3

591 Words
"Terimakasih ya, saya minta maaf jadi meropotkan kamu juga nenek kamu." ucap doktor reza sembari bejalan keluar rumah ayu, yang di ikuti oleh ayu dari belekang. "sama-sama dok. Doktor tidak usah sungkan kepada saya. jika doktor perlu sesuatu doktor bisa minta bantuan saya." "Terimakasih banyak sekali lagi. Kamu sangat membantu saya di desa yang baru saya datangi ini." Ayu tersenyum sembari mnggangguk. "Kamu nanti sore ada acara apa." "Tidak ada acara apa-apa." "Apa boleh saya meminta bantuan kamu lagi?." "Tentu saja jika saya sanggup membantu, saya akan membantu." "Terimakasih sebelum nya. m... bagaimana jika nanti saya jemput kamu setelah selesai saya praktek." "memangnya kita mau ke mana." "Saya mau, kamu antar saya berbelanja ke pasar atau tempat pembelanjaan yang dekat sini. Itupun jika kamu mau." Ayu tersenyum dan mangguk, dan itu berhasil membuat getaran di d**a doktor reza samakin bergetar, melihat senyum manis ayu. "Iya boleh. Jika nini saya mengijinkan saya pergi dengan doktor. Saya akan mengantar doktor berbelanja dekat sini." "Terimakasih sebelum nya. Kalo begitu saya permisi dulu." Reza pergi sembari memegangi d**a nya yang bergetar hebat ketika berdekatan dengan ayu, apalagi melihat senyum ayu yang manis di hiasi lesung pipi dan gigi ngingsulnya membuat ayu semakin terlihat manis. Sebenarnya reza tau di mana tempat pembelanjaan di kampung yang baru di datanginya itu, karena semalam ia lewat jalannya. Tapi, entah kenapa ia lebih memilih pura-pura tidak tahu tentang kampung itu, dan lebih tertarik meminta bantuan pada gadis yang baru ia temui pagi ini. Ayu kembali masuk ke rumahnya. Membantu neneknya yang sedang menjahit baju dinasnya, baju kerjanya di sawah karena robek kamarin saat menanam padi. Hari ini ayu dan neneknya tidak ke sawah karena, bekerjaan di sawah sudah selesai kemarin. Jadi ayu bisa santai hari ini. Setelah membantu neneknya ayu mengambil kertas gambar dan pensil. Ia membuat seketsa baju yang ada di otak pintarnya ke dalam kertas putih yang di coreti pensil dengan hati-hati agar sketsa yang ingin ia buat tidak gagal.Itulah hoby ayu. Menggambar sketsa-sketsa baju gamis yang ia sukai. Ayunindya lulusan smk di jurusan seni dan indrustri kreatif, di sekolah smk yang ada di kampung nya. Ia baru saja lulus satu bulan yang lalu karena itu ayu tidak mengerjakan apa-apa di rumah jika bukan membantu neneknya ke sawah, sebelum ia berangkat ke kota untuk mencari pekerjaan. Ayu berniat ke kota tinggal bersama pamannya yang juga tinggal di sana. Seperti yang direncanakan pagi tadi, sore hari reza menjemput ayu untuk membantu nya berbelanja kebutuhannya. Reza tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk pdkt dengan ayu. "Kamu masih sekolah?." di perjalan pulang mereka bejalan beriringan menyusuri pinggir jalan, reza terus saja bertanya pada ayu. "sudah lulus." jawab ayu seadanya. "mau melanjutkan kuliah atau menikah?." "Maunya sih kuliah, tapi saya belum ada biyaya. Kalo menikah juga belum ada calonnya." "Kan ada saya." Ayu menoleh pada reza. Bukannya baper ayu malah tertawa mendengar ucapan reza yang ia kira becanda itu. "kok kamu ketawa sih." "doktor reza lucu." "kok lucu si." "ya lucu baru ketemu tadi pagi udah ngajak nikah." reza cemberut mendengar ucapan ayu. "Ayu" Teriak seseorang dari belakang ayu. Seketika tubuh ayu menegang mendengar suara itu.Suasana yang tadi penuh dengan tawa ayu seketika sunyi dengan teriakan seseorang dari belakang ayu dan reza. "ibu" ayu menoleh pada sumber suara dan menundukan kepalanya langsung saat maniknya tak sengaja beraitatap dengan wanita yang ia panggil ibu itu. "Sini kamu ikut ibu." Ayu mengangguk dan menoleh pada reza yang sedang menatap nya. "Maaf yah saya hanya bisa mengantar doktor sampai sini." "tidak apa-apa." ucap reza. "Ayu buruan." "iya bu sebentar." Ayu berjalan meninggal kan reza dan mengikuti langkah ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD