“Papamu tidak pernah meninggalkan kita, dia selalu bersama kita, selalu memantau atau melihat sendiri kehidupan kita disana”, lanjut Nek Upa kembali.
“Kenapa aku tidak pernah bertemu dengan papa?”, tanyaku lebih ke rasa penasaran.
“Papamu bahkan ada saat hari kelulusanmu dan mengucapkan selamat secara lantang di depan podium sekolah saat kamu mendapatkan peringkat lulusan terbaik, kamu lupa?”
Penjelasan Nek Upa membuatku menerawang kembali peristiwa dua bulan lalu saat kelulusan kami semua dari Sekolah Menengah Atas (SMAN 1) Sembalun. Sesosok laki-laki yang mirip dengan foto di pigura didepan kami terlintas dalam memoriku. Lelaki yang selalu saja tersenyum saat melihatku. Pernah memberikanku tumpangan saat pulang sekolah dengan alasan kami lagi searah. Saat itu dia bercerita tentang banyak hal tapi yang dapat aku ingat kembali hanyalah kata-katanya “tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan di dunia ini Raya, apapaun itu terjadi dengan satu atau dua alasan”.
“Dan kenapa papa tidak mau mengenalkan dirinya secara langsung….maksudnya….hmmmmmm….kenapa Papa tidak….tidak….”aku tidak tahu bagaimana menjelaskan keinginanku yang seharusnya papa menjelaskan siapa dirinya, bukan hanya memastikan keadaaku dengan cara seperti itu.
“Papamu sangat ingin melakukan itu, sangat…sangat ingin Raya, berkali-kali Papamu bertemu Nenek menyatakan hal itu, tapi keadaan tidak memungkinkan karena ada banyak mata dan telinga yang akan menyampaikan berita ini ke keluarganya dan kamu bisa terancam”, penjelasan Nek Upa masuk akal juga.
“Tapi tetap saja kan Papa bisa menjelaskan dan meminta Raya tidak terlalu kentara bersikap jika bersama Papa?” aku kembali bertanya.
“Keadaan tidak sesederhana itu sayang…Papamu menikah dengan perempuan itu hanya setahun, tepat setelah kelahiran saudara tirimu, Revan, mereka bercerai”, Nek Upa kembali melanjutkan ceritanya sambil menatapku lembut.
Meskipun penasaran dengan sosok saudara tiri yang ternyata aku miliki, aku tetap menunggu bagian ini dengan sabar dan memastikan tidak satupun tertinggal. Karena dari cerita-cerita inilah aku selama ini hidup dan bertahan sampai sejauh ini. Ada mama yang telah mengorbankan dirinya untukku, Nek Upa yang merawatku dengan penuh kasih sayang sehingga aku tumbuh dewasa. Meskipun tidak terjangkau, papa adalah sosok yang selama ini juga ada di setiap langkahku. Apapaun motifnya, Nek Upa benar, sebagian darahnya ada dalam darahku, sama seperti sebagian darah mama.
Hari pertama yang melelahkan secara emosi di ibukota. Cerita panjang tentang hidupku belum usai. Tapi kami merasa jukup untuk hari ini, jam makan sina memanggil untuk persiapan menu. Kami pun membongkar lemari es yang ternyata sudah tersedia penuh bahan masakan. Menurut Nek Upa, semuanya disiapkan Mang User sebelum menjemput kami ke bandara, tentu saja atas arahan nenek peri tak bersayapku. Nek Upa.
Ada banyak menu yang bisa dimasak, namun kami memilih olahan ikan dengan bumbu khas Lombok. Yup, ikan bumbu Taliwang. Jika biasanya memakai ayam, saat ini kami memakai ikan gurami. Selain menyiapkan ikan dan bumbu, kami juga harus meniapkan pelengkap seperti daun selada, kemangi dan mentimun. Pedasnya sungguh menggoda. Lidahku sudah terbiasa dengan menu pedas.
Hari besar ini kami akhiri dengan melihat taman mawar. Mawar kuning yang membuatku penasaran sejak semalam. Juga sprei dan bedcover bermotif mawar. Saat kami membersihkan perdu-perdu mawar yang sebenarnya sudah rapi tersebut, Nek Upa mulai bercerita tentang mama yang sangat suka dengan mawar.
“Kenapa kuning?”, tanyaku.
“Mamamu punya prinsip bahwa yang terpenting adalah persahabatan. Meskipun itu suami istri. Arti mawar kuning adalah tanda persahabatan yang universal. Kuning dianggap warna yang riang dan ceria, dan menggambarkan persahabatan itu sendiri”, jelas Nek Upa sambil memetic beberapa kuntum mawar, untuk hiasan pot-pot yang sudah lama kosong di dalam rumah.
Menurutnya diawal-awal pernikahan dan menempati rumah ini, setiap hari mama selalu menyempatkan diri memetik mawar-mawar ini untuk menghiasi pot-pot di dalam rumah. Bahkan beberapa tangkai sengaja diletakkan di dalam kamar, diatas meja sudut. Harumnya akan terus mengingatkan mama untuk terus ceria, meskipun saat itu hidupnya mulai banyak tekanan dari keluarga papa.
Papa terus mempertahankan rumah ini dan menganggap saat ini adalah saat yang tepat kami untuk kembali kesini. Selain karena masalahnya sudah lama, terutama umurku dianggap sudah cukup kuat untuk menghadapi ini semua. Baginya masih akan sangat rumit menghadapi keluarga besarnya. Kedua orangtuanya, ditambah lagi mantan istrinya-ibu tiriku dan anaknya Revan.
“Kapan kita…maksudnya Raya bisa bertemu papa?”, tanyaku sambil membantu memetik beberapa kuntum mawar kuning lagi sampai Nek Upa memberi kode sudah cukup jumlah mawarnya untuk kami petik hari ini.