Chap 3

1137 Words
Dentuman suara musik begitu keras sehingga memekakan telinga. Banyak sekali pria dan wanita yang menari di lantai dansa. Wanita dengan pakaian yang sangat minim dan beberapa wanita menggoda pria agar mendapatkan uang. Dilantai dansa banyak pria dan wanita yang meliuk liukkan badannya mengikuti alunan musik dj. Tidak dengan pria yang sedari tadi duduk di kursi bar dengan banyak minuman yang telah ia habiskan. Sehingga membuat dirinya hilang kendali. Teman temannya sudah berusaha menghentikan aksi gila pria itu yang dari tadi tak henti hentinya meminum alkohol dengan kadar yang tinggi. "Stop! Riko, lo gak bisa terus terusan kayak gini!" Nathan merampas air minum Riko. "Pulang sekarang!" suara Bintang tegas dengan berteriak karna musik diclub ini terlalu keras. "Buat apa gue pulang, bonyok gue gak peduli sama gue, mendingan gue mati aja sekalian!" Riko sempoyongan tidak bisa mengimbangi badannya yang terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. "Masih ada kita yang selalu ada buat lo!" bentak Bintang. "Gue butuh kasih sayang bonyok gue! Bukan belas kasihan kalian!" tegas Riko. "Pulang!" Nathan menarik tangan Riko, Riko melepaskan tangan Nathan kasar hingga nathan terjatuh. "Gue bilang gak mau paham lo!" tunjuk Riko dan kembali duduk di kursi bar. "Gimana cara bawa pulang Riko?" tanya bintang ke Iqbal dengan sedikit berteriak. "Gue gak tau, makin hari Riko makin menjadi!" "Kita cari solusinya gimana nih? Percuma kabarin bonyoknya, dia gak bakalan peduli!" "Cari jalan keluar lain." Sedangkan di tempat yang sama tampak 4 orang gadis dengan pakaian minimnya bersama 2 orang pria yang diketahui temannya. Mereka sedang menikmati pesta kecil kecilan yang sering mereka buat. Hanya sekedar minum alkohol dengan kadar rendah. Tampak 2 orang pria digelanyut manja sama jalang di club tersebut. 2 orang pria itu tampak risih dengan jalang yang menempel padanya. Biarpun 2 orang pria itu sering ke club tapi dia tidak suka dengan jalang. "Eh Naya itu bukan Riko ya," tunjuk Agatha saat melihat Riko mendorong Nathan. Anaya pun menoleh ke arah tunjuk Agatha. "Oh iya itu riko Nay," sahut Rizwan sedikit berteriak. "Ngapain dia kesini?" gumam Naya yang di dengar Diana. Diana menoyor kepala Anaya membuat sang empunya meringis. "Lo gak lihat dia mabok b**o!" "Gak usah di toyor juga kali!" "Bintang sama naNathanthan kayak orang linglung gitu coba susulin," ujar Syahrul. Mereka pun menyusul Bintang dan Nathan. "Woy bro!" Rizwan menepuk pundak bintang dan Nathan membuat kedua orang itu terkejut. "Yeh si anjing ternyata," Nathan terkekeh. "Lo ngapain kesini?" tanya Syahrul. "Noh dari tadi di suruh balik gak mau." Bintang menunjuk Riko yang sedang mabuk berat. "Riko kenapa bisa gitu?" tanya Anaya. "Lo cek sendiri aja," ucap Nathan. Anaya pun menyusul Riko di kursi bar. Kondisi Riko yang sangat acak acakan, mata yang sembab seperti lelah, badan yang sempoyongan. "Riko!" panggil Anaya dengan berteriak. Riko pun menoleh ke arah Anaya. "Gue gak mau pulang!" bentak Riko setengah sadar. Plakk Riko menampar Anaya sehingga membuat Anaya tersungkur. Mereka yang melihat itu membantu Anaya berdiri. "Lo apa apaan sih hah!" bentak Syahrul. "Apa!" Riko menantang Syahrul. Syahrul yang geram pun menarik kerah baju Riko. "Udah stop!" teriak Anaya. "Dia gak sengaja nampar gue," sambung Anaya. "Gak sengaja gimana jelas jelas dia nampar lo!" Chelsea yang mulai tampak marah. "Gue bisa selesaikan masalah gue," kata Anaya. "Riko lo harus pulang!" tegas Anaya. "Gue bilang gue gak mau!" Brukk Tubuh Riko ambruk di lantai dengan cepat Nathan dan Rizwan membantu Riko. "Bawa ke mobil gue," ucap Anaya. "Gak mungkin kan kita bawa pulang Riko dalam keadaan kayak gini," sahut Syahrul. "Ke apartemen gue aja," kata Anaya. Mereka pun membawa Riko masuk ke dalam mobil Anaya. Mereka membawa Riko ke apartemen Anaya. Setelah membawa masuk Riko ke apartemen mereka pamit pulang karna hari juga udah malam dan besok masih sekolah. Anaya melepaskan sepatu Riko dan membaringkan Riko di sofa apartemennya. "Riko mau mama," racau Riko menggenggam tangan Anaya. Anaya kaget saat Riko menggenggam tangannya. "Riko," panggil Anaya. "Riko mau mama sama papa." "Riko ini gue Anaya bukan bonyok lo." "Riko pengen kayak dulu lagi." Anaya heran Riko mengigau dari tidurnya. Anaya semakin bingung apa maksudnya pengen mama dan papanya. Anaya berdiri dan berusaha melepaskan genggaman tangan Riko namun nihil Riko malah menariknya dan membuat Anaya terjatuh di atas badan Riko. "Aaa," pekik Anaya saat jatuh di badan Riko. Jantung anaya berdegup kencang saat melihat wajah polos Riko. Entahlah kenapa dadanya tiba tiba maraton seperti ini. "Gue sayang sama lo." mata Riko masih terpejam ia memeluk pinggang Anaya yang berada di atasnya itu. "Apaan sih riko lepas ish!" Anaya mencoba melepaskan dirinya dari Riko namun nihil Riko malah mengeratkan pelukannya. Gimana gue mau gerak coba meluknya kencang amat dah. Nih orang kalo bukan mabok udah gue jotosin dah batin Anaya kesal. Anaya mencoba melepaskan pelukannya namun nihil tidak bisa. Anaya yang mulai lelah pun akhirnya tertidur di atas badan Riko dengan menyenderkan kepalanya di d**a Riko. * * * * Dari tadi Riko dan Anaya adu cekcok terus. Si Riko yang meyalahkan Anaya begitupun sebaliknya. "Eh kutil arab yang modus itu lo yah bukan gue!" kesal Anaya. "Lo ada di atas badan gue!" "Eh badak arab kalo lo gak narik gue, gue gak bakalan ada di atas lo!" "Modus." "Serah lo dan gue mau ke sekolah. Kalo lo gak ada pakaian di lemari tamu ada pakaian sekolah buat cowok mungkin muat di lo." "Hm." Anjir balik lagi jadi dingin batin Anaya. Anaya pergi ke sekolah meninggalkan Riko di apartemennya. Anaya sangat kesal sekali gak ada kakeknya di pagi hari ada Riko. Huh memang kehidupan Anaya selalu saja penuh dengan omelan kesalahan dirinya sendiri. Padahal dirinya gak salah salah amat gitu. Anaya sampai di sekolah. Ia memarkirkan mobilnya dan sudah melihat temannya yang datang dan menunggu dirinya. "Gimana malam lo sama Riko?" goda Diana. Anaya memutar bola matanya malas. "Beh asik banget gila, sumpah yah bodynya itu wow." Anaya menjelaskan dengan gaya membentuk lekuk tubuh Riko. "Terus terus lo ngapain sama dia?" tanya Chelsea. "Ah kalo ini lo gak bakalan bisa bayangin gue ngapain sama Riko," ucap Anaya dengan pura pura melas. "Lo gak perawan lagi," kaget Agatha. "Yah kalo lo hamil anak Riko gimana?" muka Diana melas. "Yah gak gimana gimana," cuek Anaya dan pergi meninggalkan temannya itu. Anaya tertawa melihat temannya itu yang tertipu akan ucapan Anaya. Teman Anaya masih mencerna perkataan Anaya. Dasar bodoh mau aja gue temanan sama mereka omongan gue di percaya makanya jangan ngenes punya otak gini nih punya kawan otak m***m semua batin Anaya. "Jadi kalo anaya hamil!" Chelsea melotot tak percaya. "Gue rasa ada udang di balik bakwan kak eka nih," kata Diana. "Bakwan kak eka turun harga kali," asal agatAgathaha. "Eh koplak, mana mau kak eka nurunin harga bakwannya." Diana menoyor kepala Agatha. "Ah elah kita ditipu anjir sama Naya," kesal Chelsea. "ANAYA!" teriak Agatha, Diana, dan Chelsea kesal murid yang melewati mereka menutup kupingnya. "m***m!" teriak Anaya dan memasuki kelasnya dengan tertawa. Mengerjai teman temannya adalah hal yang wajib dilakukan Anaya saat sedang kesal. Yah temannya itu bisa jadi lola seketika kalo udah ngomongin yah yang luar dari penalaran. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD