Sepanjang mata memandang, hanya ada lautan di sekitar mereka. Flynn dan lima makhluk kecil di atas sampan itu belum menemukan tanda-tanda bahwa mereka akan sampai. Matahari siang itu cukup terik membakar kulit, tetapi mereka tetap melanjutkan perjalanan.
"Menurut perkiraan aku, seharusnya sekarang kita bisa melihat sebuah pulau yang memiliki air terjun menjulang tinggi," ucap Flynn seraya menggaruk kepala, kedua matanya fokus pada peta dan samudra di sekeliling kapal mereka.
"Kau tidak salah menentukan arah bukan?" tanya Dax khawatir.
"Tentu saja tidak, aku sangat yakin."
"Biar aku lihat." Flora terbang ke atas peta yang dipegang oleh Flynn, lalu mengamatinya perlahan.
"Apa pulau ini yang kau maksud?" tanya Flora, tangan mungilnya menunjukan sebuah gambar pulau di atas peta.
"Ya, jika dilihat dari peta kita sudah hampir dekat dengan pulaunya," jawab Flynn.
"Tetapi aku hanya melihat laut biru sepanjang mata memandang," ucap Fawna yang menerawang jauh ke depan.
"Tunggu dulu, apa ini?" Lin Lin menunjuk gambar kumpulan hiu di peta milik Flynn. Gambar itu terlukis tidak jauh dari pulau tujuan mereka.
"Ini adalah lokasi di mana hiu putih sering terlihat, tapi kalian tenang saja sebab kita sudah melewati tempat ini," ucap Flynn sangat yakin.
"Kau yakin."
"Ya."
"Lalu mengapa kita tidak bertemu atau melihat hiu putih satu ekor pun saat melintas tadi?" tanya Dax.
"Mungkin mereka sedang tidur siang," jawab Liggy yang tidak bisa diterima oleh mereka, terutama Fawna yang melihat sesuatu berenang ke arah kapal mereka di kejauhan.
"Hiu putih tidak sama denganmu," kata Lin Lin.
"Aku yakin kita belum melewati tempat ini. Tidak akan semudah itu melintasi kawasan hiu putih," komentar Dax.
"Apa maksudmu, kau tidak percaya pada perkiraanku?" balas Flynn.
"Sepertinya begitu," balas Dax lagi, mereka seperti rival sekarang. Dax melipat kedua lengan nya di depan perut.
"Aku sangat menguasai bidang ini kau tau."
"Kau tidak akan keliru jika menguasainya."
"Hei dengarkan aku. Seharusnya kau senang sebab kita telah melewati kawasan itu."
"Bagaimana aku bisa senang jika kawasan itu sebenarnya belum kita lewati."
"Hei, berhenti, ada apa dengan kalian," Lin Lin mencoba untuk menghentikan perdebatan dua pria itu.
"Teman-teman …." Suara samar Fawna terdengar di sela-sela perdebatan mereka.
"Aku hanya ingin memberikan pendapat." Dax menjawab ucapan Lin Lin.
"Pendapatmu tidak bisa diterima," kata Flynn.
"Teman-teman, kalian tidak perlu lagi berdebat tentang hiu putih," ucap Fawna yang tampak sudah siaga di tempatnya.
"Apa maksudmu?" Flora yang mendapati Fawna tengah bersiaga pun mengambil langkah panjang untuk menghampirinya.
"Karena hiu putih sedang menuju ke arah kapal kita."
"Kau bercanda!" seru Flynn setengah khawatir.
"Flora! hentikan hiu itu dengan akar di bawah air!" titah Fawna sebelum mencoba untuk mendekati kedua mata sang hiu.
"Oke!"
Lin Lin dan Dax pun ikut membantu menangani hiu yang hendak merusak kapal mereka, sedangkan Flynn berusaha untuk mempertahankan kapal agar tetap berlayar.
Kondisi terasa sangat mencengkam saat ini. Liggy tidak tahu harus berbuat apa, apa lagi setelah mereka melihat sekawanan hiu putih lainnya menghampiri kapal mereka.
"Fawna cepat!" Seru Flora. Dia hampir tidak bisa lagi menahan akar-akar bawah laut untuk mengikat hiu putih itu.
"Tahan sebentar lagi, hiu putih ini tidak mau mendengarkanku," ucap Fawna.
"Hati-hati sayap kalian," ucap Liggy yang hanya bisa memperingati.
"Dax! Tahan mereka dengan pusaran air!" titah Lin Lin, tangannya menunjuk sekawanan hiu yang berenang cepat ke arah mereka.
"Baik!"
Dax pun terbang di atas hiu-hiu itu dan membuat pusaran air. Lin Lin membantunya dengan mengubah arah angin agar pusaran yang dibuat oleh Dax semakin besar sehingga dapat menahan hiu-hiu itu. Namun pusaran itu juga membuat kapal kecil mereka terguncang.
"Hei! Hati-hati, kapal kita juga bisa tenggelam!" ucap Flynn memperingati mereka.
Lin Lin menyadari bahwa pusaran air itu memberikan pengaruh juga pada kapal mereka. "Dax, kau harus menggiring hiu-hiu itu menjauh dari kapal!"
"Baik."
Sementara Fawna masih berusaha untuk menarik perhatian sang hiu, akar-akar yang mengikat hiu itu putus.
"Hah! Fawna awas!"
"Apa?"
Dalam waktu yang sangat singkat itu mulut hiu terbuka lebar, Fawna sangat terlambat untuk menyadari bahwa akar-akar yang menahan sang hiu terlepas. Flynn dan Liggy yang berada di atas kapal pun dapat menyaksikan langsung betapa besarnya hiu putih itu saat membuka mulut.
"Ti … dak …!"
"Faw … na …!"
"Hah …!"
"Aaakh!"
Fawna dapat lolos dan mendarat di atas kapal setelah Flynn berhasil melemparkan tombak kecil yang biasa dia gunakan untuk menangkap ikan ke arah hiu putih itu.
"Fawna!" Flora segera menghampiri kapal ketika hiu itu berenang menjauhi mereka. "Kau baik-baik saja?"
Meski cukup shok, tetapi beruntung sebab Fawna baik-baik saja. "Ya, aku baik-baik saja. Apa hiu itu sudah pergi?" tanyanya khawatir.
"Hiu itu pergi setelah Flynn melempar tombak ke arahnya. Dia sudah menyelamatkanmu," ucap Liggy.
Fawna tidak seberapa mendengar ucapan Liggy, kedua matanya fokus menyapu pandangan ke seluruh penjuru untuk mencari jejak hiu itu. Dia menemukannya, dan melihat bahwa hiu itu berenang dengan kesakitan. Tanpa sempat menjelaskan kepergiannya, Fawna segera memacu kedua sayap untuk terbang mengejar hiu putih itu.
"Hei, kau mau ke mana!" seru Flora.
Fawna tidak ingin hiu putih itu terluka. Sebagai peri hewan, dia sangat bertanggung jawab untuk memastikan hewan-hewan yang dia temui mendapatkan perlakuan yang sesuai.
"Hei, tunggu! Tunggu aku, aku tidak akan menyakitimu." Fawna sedang mencoba untuk meneriaki hiu keras kepala itu.
"Aku tau kau bisa mendengarkanku!" titah Fawna.
Dia terus mengejar sampai akhirnya hiu itu melambat dan mencoba untuk mendengarkannya.
"Pintar, kau sangat pintar. Aku tidak akan menyakitimu. Tenang lah sampai aku berhasil melepaskan tombak kecil di kepalamu," ucap Fawna hati-hati.
Hiu putih itu tampak nurut padanya. Dia membiarkan Fawna melepaskan tombak yang tertancap di kulitnya. Namun ternyata itu bukan hal yang mudah, tubuh dan kedua tangan Fawna yang sangat mungil kesulitan untuk menarik tombak itu.
"Kau baik-baik saja bukan, tenang lah, jangan khawatir, aku bisa melepaskannya," ucap Fawna sambil terus berusaha untuk melepaskan tombak kecil di tubuh hiu itu.
Sampai akhirnya Lin Lin menghampiri. "Apa yang kau lakukan?"
"Hei, Lin Lin, kau bisa membantuku, hiu ini sangat kesakitan," ucap Fawna.
"Apa kau yakin?" tanya Lin Lin sedikit khawatir.
"Ya, tenang saja, dia tidak akan memakan kita," jawab Fawna yang tetap berusaha untuk menarik tombak itu.
Meski sedikit ragu, pada akhirnya Lin Lin membantu Fawna untuk menarik tombak itu. Mereka berhasil dan membuat hiu putih itu tampak gembira. Fawna mendekat ke wajah sang hiu, mereka benar-benar telah berteman sekarang.
"Hahaha, kau menyukaiku. Tidak, tidak, kau tidak boleh membuat sayapku basah. Baiklah kau sangat mendengarkanku."
Lin Lin dapat melihat dan mendengar bagaimana Fawna bermain dengan hiu putih itu, tampak sangat mengerikan. Kemudian, tiba-tiba saja ide cemerlang muncul di benak Lin Lin.
"Hei, bisakah kau tanyakan padanya tentang air terjun."
"Kau bercanda, hiu tidak akan tau di mana letak air terjun," ucap Fawna.
Namun apa yang diucapkan Fawna itu tidak benar. Hiu putih itu tahu di mana letak air terjun yang mereka cari, dia bertingkah seolah mengajak mereka untuk mengikutinya.
"Apa? Kau sedang berbicara padaku? Kau tau di mana letak air terjun. Oh, hahahaha, baiklah, kami akan mengikutimu," kata Fawna yang sedang berbahagia bersama teman barunya.
Fawna dan Lin Lin pun kembali ke kapal untuk memberitahu Flynn bahwa mereka harus mengikuti ke mana sang hiu pergi.
"Mengikuti hiu putih? Apa itu ide yang bagus?" Flynn bertanya untuk memastikan semuanya akan aman.
"Tenang saja, aku sudah berteman dengan hiu putih itu," jawab Fawna.
"Aku harap hiu putih itu tidak membawa kita ke tempat hidangan makan malam," tambah Liggy yang memiliki kekhawatiran yang sama seperti Flynn.
***
2 hari sebelum kapal kecil milik Flynn dan para peri tiba di lokasi hiu putih ….
"Bersiap untuk melakukan serangan!" Seru Kapten Jombs saat mereka tiba di kawasan hiu putih.
Kedua viking sudah siap dengan senjatanya, begitupun Kwon yang sudah siap untuk melemparkan pisau-pisau di kedua tangannya.
"Hehe, makan malam sudah datang," ucap Kwon.
Bajak laut itu memporak-porandakan lokasi hiu putih, mereka banyak melakukan pembunuhan yang membuat beberapa hiu putih di tempat itu mati. Dengan persenjataan dan alat-alat yang lengkap, mereka berhasil melewati tempat itu dengan mudah.
Apakah hiu putih akan membalaskan dendamnya? atau apakah Flynn dan para peri akan selamat?