bc

Kesunyian yang Indah

book_age16+
6
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
sex
forced
second chance
aloof
drama
bxg
betrayal
coming of age
like
intro-logo
Blurb

Berkubang dalam kesumat dendam mantan ibu tiri, perjodohan dengan saudara tiri yang sama sekali tidak hubungan darah dengan papa kandungnya. Bisakah raya melewati masa-masa sulit sekaligus mengejar masa depan karirnya juga cinta.

chap-preview
Free preview
Anak terbuang?
Aku adalah anak terbuang itu, yah, aku. Aku payah dalam merangkai kata, apalagi dengan orang yang baru aku kenal. Nenek Upa yang merawatku sejak kecil memanggilku Raya. Nama lengkapku Raya Semesta. Aku adalah anak semesta, sesuai namaku. Aku dibuang oleh kedua orangtuaku di desa kecil ini bersama satu orang nenek yang walaupun sangat menyayangiku tapi entah bagaimana aku sangat yakin dia bukanlah nenek kandungku. Dia memberikan kasih sayangnya dengan utuh. Membelaku saat teman-teman sekolah dan juga teman-teman sepermainanku meledekku dengan sebutan anak haram, anak terbuang dan berbagai ledekan lainnya. Aku sudah kebal dengan berbagai sebutan itu. Dan jangan kalian pikir aku akan diam saja saat mereka menyebut ku begitu. Nenek Upa hampir saban hari harus memenuhi surat panggilan kepala Bimpen karena berbagai balasan yang kulakukan pada mereka yang meledekku. Ada yang aku lukai lengannya dengan ujung pinsil yang runcing. Ada yang ku jambak rambutnya, bahkan ada yang ku ludahi mukanya. Aku bisa melakukan itu semua dan aku tidak menyesal. Jangan sebut aku psikopat karena merekalah penyebabnya. Berbagai cara telah aku coba untuk menemukan jawab siapa orangtuaku. Nenek Upa? Dia hanya pandai mengalihkan topik saja setiap hal itu aku tanyakan. Atau dia akan menjawab kalem. Suatu saat Raya akan tahu semuanya kalau sudah waktunya. Semenyebalkan itu duniaku. Aku selalu penasaran dengan sejumlah uang yang cukup untuk kehidupan kami. Walauapun tidak terlalu bagus, aku selalu dapat baju baru setiap tahunnya, Nek Upa selalu mengajakku ke pasar kecamatan untuk membelinya. Meskipun tidak memakai perhiasan emas seperti anak perempuan lainnya, aku memiliki sebuah anting-anting berwarna bening dengan biji delima penghiasnya berukuran sangat mungil. Nek Upa yang berwujud peri itu mendadak akan murka jika aku melepas anting-antingku ini. Pernah aku meninggalkannya di atas bebatuan di pinggir sungai saat aku berenang suatu sore di jernihnya air sungai yang mengaliri desa yang kami tinggali itu. Nek Upa memaksaku kembali untuk mengambil meskipun hujan deras. Bahkan anting-anting saja seberharga itu dibandingkan aku yang dibuang orang yang melahirkanku itu. Kadang-kadang aku berpikir, jangan-jangan apa yang orang-orang sebutkan tentang status anak haramku itu ada benarnya. Tapi sudahlah, jawaban atas pertanyaan tak berujung itu tidak usah dihiraukan lagi. Saat ini aku harus bergegas merapikan baju dan kebutuhan pribadiku karena penggalan perjalanan baru akan mulai berjejak esok hari.  Kaki Gunung Rinjani akan lebih mudah menggambarkan tempat tinggalku selama ini daripada menjelaskan Desa Beleq, Kecamatan Sembalun. Lebih tepatnya sebelah utara kaki Gunung Rinjani, desa aku akan terlihat indah dengan hamparan tanaman yang tumbuh subur setelah letusan gunung berapi tersebut pada abad ke 14 silam. Jarak tempuh desaku ke pusat kota Lombok lumayan menyita waktu dan tenaga karena kami melakukan perjalanan darat. Dari Sembalun, kami menumpang pick-up warga yang difungsikan jadi angkutan umum selama dua jam ke Pasar Aikmel. Selanjutnya dari pasar tersebut kami menuju Terminal Mandalika di Mataram selama satu jam dengan kenderaan bus tapi berukuran lebih kecil. Kemudian kami masih harus menempuh perjalanan satu jam lebih lima puluh lima menit menuju Jakarta melalui rute udara. Bagiku ini adalah penerbangan pertamaku sekaligus kali pertama juga aku keluar dari desa yang mewarnai hidupku selama ini. Meskipun sangat antusias dengan perjalanan ini, tetap saja aku harus memastikan Nek Upa nyaman. Baginya yang sudah memasuki usia kepala lima bukan hal mudah melakukan perjalanan maraton begini. Sejak pemesanan tiket pesawat dan bus, aku sudah menawarkan pada Nek Upa agar kami menginap dulu semalam di Mataram kemudian ke esokan harinya baru melanjutkan perjalanan ke Jakarta. “Tidak apa-apa Raya, Nenek akan baik-baik saja. Yang penting kita ndak kemalaman nyampe Jakartanya”, ujar Nek Upa sepekan yang lalu saat kami mematangkan rencana keberangkatan. Meskipun begitu, aku selalu mengingatkan Nek Upa untuk minum air putih yang banyak dan istirahat selama di perjalanan. Ransel berwarna biru laut yang tidak pernah lepas dari punggungku hampir penuh dengan beraneka jenis makanan ringan, air mineral hingga minyak kayu putih untuk berjaga-jaga kalau Nek Upa butuh. Nek Upa sempat menertawakan isi ranselku. Katanya saat kami menyiapkan kebutuhan perjalanan pada malam itu isi ranselku sudah mirip minimarket. “Ini bisa kita jual lho Nek, kalau kita kehabisan uang di jalan”, kilahku saat itu. Tawa Nek Upa sampai meneteskan airmata membuatku yakin bahwa pasti bukan hanya kami berdua diperjalanan ini. Aku selalu punya firasat bahwa ada seseorang didekat kami yang selama ini membantu. Tapi siapa dan kenapa?  Tapi sudahlah. Pikiran tidak berujung seperti itu hanya akan membuat moodku buruk dan merusak suasana perjalanan pertamaku keluar desa yang seharusnya kunikmati sebaik mungkin. Ada kemungkinan bahwa aku tidak akan kembali lagi ke desa indah yang telah membesarkanku ini. Jika mengingat bahwa aku telah di terima di Fakultas Teknik UI. Akan butuh waktu liburan panjang untuk kembali kemari di sela-sela jadwal kuliahku. Paling banter liburan semesteran. Itupun kalau transferan beasiswaku lancar dan dapat aku kelola dengan baik. Satu lagi diskusi panjangku dengan Nek Upa adalah soal beasiswa. Nenek ajaib ini selalu saja mengingatkanku tanpa beasiswapun aku masih bisa kuliah. Saat aku kembali bertanya soal sumber uangnya. Jawabannya adalah pengalihan topik lainnya tentang bagaimana dia sangat bangga karena prestasiku hingga aku mendapatkan beasiswa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.4K
bc

Kali kedua

read
222.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
22.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.9K
bc

TERNODA

read
204.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook