepat ke arah pintu kamar dengan bibir yang mengerucut. Zio berjinjit untuk memutar kenop pintu. "Pintunya kan di kunci." Ucap Nevan seraya menjadikan tangan kirinya sebagai bantalan. Zio terduduk di depan pintu dengan kaki yang menekuk serta bibir yang mengerucut. "Mau di situ aja? Iya?" Tanya Nevan. Zio tidak menjawab. "Ya udah, Papi di sini enak sama Tante Yaya." Tubuh Nevan berbaring menyamping lalu memeluk Reya. Reya mencubit perut Nevan membuat Nevan meringis namun tidak dilepaskan oleh Nevan pelukannya. "Tangannya jangan kebiasaan!" Reya memukul tangan Nevan. "Bentar aja, kamu gak liat Zio lagi ngambek." Reya sedikit mengangkat tubuhnya untuk menatap Zio yang masih duduk di depan pintu kamar. Reya ingin tertawa namun ia juga kasihan pada Zio. "Tapi kasihan, bawa ke sini Zio nya." Reya mendorong d**a Nevan. Nevan pun melepaskan pelukannya dan berbaring menyamping menghadap Zio. "Sini, anak Papi." Nevan mengulurkan tangannya pada Zio. Zio tidak menggubris Nevan. Nevan bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang terasa lelah karena sesungguhnya ia ingin segera tertidur. "Uluh-uluh, masa ngambek." Nevan membawa Zio ke gendongannya lalu mencium pipi Zio berkali-kali. "Good night." Ucap Nevan pada Zio yang sudah berbaring di antaranya dirinya dan Reya. Zio mengangguk seraya memeluk Reya. "Gak mau kiss Papi?" Tanpa melepaskan pelukannya Zio menatap Nevan kemudian mengerucutkan bibirnya. Setelah mencium Zio Nevan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka bertiga. Nevan memperhatikan Reya dan Zio yang sudah terlelap. Cukup hanya dengan mengelus kepala Reya dan Zio, Nevan pun ikut tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD