11. Gua Hiu

1422 Words
"Aku melihat pulau yang cukup besar," Fawna memandang jauh ke depan. "Aku rasa itu bukan pulau," kata Liggy. "Apa itu sebuah gua?" Lin Lin yang memiliki tatapan lebih tajam bisa melihatnya dengan jelas. "Aku tidak bisa melihat apa yang kalian lihat karena kabut yang sangat tebal," ucap Flynn yang tidak bisa terbang seperti mereka. Hiu putih itu membawa kapal kecil mereka menuju ke sebuah gua. Jarak mereka yang semakin dekat dengan gua itu membuat Flynn dapat melihat dengan jelas sekarang. Tampak jelas di raut wajahnya bahwa dia terkejut. "Woahh!" "Apa kita akan masuk ke sana? Bukankah itu terlalu gelap?" tanya Flora tak yakin. "Tenang lah selagi kita memiliki Liggy," ucap Fawna santai. Sementara Flynn terlihat masih terkejut dengan pemandangan yang dia lihat saat ini. Kedua matanya menyapu sekeliling, gua itu tampak sangat besar dari jarak kurang lebih lima puluh meter. Namun anehnya gua itu tidak terlihat pada jarak lebih dari lima puluh meter di atas air laut. Flynn menoleh ke belakang, dapat dia lihat kabut yang sangat tebal mengelilingi pintu masuk gua. Kabut itu membuat gua tidak dapat dilihat dari jarak jauh. "Aku rasa ini yang dimaksud lokasi hiu putih. Kita akan sampai di air terjun setelah melewati gua ini," ucap Dax sangat yakin. Flynn membuka kembali peta miliknya, mungkin apa yang dikatakan Dax benar. Perkiraan Flynn sebelum ini sedikit keliru. Sesaat sebelum kapal mereka memasuki gua. "Liggy, siapkan pelita," pinta Lin Lin. "Oke." Liggy menyerap cahaya matahari sebelum mereka tidak dapat melihatnya lagi sebab gua itu benar-benar gelap. Bagian atas gua sangat tebal oleh bebatuan penyusun kerak bumi. Sepertinya bebatuan itu terbentuk dari letusan gunung berapi di atasnya. "Ke mana hiu itu pergi?" Flynn bertanya sebab penglihatannya terbatas di tempat gelap. "Liggy, sebaiknya kau ikuti ke mana arah hiu itu berenang. Kami akan mengikuti cahaya mu." Lin Lin memberikan masukan yang sangat cemerlang untuk keselamatan mereka. "Oke." Tanpa menunggu perintah kedua, Liggy pun terbang lebih dulu untuk mengikuti jejak hiu yang berenang semakin ke dalam. Mereka berjalan dengan kecepatan lambat sebab tiupan angin di dalam gua itu sangat minim. Bahkan Flynn harus lebih banyak menggunakan dayung di dalam sana. Suhu terasa lebih dingin seiring dengan kapal yang semakin masuk ke dalam. Suasana sunyi yang cukup mencengkam pun mengelilingi mereka. "Fawna … kau yakin dia tidak akan membawa kita ke tempat hidangan makan malam bukan?" tanya Liggy memastikan sekali lagi untuk menghilangkan perasaan takut dan khawatir nya. "Tidak, Liggy. Kau bahkan terlalu kecil untuk mengganjal perut hiu yang besar," jawab Fawna dengan sedikit sindiran. "Tapi kau tidak pernah tau kapan hiu putih membutuhkan makanan kecil sebelum mereka mulai makan malam," jawab Liggy kembali dengan nada selaras. Bahkan dia sempat berhenti untuk menoleh ke arah teman-temannya yang berada di atas kapal. "Percaya lah padaku kalau kau tidak akan dimakan." "Oke, baiklah, aku tidak akan dimakan, lalu bagaimana dengan Flynn?" "Aku?" Flynn tertegun. "Hiu putih tidak menyukai daging manusia." "Apa itu berarti