Aku dan mereka (1)

711 Words
“Nek Upa...,kalau udah halunya, bolehkah kita makan? lapar...”, rengekku manja sambil duduk di kursi di seberang Mang Usep. “Halu...halu...apaan? Beneran sayang, ini rumah kita dan ...”, Nek Upa mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk ikan goreng serta sayuran tumis. Kemudian saat  Nek Upa duduk disisi kananku, aku pun mengikutinya dengan mengambil piring, namun aku memilih menu lontong pecal kesukaanku. Lontong pecal buatan Nek Upa selalu yang terbaik. Suara dentingan sendok dan garpu jadi irama klasik di meja makan kami dan setelah sarapan dan membantu Nek Upa membereskan meja makan serta mencuci piring, kami beranjak ke sebuah kamar tidur yang terletak diantara ruang keluarga dan ruang tamu. Kamar tersebut berisikan sebuah tempat tidur berukuran king size, sebuah sofa dan dan meja bercermin berukir yang semuanya terlihat bersih dan rapi. “Duduk sini “, Nek Upa yang telah duduk di atas tempat tidur mengajakku duduk disebelahnya dengan isyarat tangannya yang menepuk pelan sisi kasur berwarna peach berhias bunga mawar kuning. Seingatku semalam aku juga sudah melihat mawar kuning ditaman. Itu artinya mawar kuning salah satu favorit keluarga ini, ataupun hanya salah satu anggota keluarga penting di rumah ini. Agar rasa penasaranku terpuaskan, aku pun menurut duduk disebelah Nek Upa. Saat itulah pandanganku melihat satu pigura besar di dinding kamar, persis didepan kami. Pigura tersebut menunjukkan dua wajah yang tersenyum hangat dan yang menarik perhatianku adalah anting-anting yang terpasang indah di kedua telinga perempuan cantik di dalam pigura yang dirangkul oleh laki-laki berkacamata dengan jas hitam. “Anting itu...?”tanyaku sambil menatap Nek Upa dan menyentuh anting-anting yang aku pakai ditelinga sebelah kanan. “Iya, anting-anting kalian sama karena darah yang mengalir di dalam tubuhmu sebagiannya sama dengannya, dia adalah mama kamu, anak nenek yang kedua”, Nek Upa mulai mengajakku menjejak pengetahuan yang selama ini menjadi misteri dalam hidupku. Aku tidak tahu bagaimana harus merespon hal ini, aku marah, kecewa, benci, bingung bahkan aku ingin berlari pulang lagi ke dalam kesunyianku yang selama ini mendekapku hangat di kaki Rinjani. Bukankah ini yang selama ini aku cari? Kebenaran siapa aku dan siapa orangtuaku?  Cerita demi cerita tentang perjalanan hidupku terus mengalir, sesekali Nek Upa mengusap wajahnya saat buliran bening airmatanya menyertai cerita. Terutama saat bercerita tentang sosok yang seharusnya aku sebut mama. Nek Upa terus saja bercerita seakan jika cerita kami terhenti maka tidak akan ada hari esok. Darinya aku tahu bahwa hidup keluargaku sangat rumit. Dimulai dari pernikahan yang dianggap tidak sederajat karena pihak keluarga Papaku adalah salah satu keluarga konglomerat di negara ini. Mereka ingin menjodohkan papa dengan salah seorang anak koleganya. Keluarga papa yang menentang keras pernikahan mama dan papa, bahkan melakukan tindakan keji dengan mencelakai mama meskipun sampai saat ini kasus itu ditutup pemeriksaannya karena dianggap kecelakaan lalu lintas tunggal. Kecelakaan yang memaksa mama menghembuskan nafas terakhir sesaat setelah melahirkanku secara prematur. Aku yang lahir secara prematur dan juga tidak bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu dibawa Nek Upa setelah 20 hari dalam perawatan intensif ke desa kecil di kaki Gunung Rinjani demi keselamatanku. “Lantas dimana Papa?”, tanyaku penasaran karena semuanya cerita tentang mama dan aku. “Apakah kemudian dia menikah dengan perempuan itu?”, lanjutku lagi, meskipun hatiku berharap jawabannya tidak. Namun jawaban Nek Upa kemudian meruntuhkan seluruh harapku. Tidak lama setelah kami menetap di Sembalun, Papa menikahi perempuan yang dijodohkan dengannya dan menetap di Jakarta, berarti saat ini aku tidak jauh dengan papa. Apakah aku harus bertemu dengan papa? Bukankah seharusnya papa tetap menolak pernikahan perjodohan itu? Bukankah meninggalnya mama seharusnya membuatnya lebih kuat menentang perjodohan itu? Bukankah ini tidak adil bagi mama? Juga untukku? Papa rela meninggalkanku di tempat yang jauh dari jangkauannya, dan hidup bahagia dengan keluarga barunya. Papa seperti apa itu? Ribuan tanya menggantung di benakku. Satu kesimpulanku saat itu, papaku sama jahatnya dengan keluarganya. “Papamu mengikuti desakan keluarganya untuk menikah untuk melindungimu, Raya”, seakan bisa menebak apa yang aku pikirkan, Nek Upa melanjutkan ceritanya dengan sangat lirih. “Melindungi bagaimana? Bukannya papa ingin melindungi kekayaannya saja?” tanyaku lantang dengan kalimat lainnya yang tidak aku ucapkan bahwa aku akan membalas mereka semua, termasuk papa? Apakah aku tega? Aku harus tega meskipun dia papaku, karena dia sama jahatnya dengan mereka, seharusnya dia melindungiku dan mama, bukan bersama mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD