Anaya sedang berada di mobil Riko. Ia memaksa pulang bersama Riko. Riko tampak acuh saja dengan kehadiran Naya.
Naya memandangi Riko dengan teliti seperti detektif saja. Riko yang merasa risih di pandangi Anaya pun meminggirkan mobilnya di pinggir jalan yang tampak sepi sekali bahkan angkutan umum saja tidak ada lewat hanya beberapa motor yang berlalu lalang saja.
Riko memandangi Anaya saat mobil nya berada di pinggir jalan.
"Turun!" perintah Riko. Anaya pun melihat sekitarnya ternyata ia sudah di pinggir jalan.
"Ini bukan rumah gue b**o!" kesal Anaya.
"Terus."
"Yah anter gue balik lah."
"Turun sekarang!"
"Lo gila nurunin cewek secantik gue di pinggir jalan! Gue terlalu seksi buat turun disini nanti kalo ada preman atau apalah yang nyegat gue gimana! Gak ada kasihannya lo yah sama gue! Heh yang mau sama gue itu banyak tapi gu--" omelan Anaya terpotong.
"Gue nyuruh turun bukan ngomel!" Anaya mendengus sebal.
"Engga!"
"Turun!"
"Gue bilang engga ya engga!"
"Turun!"
"Antar sampe rumah yah," pinta Anaya memohon dan menyatukan tangannya di depan d**a.
"Turun sekarang!" ucap Riko penuh penekanan.
Anaya turun dengan perasaan kesal. Gak kesal gimana coba masa cewek secantik dia di turunin di pinggir jalan kayak cabe goceng.
Anaya makin kesal saat mobil Riko meninggal dirinya di pinggir jalan. Ia kira nanti Riko akan menyuruhnya kembali masuk ke mobil dan mengantarnya pulang kayak di film film gitu.
Ternyata gak ada niatan sama sekali ngantarin Naya pulang. Ngantarin cuman setengah jalan doang lagi.
Sepanjang jalan Anaya tak henti hentinya menggerutu kesal dan menghentakkan kakinya.
"Ish emang ada cewek secantik dan sebohay gue diturunin dipinggir jalan kayak cabe cabean!"
"Awas aja tuh ketos rese gue teror dah lo!"
"Gue ikutin kemana lo biar dibilang cewek murahan sekalipun gue gak perduli!"
"Gue harus masuk ke kehidupan riko demi jawaban dari pertanyaan gue selama ini!"
"Ah elah serasa gembel gue disini"
"Mana gak ada angkutan umum lagi!"
Anaya makin kesal tak ada satupun kendaraan yang lewat. Ia heran ini jalan raya atau jalan setan sih apa mungkin yang lewat makhluk gaib doang. Memikirkannya saja sudah sangat takut apalagi asli.
Oh god ternyata jalanan ini memang punya setan buktinya di depan sana tak jauh dari Anaya berjalan ada sekumpulan preman yang memandangi Anaya dengan kelaparan. Bagaimana tidak rok Anaya yang sangat pendek di atas lutut dan menampakkan paha mulusnya sedikit.
Oh god riko tunggu pembalasan dari gue karna lo gue harus berhadapan dengan preman sialan ini mana gue takut lagi, orang mana sih gak ada niatan gitu nolongin bidadari batin Anaya kesal. Ia merutuki dirinya kenapa mau maunya turun dari mobil riko.
"Hay cantik," sapa salah satu preman saat Anaya sudah berjalan mendekat.
"Hay juga abang abang preman," balas sapa Naya dan melambaikan tangannya.
"Dari mana nih cantik?" tanya Preman.
"Dari sekolah lah b**o lo pikir dari mana hah!" Anaya menoyor kepala preman yang bertanya kepadanya.
"Galak amat bos," sadu preman itu kepada bosnya.
"Udah deh gue mau pulang!" ucap Anaya.
"Kita main dulu cantik" Preman itu ingin memegang tangan Anaya dnegan cepat Anaya menepis tangan prema itu.
"Mau main apa sih! Gak pegang bisa kan? Mau main barbie, robot robotan, pistol, atau mau main perang perangan," tebak Anaya dengan mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya.
"Gimana kita main kuda kudaan aja di kamar," ucap salah satu preman itu dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ck m***m banget sih," gerutu Anaya kesal.
"Gimana mau kan?" tanya preman itu dan menyentuh rambut Anaya. Anaya menepis tangan preman itu.
"Lepas!" bentak Anaya saat kedua preman itu memegang tangannya hingga terkunci.
"Gak bisa kemana mana cantik." Anaya memalingkan wajahnya saat bos preman itu mencolek dagunya.
"Ish lepas gak!" bentak Anaya.
"Kita bermain main dulu."
"Hahaha."
Preman itu tertawa merasa anaya tidak bisa berbuat apa apa. Anaya mengejamkan matanya. Mata yang hitam kini berubah menjadi merah darah saat ia membuka matanya.
Para preman itu pun takut melihat aura yang dikeluarkan Anaya saat membuka matanya. Aura yang menyeramkan membuat siapa saja menjadi takut dan merinding.
"Lepas!" ucap Anaya pelan.
"Engga bisa sayang." Bos preman itu mencolek dagu anaya. Membuat Anaya menjadi memanas dan mengeluarkan aura mematikan.
Bugh
Bugh
Krekk
Krekk
Bugh
Anaya menjadi geram dan memukul preman itu membabi buta. Para preman itu terkulai lemas di jalanan dengan luka lebam dan darah yang mengalir di hidung, mulut dan matanya.
Mata Anaya yang merah darah kini berubah menjadi hitam kembali. Anaya tersadar dan terkejut saat melihat preman itu terkulai lemas di jalanan dan tak sadarkan diri.
Ah elah mampus nih gue siapa sih yang nonjokin preman ini batin Anaya.
"Aduh pak preman maaf Anaya gak tau yang mukulin pak preman siapa?"
"Anaya sadar sadar pak preman udah lebam aja gini."
Anaya berjongkok mengecek luka para preman yang tak sadarkan diri itu.
"Maaf pak bukan Anaya, Anaya gak tau sumpah!" Anaya menyatukan tangannya di depan d**a dengan memohon mohon.
"Anaya kabur aja yah nanti disangka mukulin bapak preman ini."
"Eh tuh kan manggilnya bapak, eh gak papa deng."
"Maaf yah pak naya kabur dulu yah," pamit Anaya berjalan pelan melewati tubuh preman itu. Ia terus saja menyatukan tangannya di depan d**a dan memohon maaf.
Entahlah Anaya tidak sadar apa yang ia lakukan. Yang ia ketahui hanya saat ia sadar preman itu sudah terkulai lemas di jalanan.
* * * *
Kini seorang cowok sedang berada di kamarnya. Ia bersandar di pintu kamarnya menyaksikan perkelahian antara orangtuanya. Selalu saja seperti ini.
Ia juga mau hidup dengan damai seperti keluarga temannya tidak ada cekcok antara suami istri.
Cowok itu tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Yang ia tahu keduanya salah karna menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan dan cekcok yang tak henti hentinya.
"KAMU TIDAK TAHU DIRI! AKU MELIHATMU DI CLUB BERSAMA PRIA LAIN!"
Plakk
"OH DISINI HANYA AKU YANG SALAH TERUS KAMU APA! BERMESRAAN DENGAN SEKRETARIS SENDIRI HAH!"
"DIA SEKRETARISKU TIDAK LEBIH!"
"APA HARUS SEKRETARIS MEMAKAI PAKAIAN TERBUKA DI DEPAN ATASANNYA!"
"APA SALAHNYA! ITU PAKAIAN DIA!"
Plakk
Perkelahian dan adu mulut sering saja terjadi antara keluarganya itu. Ia ingin juga mempunyai keluarga yang harmonis tidak seperti ini.
Ia malu saat orang mengenali ayah atau ibunya dan melihat ayah atau ibunya bersama orang lain dengan mesra.
Prangg
Plakk
Rumahnya ini tiada hari tanpa perkelahian. Bahkan dirinya sendiri saja tidak pernah diperhatikan. Ia juga butuh kasih sayang biarpun seorang cowok. Ia tidak perlu uang berlimpah setiap bulannya, tidak perlu harta banyak, fasilitas dimana mana, ia hanya ingin melihat kedua orangtuanya akur itu saja.
Ya cowok itu adalah Riko. Riko teman anaya si ketos. Ia selalu meraih prestasi di sekolahnya. Ia lebih suka berada di luar daripada di rumah yang seperti neraka.
Terkadang jika kedua orangtuanya ada urusan bisnis diluar kota pun terpisah. Mamanya di kota lain papanya di kota lain.
Ia tahu kedua orangtuanya berselingkuh. Keduanya sama sama salah tapi tidak mau disalahkan dan maunya menang sendiri.
Cara pola pikir kedua orangtuanya salah. Jika sudah berselingkuh kenapa tidak bercerai saja dan memilih jalan masing masing.
Inilah yang membuat Riko menjadi dingin dan datar. Ia berubah seperti ini karna orangtuanya. Dulu ia sangat disayangi kedua orangtuanya itu tapi semenjak menginjak kelas 6 SD Riko menjadi berubah 180° atau sepenuhnya.
Riko mengambil jaketnya dan kunci motornya. Ia membuka pintu kamarnya dan turun ke bawah untuk menenangkan diri entah kemana. Ia turun saat keadaan sudah aman terkendali.
Ia tak tahu kemana pergi kedua orangtuanya itu. Ia hanya menginginkan kasih sayang saja tidak lebih. Tetapi itu telah sirna seolah olah keinginannya itu tidak bisa ia gapai.
Riko melajukan motornya membelah jalanan yang malam. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya saja. Melepaskan beban pikirannya sejenak.