hiu putih menyukai daging kita?" Flora mulai ikut campur. "Teman-teman, cukup. Liggy, teruslah terbang ke depan, kau tidak boleh kehilangan jejak hiu itu," ucap Lin Lin melerai. Liggy menghembuskan napas pasrah. "Oke, baiklah." Dia hendak mengikuti kembali jejak hiu itu, tetapi hal yang tidak diinginkan terjadi. "Tunggu, ke mana hiu itu berenang?" Liggy kehilangan arah sebab hiu putih itu sudah berenang cukup jauh meninggalkan mereka. "Apa maksudmu? Kau tidak melihatnya lagi?" Terdengar suara Fawna meninggi. "Oh, tidak! Kita kehilangan jejak hiu nya." Liggy berubah menjadi panik. Jika sebelumnya dia takut dimakan oleh hiu itu, sekarang dia terbang lebih cepat untuk mencari hiu yang berenang terlalu cepat. "Hei, tunggu! Aku tidak bisa mendayung lebih cepat lagi." Flynn sedikit berteriak sebab para peri mulai meninggalkan kapal dan terbang mengejar Liggy. Fawna menajamkan penglihatan, dia terlihat lebih khawatir dari teman-teman yang lain. Apalagi ketika mereka melihat ada tiga jalur yang berbeda di depan mereka. Para peri berhenti di udara untuk memilih jalur mana yang harus mereka ambil. "Tunggu, kita tidak boleh berpencar!" seru Lin Lin. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Liggy merasa sedikit bersalah. "Dax, apa kau bisa melihat airnya? Coba perhatikan, jalur mana yang memiliki permukaan air yang tidak tenang," ucap Fawna. Sementara para peri mencari jalur yang harus mereka lewati, Lin Lin terbang kembali menuju kapal untuk membantu Flynn. "Kalian cari jalur nya, aku akan menolong Flynn mendorong kapal," kata Lin Lin. Dax melihat Lin Lin yang terbang sangat cepat menuju kapal yang tertinggal jauh. Ada tatapan kecewa di kedua iris matanya, dan Dax mencurahkan kekecewaan itu dengan sindiran pahit. "Apa manusia selemah itu?" gumam Dax. "Dax, cepat lah," ulang Fawna sebab Dax belum menyelesaikan permintaannya tadi. "Oh, oke." Sementara itu di tempat Flynn. Lin Lin membantu mendorong kapal menggunakan kekuatan anginnya, dia meniup layar dan membuat kapal kecil itu berlayar sedikit lebih cepat. "Wah! Kau memang hebat, terima kasih Lin Lin," puji Flynn setelah kedua tangannya letih mendayung. "Apa kau akan memberikan hadiah untukku?" kata Lin Lin, seolah berkata bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Flynn tertawa lucu. "Kau bercanda." Meski ikut tertawa, tetapi Lin Lin mengatakan kalau dia serius. "Aku tidak bercanda." "Apa aku harus memberikan harta milikku padamu?" Lin Lin mendecak tak percaya dengan tawaran Flynn. "Aku seorang peri dan aku tidak membutuhkan harta manusia." "Lalu hadiah seperti apa yang harus aku berikan padamu?" Lin Lin terbang ke depan wajah Flynn. "Apa kau akan memberikannya?" Flynn menautkan kedua alis, raut wajahnya tampak sedang berpikir, seperti tidak ingin terjebak oleh tipu daya makhluk kecil. "Aku akan memberikan apa yang ada padaku saat ini," jawab Flynn sebab saat ini dia tidak memiliki apa-apa. Lin Lin tersenyum lebar, bahkan kedua matanya sampai menyipit tertutup senyum, gestur tubuhnya yang mungil pun menunjukkan kalau dia sangat bahagia. Peri kecil itu mengetuk-ngetuk pipi kanan Flynn dengan jari mungilnya, membuat pemilik pipi itu menerka-nerka. "Kau ingin pipiku?" tanya Flynn memastikan. Dilihatnya Lin Lin mengangguk dengan senyum dan wajah yang masih sama bahagianya. "Kalau begitu ambil saja," ucap Flynn seraya melipat kedua tangan di depan perut, juga dengan kedua mata yang terpejam. Tanpa harus menunggu lebih lama, Lin Lin segera terbang dan *mencium* pipi kanan Flynn. Terlihat betapa terkejutnya manusia itu, Lin Lin yang sudah cukup bahagia terlihat sedang tertawa sambil menutup mulut. "Hihihi, baiklah aku akan kembali mendorong kapal," kata Lin Lin. "Baiklah, bukan masalah besar," ucap Flynn dengan kedua bahu naik. Mereka pun tiba di tempat di mana para peri berkumpul. Kemudian, Liggy berhasil menarik perhatian mereka karena menemukan bangkai hiu yang terjebak di dinding gua yang tajam. "Hiu itu pasti berenang ke arah sini," ucap Dax sambil menunjuk jalur yang dimasuki oleh Liggy. "Aku rasa juga begitu. Oh, apa ini? Tidak mungkin! Teman-teman, lihat ini, oh! Aku tidak bisa melihatnya!" Liggy segera menutup mata setelah menemukan sesuatu yang mengejutkan. Para peri dan Flynn pun segera menuju ke arah yang diambil oleh Liggy. Mereka semua terkejut dengan apa yang ada di sana. "Hah!" "Siapa yang tega melakukan ini?" ucap Fawna histeris. "Oh, tidak, dia sudah mati." Flynn menarik tombak cukup besar yang menancap di bangkai hiu itu. "Aku rasa ini milik Kapten Jombs, kapten bajak laut itu." "Mereka membunuh hiu-hiu di sini agar dapat masuk," kata Lin Lin. "Ini pasti jalan yang benar, ayo cepat!" Fawna kembali terbang lebih cepat memasuki jalur itu, diikuti oleh peri lainnya, juga Flynn dan Lin Lin yang meniup kapal. Mereka pun kembali berlayar, dan Dax yang tidak tega melihat Lin Lin berusaha sendirian akhirnya ikut membantu. "Biar aku bantu," kata Dax seraya mendorong air agar kapal bergerak lebih cepat. "Wah, terima kasih, Dax," ucap Lin Lin semangat. Gua itu sangat panjang, tetapi Fawna tidak menyerah untuk terus terbang dengan cepat. Berbeda dengan Liggy dan Flora, mereka memilih untuk menumpang kapal dan mengistirahatkan sayap. "Oh, aku lelah sekali," ucap Flora. "Kau bahkan tidak mendorong kapal sama sekali," kata Lin Lin. "Hah! Hati-hati!" Peringatan itu terdengar dari Fawna yang tiba lebih dulu di ujung gua. Dia segera menghentikan sayap sebab kedua matanya merasakan silau matahari. Di depannya ada sebuah air terjun besar dengan pusaran air di bawahnya. Fawna berbalik untuk melihat kapal yang berlayar sangat cepat sebab dorongan Lin Lin dan Dax. Mereka tidak mendengar peringatan Fawna. "Hei, berhenti! Hentikan kapalnya!" seru Fawna dari kejauhan. "Apa? Dia bilang apa?" tanya Flora. "Dia bilang, 'hentikan kapalnya!' " Liggy menirukan ucapan Fawna. "Hentikan kapalnya?" "Ada pusaran air di depan sana!" seru Fawna yang saat ini sudah tiba di atas kapal. "Apa! Hentikan kapalnya, hentikan kapalnya!" seru Flynn panik. Mereka pun berusaha menghentikan kapal yang sudah terlanjur bergerak cepat. Dalam waktu yang sangat sedikit itu, mereka tidak berhasil menahan kapal yang mulai tertarik oleh pusaran air. "Apa yang harus kita lakukan sekarang!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD