12. Naga Api

1028 Words
"Hentikan kapalnya?" "Ada pusaran air di depan sana!" seru Fawna yang saat ini sudah tiba di atas kapal. "Apa! Hentikan kapalnya, hentikan kapalnya!" seru Flynn panik. Mereka pun berusaha menghentikan kapal yang sudah terlanjur bergerak cepat. Dalam waktu yang sangat sedikit itu, mereka tidak berhasil menahan kapal yang mulai tertarik oleh pusaran air. "Apa yang harus kita lakukan sekarang!" "Aku akan mencoba mengendalikan pusaran airnya!" Dax segera terbang keluar kapal dan menuju pusaran air. Para peri dan Flynn tetap berusaha keras untuk menahan kapal dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Flora menggunakan kekuatan yang dia miliki untuk menyuburkan lumut-lumut di sekitar gua agar dapat mengikat kapal. Selama masih ada tumbuhan di sekitarnya, Dia bisa menggunakan tumbuhan itu untuk melindungi diri atau membuat senjata. Sementara Flora menarik kapal dari belakang menggunakan kekuatannya, Lin Lin dan yang lainnya hanya mendorong kapal dari depan menggunakan tangan mungil mereka, membuat semuanya terlihat sia-sia. "Cepat, Dax!" ucap Flora yang sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. "Sepertinya tiupan angin di sekitar pusaran air itu terlalu besar," kata Flynn setelah menyadari usaha Dax sia-sia. "Lin Lin, kau harus mengendalikan arah angin di atas pusaran air itu!" seru Flora. Setelah mendengar perintah itu, Lin Lin pun segera terbang melesat untuk mengubah arah angin yang menghasilkan pusaran air di sana. Meski sempat kewalahan, pada akhirnya Lin Lin berhasil mengendalikan kekuatan angin di tempat itu. Perlahan, pusaran air yang terus menghasilkan lingkaran besar itu pun berhenti dan menjadi lebih tenang. "Berhasil!" kata Liggy semangat, membuat Flora melepaskan ikatan lumutnya dari kapal. Mereka dapat melihat ke sekeliling tempat itu dengan tenang sekarang. Tampak sangat menakjubkan, air laut seolah berkumpul di tempat itu. Di sekeliling mereka masih terdapat bebatuan yang meneruskan gua, hanya saja bagian atasnya tidak tertutup, dan di depan mereka terdapat air terjun yang mengalir langsung ke laut, sedangkan di atas air terjun itu terdapat pepohonan yang membentuk seperti pegunungan. "Tidak ada jalur yang bisa dilewati lagi di sini," ucap Liggy. Flynn kembali membuka peta miliknya, dan menurut peta itu, mereka sudah tiba di lokasi tujuan, yaitu lokasi sebuah pulau yang menyimpan harta karun legenda. "Tunggu, ke mana hiu putih itu pergi?" tanya Fawna yang masih mencari keberadaan teman barunya yang meninggalkannya. "Mungkin ada jalur di balik air terjun itu," ucap Lin Lin yang masih mengendalikan pusaran angin. "Tidak mungkin ada jalur di balik air terjun," kata Liggy." "Kita tidak akan pernah tau jika tidak mencari tau," sanggah Fawna, "aku yakin ada jalan sebab hiu putih itu berenang ke arah sini." "Sepertinya hiu itu berenang lebih dalam untuk menghindari pusaran air," ucap Flynn. "Dax, lebih baik kau membuka air terjun itu," kata Lin Lin. Dax pun membuka air terjun itu dengan kekuatan miliknya, dan benar saja, terdapat jalur masuk di balik air terjun itu. Tampak sebuah lorong, dan itu terlihat seperti sambungan gua sebelumnya, tetapi dengan pepohonan di atasnya, membuat gua itu terlihat lebih subur. "Ayo, cepat!" Fawna langsung terbang melesat melewati air terjun yang dibuka oleh Dax, dia tampak sangat tidak sabaran. Flynn, Flora, dan Liggy pun segera mengikuti jejak Fawna, sedangkan Dax masuk paling akhir setelah Lin Lin. Mereka kembali berlayar dengan lambat. "Halo." (Halo) (Halo) Apa ada sesosok makhluk yang tinggal di sini?" (Sini) (Sini) Liggy berbicara pada suaranya yang memantul. Tempat itu menghasilkan gema yang menjadi sarana permainan dua peri yang mulai bosan. "Apa yang kau lakukan di tempat ini," jawab Flora seolah dirinya lah yang menjaga tempat itu. (Ini) (Ini) "Kau menghancurkan suaraku," protes Liggy. "Kau bercanda, suaraku terdengar sangat merdu di tempat ini," balas Flora. Sementara yang lain, alih-alih mengurusi Liggy dan Flora, mereka lebih fokus pada tujuan. "Kita sudah hampir sampai," kata Flynn sambil melihat peta di tangannya. "Apa kau yakin bajak laut itu masih berada di tempat ini?" tanya Lin Lin ragu. "Sebenarnya aku tidak yakin, tapi kalian harus tau bahwa bajak laut itu tidak akan pergi sebelum mendapatkan harta karun yang mereka cari," papar Flynn. "Bagaimana jika mereka sudah mendapatkan harta karun itu sebelum kita sampai di sini?" tanya Dax. "Aku berpikir tidak akan semudah itu untuk bisa mendapatkan harta karunnya," tambah Flynn. "Kenapa kau berpikir seperti itu?" "Karena harta karun itu dijaga oleh naga api." "Naga api?" Fawna tampak tidak percaya bahwa mereka akan bertemu dengan naga api. "Ya, aku tidak pernah melihat naga api sebelumnya, mungkin dia akan sangat besar," ucap Flynn. "Bagaimana jika bajak laut itu mengorbankan Esther pada naga api?" tanya Liggy tiba-tiba, membuat mereka diam mematung dalam waktu yang agak lama. "Tidak bisakah kau berhati-hati saat bertanya," ucap Lin Lin. "Liggy, lebih baik kau menutup mulutmu, gua ini sudah dipenuhi oleh gema yang merusak telinga," kata Flora, membungkam sekaligus membalas ucapan Liggy sebelumnya. *** Lalu apa yang terjadi pada kapal bajak laut beserta Esther yang ada bersama mereka? Tepat dua hari yang lalu, sebelum Flynn dan para peri tiba di Golden Island, bajak laut mengalami kecelakaan kecil. Mereka hampir saja tersedot ke dalam pusaran air. Namun mereka beruntung sebab mesin kapal masih dapat melawan arus dan bergerak menjauh. Bajak laut itu bergerak sangat cepat, mereka bertemu dengan naga api penjaga gua di Golden Island. Dalam waktu singkat, perlawanan antara naga api dan bajak laut yang sudah dibekali tenaga dari Rhob pun tidak dapat dihindari. Kapten Jombs memimpin p*********n. Mereka membuat naga api itu sangat marah hingga menghancurkan bagian atas gua sehingga dia bisa terlepas. Naga itu pun terbang dan bersembunyi di Golden Island. "Kejar dia! Jangan sampai lepas. Harta karun itu ada di lehernya," ucap Kapten Jombs. "Baik, Kapten!" Mereka pun mengeluarkan jangkar dan meninggalkan kapal di gua itu, lantas naik ke atas pulau melalui *celah* cukup besar yang dibuat sang naga. *** Kembali pada Flynn dan kawan-kawan, mereka mengikuti jalur masuk hingga akhirnya menemukan kapal bajak laut milik Kapten Jombs. "Aku melihat bayangan sesuatu yang sangat besar di depan sana," ucap Lin Lin samar-samar di kegelapan. "Itu seperti kapal milik bajak laut," tambah Flynn. "Mereka masih di sini!" seru Fawna. "Ayo, cepat!" Mereka merendahkan frekuensi suara ketika sudah hampir sampai di kapal bajak laut. "Hati-hati," kata Dax memperingati. Flynn pun mengikat kapal kecilnya di bongkahan batu yang menyusun gua. Perlahan, pria itu naik ke atas kapal bajak laut, sedangkan para peri sudah lebih dulu terbang untuk mengecek ke dalam kapal besar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD