Nek Upa tidak memberikan jawaban pasti akan pertanyaan yang aku ajukan tadi sore, “akan ada waktu yang tepat Raya”, begitu jawabnya singkat, persis saat aku bertanya hal-hal seperti siapa orangtuaku, dimana mereka, selalu yang aku dapatkan jawaban yang sama, persis seperti jawaban ini.
“Kapan waktu yang tepat itu?”, aku terus memburu jawaban yang aku inginkan agar mendapatkan kepastian.
“Nenek tidak bisa menjanjikan, begitupun Papamu, tapi Papamu berjanji akan secepatnya setelah kita tiba di rumah ini, semuanya tergantung situasi, jika di Lombok Papamu bisa kapan saja menjengukmu dengan alasan pekerjaan, tapi dirumah ini, Papamu tidak akan leluasa datang karena mereka tahu pasti ini rumah siapa, kamu mengerti kan maksud Nenek?” meskipun tidak mendapatkan kepastian, sama dengan sebelumnya, namun aku mencoba mengerti lagi kali ini.
Malamnya kami lalui dengan istirahat setelah makan malam bersama, tetap dalam formasi bertiga, aku, Nek Upa dan Mang Usep. Nek Upa menjelaskan kalau selama kami tinggal di Lombok, Mang Usep yang menjaga rumah ini dengan istri dan dua anaknya, namun karena istrinya mau melahirkan anak ketiga makanya untuk sementara pulang ke kampung halamannya di Cilacap. Menurut istrinya dan keluarga istrinya akan nyaman bagi mereka untuk mengurus kelahiran anak ketiga ini di kampung halaman bersama-sama karena anak-anaknya yang pertama dan kedua masih sangat kecil, yang pertama berumur enam tahun dan kedua berumur empat tahun. Dan mereka pun belum sekolah formal, yang pertama masih sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak jauh dari rumah ini.
Mereka akan kembali lagi ke rumah ini dua atau tiga bulan ke depan, tergantung pada situasi putri kecil mereka yang baru lahir awal minggu lalu. Berita bagusnya Mang Usep bisa mendampingi istrinya melahirkan sebelum kami tiba. Meskipun jika kami telah kembali, aku dan tentu saja Nek Upa juga akan bersikap sama, akan mengizinkan Mang Usep mendampingi istrinya selama proses melahirkan dan selama waktu yang dibutuhkan mereka sekeluarga. Saat Mang Usep menanyakan pendapatku tentang apakah istrinya boleh kembali lagi ke rumah dan tinggal bersama kami, jawabanku pasti, bahkan sangat pasti bahwa seharusnya mereka kembali karena suami dan bapak mereka ada disini. Menurutku yang disebut keluarga itu seharusnya bersatu, utuh, tidak terpisahkan seperti keluarga kami, tepatnya seperti yang aku alami. Mang Usep sangat berterimakasih atas jawaban dan persetujuanku.
Hari ini suasana cerah, sangat cerah sehingga warna bunga mawar kuning yang sedang mekar diantara perdu berdurinya nampak bersinar. Aku berharap suasana cerah ini dan makna persahabatan mawar kuning yang selalu ceria mewarnai hari pertamaku menuju kampus. Diantar Mang Usep, tepat pukul 7.30 pagi aku tiba di kampus Universitas Indonesia sebagai mahasiswa baru yang akan mengurus segala sesuatu sendiri, mulai dari berkas adminitrasi dan lainnya. Aku selalu menekankan pada diriku sendiri, bahwa aku bisa, bahwa aku mampu melalui apapun, dengan usaha sendiri dan doa-doa orang-orang yang menyayangiku seperti Nek Upa.
Saat tiba di tempat pendaftaran tidak ada hal rumit yang harus aku lalui. Semua proses lancar, bahkan aku mempunyai kenalan baru, dua orang teman yang memilih jurusan yang sama denganku, Teknik Lingkungan. Mereka adalah Andra dan Sinta. Mereka berasal dari Kalimantan, Sinta sudah sejak SMA di Jakarta karena orangtuanya bekerja di Kedutaan Belanda, sedangkan Andra sama sepertiku, pertama kali menjejak ibukota negara ini.
“Setelah pendaftaran selesai, kalian pada mau kemana?’, tanya Andra sambil melihat kami yang masih menyusun lembaran persyaratan administrasi yang juga telah di scan dan diserahkan setelah pendaftaran secara online kami lakukan sebelumnya dan dinyatakan lulus.
“Mungkin …pulang?”, jawabku ragu karena aku belum terlalu mengenal Jakarta sehingga aku belum punya rencana apapun. Pesan Mang Usep, jika telah selesai, aku diminta menghubunginya agar bisa dijemput.
“Ah…lo ga asyik, jalan yuk?”, timpal Sinta
“Sekalian aku kenalin sama yang namanya ibukota”, ujarnya sambil tersenyum.
“Eh…sementang udah tahu jalan, ini anak mikir kita udik kali ya?”, tukasku cepat sambil tersenyum juga.
“Iya nih, google map kan ada, ga mungkin kali kita nyasar”, kami terus bercanda seakan sudah kenal lama.
Akhirnya kami memutuskan akan jalan ke Milan Pizzeria Cafe, tidak terlalu jauh dari Kampus UI, Depok. Menu western disana, seperti Pizza dengan aneka toping merupakan pilihan praktis untuk siang ini. menariknya tempat ini ada tempat untuk spot foto keren. Alhasil, kami langsung mengabadikan gaya-gaya kami dengan frame sambil menunggu pesanan kami disajikan. Moto kami serupa “apapun kondisinya, upload IG itu penting banget”. Hehehe.
Setelah hang out singkat kami yang berwarna dihari pertama ke kampus, aku meminta Mang Usep menjemput dan kami saling bertukar alamat tempat tinggal masing-masing dan juga nomor telpon, tidak lupa akun sosial media masing-masing.