2

563 Words
Pagi yang cerah. Ayu membereskan halaman rumahnya. mungumpulkan daun kering dengan sapu lidinya. Hari ini ayu lagi membantu neneknya ke sawah untuk menanam padi karena pekerjaan nenenya sudah beres kemarin. Saking pukusnya ayu membersihkan halaman sampai tak menyadari ada orang di belakangnya sedang memerhatikannya. "permisi" ayu yang merasa ada yang berbicara di belakangnya segera berbalik. saat ayu manik atu melihat wajah orang yang yang berbicara padanya, sama dengan wajah orang yang tadi pagi membuat nya merasa malu sendiri, segera ia menundukan kepalanya. "i..iya." dengan sedikit gugup ayu menjawab. "maaf. apa boleh saya bertanya?." laki-laki yang sama saat tadi pagi bertemu di kamar mandi dengan layla itu bertanya dengan senyumnya, meskipun aku tak melihat senyum manis laki-laki itu karena ayu masih saja menundukan Kepalanya. "si...silahkan" laki-laki itu semakin tersenyum mendengar jawaban ayu yang terbata setiap menjawab pertanyaan nya. "lucu sekali gadis ini" fikirnya. "di daerah sini ada yang jualan bubur nggak yah?." "jualan bubur?." ucap ayu mengulang pertanyaan laki-laki itu. "iya. saya ingin mencari sarapan, saya ingin membuat sarapan sendiri tapi,,,,, tidak ada yang bisa saya masak di rumah karena saya baru datang kemarin dari kota" "tapi tidak ada yang berjualan bubur di kampung ini jika bukan di pasar" ucapan ayu sukses membuat laki-laki itu cengo. dia bingung sendiri saja sekarang, harus dimana ia mencari sarapan jika bukan di pasar, syukur-syukur jika pasarnya dekat jika jauh ia akan terlambat untuk praktek di puskesmas tempat barunya ia bekerja itu akan terlambat. Ayu yang melihat laki-laki itu diam kembali bertanya padanya. "maaf kalo boleh tau tujuan bapak datang ke kampung ini untuk apa ya?."pertanyaan ayu seukses membuat laki-laki yang sedang melamun itu melihat ke arah ayu netra mereka bertemu seolah ada yang mengunci hingga ayu yang selalu menundukan kepala saat bersitatap dengan lawan jenisnya terpaku dalam untuk beberapa saat hingga akhirnya ayu memamalingkan muka lebih dahulu. Laki-laki yang tadinya tidak terima dengan gadis yang memanggilnya bapak itu dan gadis itu sepertinya mencurigainya, yang datang ke kampung nya dan ingin menyeruakan isi hatinya tidak terima seolah melupakannya setelah bersitatap dengan manik jernih gadis yang baru ia temui itu bahkan belum tau ia belum tau nama gadis itu. " m..maaf. Nama saya syahreza, saya baru datang kemarin dari kota untuk menggantikan dr.mila yang di pindah alihkan tugas." Ayu yang tadinya memalingkan muka seketika maniknya melihat ke arah pengganti dr.mila yang baru ia ketahui itu. pantas saya tadi pagi doktor ini mandi di kamarmandinya kan puskemas bersebelahan dengan rumahnya. "oh jadi bapa ini pengganti dr.mila."ucap ayu. "iya" "jadi bapak ini doktor?." ucap ayu lagi. "iya" lagi-lagi dr.riza hanya mengiyahan ucapan ayu. "maaf yah, saya sudah berpikiran buruk tadi pada pak doktor" ucap ayu merasa tak enak hati, secara tak langsung kata-katanya tadi pasti sudah menyinggung perasaan doktor baru itu. "tidak masalah saya mengerti. Di jaman sekarang banyak penipu yang datang ke kampung-kampung untuk menipu warga, jadi wajar berpikiran seperti itu pada saya." ayu merasa malu dengan pemikirannya pada doktor reza, apalagi dengan mudah doktor andre menebak pemikiranya. "kalo pak doktor mau dan berkenan, pak doktor bisa sarapan di rumah kami, kebetulan tadi ema masak banyak."Ayu merasa tak enak dengan doktor baru itu, karena itu iya mengajak doktor itu sarapan di rumahnya, daripada doktor reza harus mencari sarapan di luar, apalagi hari sudah semakin siang pasti doktor reza sebentar lagi akan mulai praktek. "Apa tidak apa-apa?." ucap doktor reza dengan ragu. "tak apa-apa dok" ayu melangkah masuk kerumahnya trlebih dahulu. "mari dok" ucap ayu dengan senyumnya yang berhasil membuat doktor reza terpesona, bangai mana tidak terpesona dengan senyum gadis berhijab sepeti ayu, walaupun ayu sering ke sawah tapi tak membuat kulit ayu gosong karena atu pandai merawat diri.Walaupun kulitnya tak seputih artis korea, tapi dengan kulit putih terawat lesung pipi di pipi, gigi ginsul di sebelah kiri membuat ayu tampan sempurna. Doktor reza mengikuti ayu untuk numpang sarapan di rumahnya. meskipun malu karena ia baru datang tadi malam dan langsung praktek hari ini, ia tidak sempat belanja untuk makannya sendiri. Doktor reza yang memebang terbiasa tinggal di kota tidak tau jika di kampung sulit untuk mencari sarapan saja, karena di kampung ayu ini biasanya warga akan membuat sarapannya sendiri jadi jarang ada yang jualan untuk sarapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD