1. Prolog
Mimpi bagi sebagian orang adalah hal yang memiliki arti. Bukan hanya sebatas bunga tidur yang saat bangun nanti akan terlupakan begitu saja. Mimpi, terkadang menjadi sebuah pertanda, atau firasat akan terjadinya sesuatu. Entah percaya atau tidak, entah kebetulan atau memang begitu adanya, mimpi memang seperti perantara bagi seseorang untuk mengetahui satu peristiwa yang belum terjadi. Setidaknya itulah yang Kamalea yakini selama ini. Jika mimpi yang terjadi pada malam-malam yang berlalu adalah sebuah pertanda akan terjadi sesuatu dalam hidupnya.
Tentu saja wanita dengan surai bergelombang sebatas punggung itu tidak percaya tanpa alasan. Ia sudah berkali-kali mendapatkan mimpi dan berakhir pada sesuatu yang memang benar-benar terjadi. Dulu, dia selalu mengandalkan buku primbon yang neneknya wariskan kepadanya. Namun, akhir-akhir ini ia lebih senang menafsirkan mimpinya tanpa menyentuh buku itu. Sejauh ini, apa yang ia tafsirkan memang benar-benar terjadi.
“Itu cuman kebetulan, Lea.” Akan tetapi, akan ada saja orang yang mematahkan kepercayaannya. Contohnya saja laki-laki yang sudah menjadi sahabat Kamalea, bahkan sejak mereka masih di dalam kandungan ini.
“Kebetulan itu cuman sekali, Revka! Ini kejadiannya sudah berkali-kali.” Dan Kamalea akan selalu ngotot jika pendapatnya benar. Karena memang faktanya semua benar, setidaknya itu yang ia yakini selama ini.
Contohnya saja, Kamalea pernah bermimpi menjadi seorang ratu. Menurut beberapa sumber, mimpi seperti itu adalah pertanda bagus. Tandanya ia akan mendapat sebuah kesuksesan. Dan benar saja, tidak lama dari mimpi itu datang, Kamalea mendapatkan pekerjaan yang selama ini ia idam-idamkan. Wanita itu selalu memimpikan untuk bisa bekerja di sebuah kantor dengan gedung bertingkat, di mana setiap hari ia memakai setelan kerja yang rapi. Dan benar saja, kini ia bekerja di sebuah perusahaan besar, dengan gedung bertingkat. Dan meski jabatan yang ia sandang hanya staf biasa, gaji yang ia terima jauh dari lumayan. Apalagi jika setiap bulan performanya bagus, ia akan mendapat sebuah bonus yang jumlahnya juga tidak bisa dibilang sedikit.
“Lo dapet pekerjaan ya karena lo ngelamar di beberapa perusahaan, Lea. Lo berusaha, lo juga kan otaknya lumayan pinter. Yah … meskipun standarnya di bawah gue.” Selanjutnya suara mengaduh terdengar dari bibir laki-laki berwajah ramah itu saat tangan Kamalea mendarat di lengannya dengan cubitan kecil.
“Iya gue tahu Revka! Maksud gue, mimpi-mimpi gue itu sebuah pertanda, bukan cuman sekedar bunga tidur doang. Lo ngerti kagak!” Kamalea sudah mulai gemas ingin menjenggut-jenggut rambut yang sudah sedikit gondrong itu.
Revka malah terkekeh lirih, “Iya, ngerti,” ujarnya mengundang tatapan menyelidik terpasang di wajah wanita yang memiliki tubuh berisi itu. Kamalea paling anti dikatakan gemuk. Tubuh Kamalea memang tidak bisa dikatakan gemuk juga, tetapi badannya memang berisi. Revka bingung menyebutnya, atau … bisa dibilang sekal, atau apalah itu.
“Beneran paham?” tanya Kamalea sangsi. Sementara Revka hanya memilih mengangguk karena percuma pula mendebat. Wanita dan slogan ‘wanita selalu benar’ sampai sekarang masih susah untuk Revka kalahkan.
“Kalau belum. Lo inget pas gue mimpiin rumah sebelah rame banget, nggak?”
Revka tidak menjawab, malah menggaruk telinganya dengan raut bosan. Bagaimana tidak bosan? Ia sudah mendengar cerita ini berkali-kali. Bahkan susunan kalimat yang Kamalea gunakan juga tidak jauh berbeda setiap waktunya.
“Beberapa hari kemudian ada yang meninggal, kan?”
Revka mendesah malas, ingin menjawab. “Ya kan memang yang meninggal itu udah sakit keras dari lama, Lea.” Namun, segala kalimat itu hanya Revka simpan di dalam hatinya.
“Dan sekarang.” Radar bahaya di otak Revka menyala saat Kamalea mulai menunjukkan senyum lebar dengan mata menerawang jauh seperti saat ini.
“Gue yakin mimpi yang lagi sering muncul di malam-malam gue tidur satu pertanda bagus.” Revka malah mendengkus jengah, ia memilih bangkit ketimbang mengurusi soal cerita Kamalea yang lagi-lagi sudah ia hafal.
“Loh, kok malah pergi? Lo mau ke mana, Rev?”
“Ngantuk gue. Lo juga tidur sono, biar bisa ketemu pangeran impian lo itu.” Revka tersenyum miring sarat akan ejekan, tetapi tanggapan Kamalea malah menunjukkan senyum yang semakin melebar.
“Ih, Revka lo pinter banget, si! Gue memang lagi kangen sama pangeran di mimpi gue!” Kamalea pun bangkit dari teras rumahnya, lalu segera masuk. Revka yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib sahabatnya itu.
*
Kamalea tersenyum lebar dengan mata berbinar saat tangan itu terulur untuknya. Sebuah senyum lembut khas laki-laki dewasa tertuju hanya padanya. Sebuah rasa bahagia menelusup pelan ke dalam dadanya, nyaris membuat jantung Kamalea meledak saat itu juga. Apalagi saat genggaman jemari mereka bersatu. Kamalea hanya berharap jika jemarinya tidak mendingin karena sungguh itu akan membuatnya malu.
Tidak ada yang bersuara, keduanya hanya saling menggenggam tangan dengan senyuman yang tidak juga luntur. Entah siapa yang memulai, tetapi keduanya mulai melangkahkan kaki sembari memandang hijau yang tersaji di sekitar mereka.
Kamalea berulang kali menarik dan mengembuskan napas gugup. Sesekali netra cokelat itu akan melihat ke arah tautan tangan mereka, lalu senyum bahagia akan semakin mengembang bahkan nyaris membuat bibirnya melebar sampai ke pipi. Lalu, laki-laki tanpa nama itu tiba-tiba berhenti, memutar tubuh untuk menghadap ke arahnya.
“Lea,” bisik laki-laki itu dengan sorot penuh cinta.
“Bangun.” Kamalea mengerjab karena suara itu berganti menjadi suara mamanya.
“Kamalea!” Lagi, wanita itu kembali mengernyitkan dahi. Tidak hanya suara yang berubah nyaring, tetapi terdengar juga gedoran dari balik pintu.
“Kamu bilang ada meeting pagi kenapa belum bangun, Kamalea!”
Saat itu juga mata Kamalea terbuka, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamarnya. Wanita dengan kulit kuning langsat khas orang Indonesia itu tersnyum saat mengingat kembali mimpinya yang baru saja selesai. Ini mimpi keempat dengan laki-laki yang sama. Laki-laki yang bahkan tidak ia kenal siapa namanya. Karena Kamalea memang baru menemui laki-laki itu di dalam mimpinya. Mimpi yang Kamalea yakini sebagai pertanda jika jodohnya akan segera datang. Dan jika hal ini benar, maka Tuhan mengirim jodoh untuknya tepat di saat usianya sudah menginjak duapuluh delapan tahun.
“Lea!” Kamalea meringis dan segera bangkit. Tidak lupa menjawab ‘iya’ sebelum mamanya menggegerkan warga satu komplek hanya untuk membangunkannya.