4

538 Words
"Kamu ngapain jalan sama doktor reza hah." siti mengatakan nya dengan biasa saja tenang tapi serat dengan penekanan, penuh emosi. Setelah sampai di rumah siti ibunya ayu, siti langsung membrondongi ayu dengan berbagai pertanyaan. "ayu cuma nemenin doktor reza belanja bu, karena di ajak beliau." "Kamu gak boleh dekat-dekat sama doktor reza, meskipun di ajak ama dia kamu jangan mau. Kamu tuh gak pantes dekat-dekat sama laki-laki seperti doktor reza. Kita harus sadar diri, kita tuh cuma petani gak cocok dekat-deket sama laki-laki sekelas doktor seperti doktor reza. Ngerti kamu." Siti membentak ayu di akhir kalimat dan itu jelas membuat ayu kaget. Tapi ayu bisa cepat menguasai dirinya karena ia sudah terbiasa dengan bentakan sang ibu. "iya bu." jawab ayu semberi menundukan Kepalanya. "Ibu denger deri paman kamu, kamu mau kerja di kota ya." Siti mengalihkan pertanyaan nya. "iya bu. Insya Allah minggu depan aku berangkat. Do'ain ya bu, supaya segala sesuatu nya di lancarkan." "Amin. ibu do'ain kamu kalo kamu emang mau kerja di kota." Sembari tersenyum siti mengatakannya. Ayu tersenyum bahagia mendengar ucapan ibunya. "Tapi kalo kamu udah gajihan kamu kirimin ke ibu yah, jangan di kirimin ke nenek kakek kamu. Nanti habis uang kamu sama mereka, kalo di kirimi ke ibu, kan bisa ibu beliin kambing biar bertambah uang kamu." Senyum ayu yang awalnya merekah mendengar do'a ibunya perlahan berganti dengan senyum kecutnya, mendengar lanjutan kata yang di ucapkan ibunya. Ternya ibu sudah berubah banyak setelah ibu menikah lagi. Di perjalan pulang ke rumah neneknya, ayu berhenti di sungai tempat biasa ia dan neneknya membersihkan diri setelah bekerja di sawah. Duduk di batu yang ada di pinggir sungai. Ayu menatap aliran air jernih sungai yang mengalir dengan derasnya. Seiring dengan itu air mata ayu juga mengalir dengan derasnya. "kenapa bu?...kenapa ibu berubah saat ibu menikah lagi, apalagi setelah ibu punya anak lagi. Kenapa ibu berubah padaku bu?..." Ayu terus menangis dalam diamnya, tapi air matanya tak juga berhenti mengalir. Mengingat bagaimana sikap ibunya pada Ayu. Dulu ibunya adalah ibu terbaik bagi ayu saat ayahnya masih ada. Mengusap kepalanya, mencium nya, memeluk nya, menyuapinya, menasehatinya dengan baik. Tapi, itu dulu saat ayahnya masih ada. Sekarang ibunya bahkan meminta uang darinya hanya untuk membeli baju lebaran agar seragam dengan keluarga baru ibunya. Ibunya juga sering meminjam barang yang baru di beli ayu, untuk ia kenakan terlebih dahulu. Misal jika ibunya tau ayu membeli hijab baru, ibunya pasti meminjam terlebih dahulu untuk ia kenakan ke pengajian, dan mengembalikan setelah ia memakainya. Ayu yang pada dasarnya terlalu polos, dan terlalu menyayangi ibunya, ayu pasti menurut dengan apa yang di inginkan ibunya. Tapi, setelah sekarang ayu sering di nasehati pamannya, ayu mengerti jika selama ini ia sering di manfaatkan ibunya sendiri. Ayu tertawa mengingat kata yang di ucapkan ibunya tadi 'jangan di kirimin ke nenek kakek kamu, nanti habis uang kamu sama mereka.' Bahkan ibunya sudah mempermasalah-kan soal uang, tidak tau apa kehidupan ayu juga di kota belum tentu lancar. . . . Di malam hari ayu menceritakan semua yang di katakan ibunya. yasin paman ayu tertawa mendengar cerita ayu. Yah ayu akan selalu cerita apapun pada pamannya. Karena hanya pamannya yang mengerti ayu, pamannya juga yang selalu menjaga ayu. Yasin menatap ayu seraya tersenyum dan mengusap kepala ayu sayang. "Yu kalo nenek sama kakek mau habisin uang kamu, kenapa juga nenek sama kakek mau ngurusin kamu setelah ayah kamu meninggal, ngapain juga nenek sama kakek mati-matian cari uang buat nyekolahin kamu. Nanti di kota sana, kamu dapat kerja dapat gaji pertama kamu, kamu gunakan sebaik-baiknya untuk keperluan kamu, jika ada sisa kamu simpan di rekening kamu, supaya jika kamu tidak punya uang dan kamu butuh, kamu bisa ambil. Tapi jika suatu saat kamu punya rezeki lebih, kamu ingin memberi pada ibu kamu, berikan mereka secukupnya. Karena kamu juga punya masa depan, jadi kamu harus pintar-pintar mengatur uang kamu." ucap yasin panjang lebar. Manik ayu berkaca-kaca mendengar nasehat yasin. Ayu memeluk yasin erat. Tangis ayu tumpah di dekapan sang paman yang selalu menasehatinya dengan baik, dan mengerti dirinya. "Terimakasih." Hanya kata itu yang bisa ayu katakan pada paman tercintanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD