Perjalanan yang kami tempuh hampir seharian, mulai rute darat hingga rute udara, cukup melelahkan namun juga menyenangkan. Saat Nek Upa tidur didalam cabin pesawat dengan lelapnya, aku memilih membaca majalah Colours yang tersedia di kantong kursi pesawat.
Ada satu artikel yang menarik perhatianku dengan gambar penuh warna dan membuatnya terlihat hidup. Sekelompok lelaki Dewasa sedang mengayuhkan kedua tangan mereka untuk memastikan perahu mereka jadi pemenang dalam lomba perahu yang diselenggarakan lebih dari 2000 tahun di Tiongkok. Mereka menyebutnya Festifal Perahu Naga yang tidak pernah sepi pengunjung setiap tahunnya.
Selain penjelasan tempat-tempat wisata yang memanjakan mata karena keindahanya seperti Bali dan Singapore. Halaman menarik lainnya adalah kolom flavors yang menyajikan informasi tentang dunia kuliner. Aku yang sangat menyukai kopi langsung sumringah saat melihat beragam cara penyajian kopi, mulai dari metode penyaringan manual dengan Baristanya mengangkat kedua lengan bergantian dengan menuangkan racikan kopi silih berganti antara cangkir yang satu ke yang lain dengan bantuan alat saring tradisional yang terbuat dari kain berbentuk kerucut hingga pengolahan dengan mesin modern.
Semua hal sederhana itu menjadi bernilai wisata dan diminati banyak wisatawan, baik dalam dan luar negeri. Tentu saja potensi daerah wisata bukan hal baru bagiku karena aku lahir dan besar di salah satu daerah wisata terbaik negeri ini. Tapi membaca dengan detil cerita seperti ini di ketinggian 36.000 kaki rasanya entah kenapa menimbulkan kesan tersendiri sambil melihat putihnya bentang awan.
Sesampainya kami di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, bergegas kami mengambil bagasi yang hanya terdiri dari dua koper ukuran sedang berisikan pakaianku dan Nek Upa di satu koper dan oleh-oleh berbagai penganan dan kerajinan khas Lombok seperti dodol rumput laut dan kain tenun ikat Sasak. Tentu saja Nek Upa yang menyiapkan itu semua karena aku tidak mengenal siapapun di tempat tujuan kami nanti.
Tidak sampai sepuluh menit kami menunggu di gate ketibaan domestik, seorang laki-laki hampir seumuran Nek Upa menyapa kami ramah, maksudku menyapa Nek Upa sambil melirikku sekilas dengan dahi berkerut.
“Saya hampir saja tidak mengenali Semeto Upa tadi....
***
Aku berdiri, terpaku cukup lama setelah tiba di depan sebuah rumah besar bernuansa minimalis. Taman mawar disisi kiri rumah sangat menarik perhatian. Selain perdunya yang rimbun, warnanya juga hanya kuning saja.
“Ayuk Raya kita masuk”, ajak Nek Upa beberapa saat kemudian mengusik pindaianku.
“Kita...ini...?” Cicitku masih bingung dengan keberadaan kami.
“Masuk dulu ya, nanti Nenek jelaskan”, bergegas Nek Upa masuk dengan kakinya yang masih gesit.
“Barang-barangnya sudah saya letakkan di ruang tengah ya Semeto”, timpal Mang Asep
Nek Upa menyarankan kami semua untuk beristirahat malam ini karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Perjalanan yang sangat menguras energi dan juga emosi ini membuatku tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Nek Upa.
Cahaya matahari dibalik gorden berwarna peach membangunkanku. Tidak biasanya aku bangun ketika matahari sudah bersinar. Mengambil gawaiku yang terletak diatas nakas disamping tempat tidur, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ini sudah sangat siang untuk ukuran jam bangun pagiku biasanya Yang harus selalu bangun pagi pukul 5 setiap harinya karena harus memberikan makan ayam-ayam yang kami pelihara sebelum berangkat ke sekolah.
Saat keluar kamar yang berhadapan dengan ruang keluarga semalam kami sempat duduk sebentar, terdengar suara Nek Upa dan Mang Usep yang sedang bercakap-cakap dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Perlahan aku menuju ruangan tempat mereka berada yang ternyata adalah ruang makan. Aku bisa melihat aneka makanan tersaji di atas meja seperti akan banyak orang akan makan disini.
“Apakah akan datang tamu lainnya?”, tanyaku saat sudah ada diantara mereka.
“Tamu?”, Nek Upa balik bertanya.
“Iya, makanan sebanyak ini, untuk apa juga kalua tidak ada yang makan Nek Upa sayang?” ujarku sambil memeluknya dari samping. Kebiasaanku sejak kecil.
“Ga kok, hanya untuk kita aja, ini untuk merayakan kembalinya kita kerumah kita sayang”, ujar Nek Upa membingungkan.
“Nenek Upa sayang…yang tiada duanya di dunia ini, memang ya perjalanan panjang kita kemarin melewati banyak pulau, tapi kesambetnya jangan awet ya?”, ujarku sambil terkekeh.
“Kualat lho neng, bilangin orangtua kesambet”, meskipun begitu, Mang Usep juga ikutan tertawa, bahkan terbahak, terlihat sangat senang.