2. Ini Mimpi?

1283 Words
“Diusir dari rumah lo, ya?” cibir Kamalea saat melihat sosok laki-laki dengan kemeja warna cokelat sudah duduk di meja makan. Ada mama, papa, dan juga Kino, adik semata wayang Kamalea yang super tengil.   “Tuh kan Tante, Revka bilang apa? Pasti ada yang nindas kalau Revka terima tawaran tawaran di sini.” Laki-laki itu berlakon seperti anak teraniaya saat mengatakan itu. Sementara yang diajak bicara hanya menggeleng pelan tanpa menanggapi kekonyolan yang Kamalea dan Revka lakukan. Bukan hal aneh lagi untuk keluarga ini, atau pun keluarga Revka yang sudah menjalin hubungan baik semenjak dulu.   “Kak Lea sama Abang Rev itu sebenernya cocok, loh. Kenapa nggak kawin aja si biar nggak jadi jomlo ngenes?” Kino yang sedang asyik dengan makanan di depannya ikut menimpali. Namun, segera mengkerut saat mendapat satu pelototan peringatan dari sang mama.   “Belajar dari mana bahasa seperti itu?” tegur mamanya yang hanya dibalas cengiran oleh Kino. Padahal pemuda itu sudah duduk di bangku kuliah, tetapi masih sering diperlakukan bagai anak remaja yang baru puber.   “Mama nggak tahu aja kalau Kino berpengalaman soal itu,” kikik Kamalea sembari menjulurkan lidah pada adiknya yang melotot kesal.   “Kalau makan jangan sambil perang bisa?” Sang papa yang sejak tadi diam ikut menimpali karena kadang jengah juga dengan suasana berisik yang selalu tercipta di meja makan. Kalau sudah begitu, semuanya akan mengangguk patuh dan menikmati makanan mereka dalam diam.   Sebenarnya kalimat candaan yang tadi Kino lontarkan juga tidak ada yang salah. Banyak juga yang menanyakan kenapa Kamalea dan Revka tidak menikah saja. Secara dilihat dari segi mana pun mereka ini terlihat cocok. Bahkan dua keluarga sudah sangat dekat karena menjadi tetangga sejak baru menikah, dan sampai sekarang jarang sekali ribut.   Orang tua keduanya bukannya tidak pernah membahas hal seperti itu. Jika anak-anaknya mau, satu sama lain setuju untuk menikahkan keduanya. Namun, tentu saja jika hanya Kamalea dan Revka setuju. Tidak akan ada pemaksaan perjodohan yang sering terjadi hanya karena obsesi untuk menjadi besan.   “Revka itu punya pacar, mana mau dia sama Lea. Orang tipe dia itu yang kutilang, kurus tinggi langsing.” Jawaban yang Kamalea berikan setiap kali ditanya apakah tidak pernah terlintas untuk menjalin hubungan yang lebih jauh selain sahabat. “Lagian, sayang banget hubungan baik yang dibangun lama. Takutnya, nanti kalau putus jadi musuhan lagi. Kan nggak enak musuhan sama tetangga,” imbuh Kamalea yang memang tidak pernah terpikir untuk menjadikan Revka kekasih apalagi pasangan hidup.   Sementara Revka pun memiliki pemikiran yang nyaris sama. “Lea itu asyik dijadiin sahabat doang. Untuk dijadiin istri?” Laki-laki itu menggeleng dramatis dengan sebuah ringisan. Kamalea dan istri idaman adalah satu hal yang tidak akan pernah menjadi satu, setidaknya itu menurut Revka. Kalau sudah begitu, satu cubitan kecil akan mendarat di lengan Revka jika hal yang laki-laki itu katakan tidak sengaja terdengar oleh wanita bar-bar yang sayangnya berstatus sebagai sahabatnya itu.   *   Kamalea memang bukan tipe orang pendiam, bukan juga tipe orang yang tidak suka bergosip. Ia tipe wanita yang bisa masuk ke pergaulan dengan jenis apa pun itu asal tidak berbahaya dan melanggar norma. Namun, saat ini ia sedang disibukkan oleh pekerjaan yang begitu menumpuk. Di mana, siang ini semuanya harus sudah diletakkan pada meja Mas Fajar, penanggung jawab sekaligus ketua divisi tim pemasaran.   “Lo juga lihat, ganteng banget, kan? Astaga, akhirnya kantor kita memiliki satu yang bisa dipakai buat cuci mata.” Obrolan itu hanya bisa Kamalea lewatkan dengan risiko ia harus bisa mengendalikan fokus. Padahal sejak tadi mulutnya sudah gatal ingin  menanyakan siapa laki-laki yang sejak tadi membuat dua teman satu divisinya ini heboh.   “Lea! Lo liat juga, nggak?” tanya Mita, teman dekat yang Kamalea temui sejak pertama kali masuk ke kantor ini.   “Liat apaan?” jawab Kamalea tanpa mengalihkan perhatiaannya. Bisa mengamuk Mas Fajar jika tugasnya tidak selesai tepat waktu, sementara besok semuanya akan dipakai untuk bahan rapat.   “Bos baru, yang gantiin Pak Wisnu,” kata Mita lagi. Kali ini wanita itu tampak ikut menyalakan laptop. Setelah puas bergosip, dan setelah sadar jika jam sudah berlalu jauh dari angka delapan. Pantas saja sejak tadi mata Mas Fajar yang duduk di ruangan tidak lepas memberi kode yang baru bisa diterjemahkan sekarang. “Kerja!” itulah kurang lebih kode yang laki-laki berkaca mata itu lesatkan sejak tadi.   “Belum, memangnya jadi masuk hari ini?” Kamalea sudah mendengar tentang pengganti Pak Wisnu, salah satu petinggi kantor yang minggu kemarin terbukti telah melakukan korupsi. Menurut kabar yang beredar, pengganti laki-laki itu akan masuk hari ini.   “Tadi dateng sebentar, gilaaa, cakep banget.”   Kamalea mendengkus. “Cowok mana si, yang lo bilang nggak cakep. Pak Supri aja lo bilang cakep.” Wanita itu terkikik dan berusaha menghindar saat tangan Mita sudah hendak mencubitnya.   “Mata gue belum katarak kali.” Mita tampak memberengut sementara Kamalea tergelak lirih. Selanjutnya suasana hening karena Mas Fajar sudah mulai berdeham-deham dari balik kantornya yang memiliki dinding kaca.   *   Biasanya Kamalea akan menghabiskan waktu makan siangnya di luar. Akan tetapi karena pekerjaannya begitu banyak, maka ia terpaksa mengandalkan jasa office boy kantor untuk membelikan makan siang yang diinginkan. Begitu pun dengan yang lain, masih duduk di depan laptop masing-masing. Hari ini kantor memang terlihat lebih sibuk dari biasanya karena katanya akan ada perkenalan bos baru yang tadi Mita bicarakan. Sebenarnya Kamalea sangat penasaran, dia paling tidak bisa mendengar kata ‘tampan’. Maklumli saja jiwa jomlonya yang sudah meronta ingin diganti status. Apalagi mengingat terakhir kali ia memiliki kekasih adalah sejak dua tahun yang lalu. Dan sejak saat mendapati laki-laki yang Kamalea pikir akan menjadi pasangan hidupnya selingkuh, wanita itu lebih berhati-hati lagi dalam memilih laki-laki untuk dijadikan kekasih.   Revka bilang jika Kamalea itu trauma, tetapi hal itu dibantah mentah-mentah oleh wanita itu. Menurut Kamalea sendiri, dirinya hanya meningkatkan waspada, dan akan memilih yang lebih baik. Tidak akan mengulangi kesalahan karena dia bukan keledai bodoh. Jika sudah mendengar kalimat seperti itu, bukannya merasa bangga Revka malah akan tergelak kencang. Seolah Kamalea dengan kalimat serius adalah sesuatu yang patut ditertawakan.   Kamalea menghentikan pekerjaannya saat Mas Fajar meminta ia dan Mita untuk hadir di ruang meeting.   “Wah, asiik, gue bisa cuci mata,” seru Mita.   Kamalea yang tidak mengerti maksud dari seruan temannya itu hanya mengangkat alis. “Cuci mata?”   “Lo tahu hari ini meeting apa?” Mita mengedip genit sementara terdengar dengkusan malas dari arah belakang mereka.   “Kenapa Mas Fajar nggak noleh ke gue, si, padahal gue lebih bisa dipamerin.” Kamalea dan Mita hanya saling pandang, lalu tertawa geli mendengar gerutuan Andin. Si biang gosip yang memang seringnya merasa menjadi wanita paling cantik di kantor ini.   “Udah ah, yuk cabut sebelum Mas Fajar ngomel.” Kamalea berinisiatif bangkit, dan Mita pun ikut bangkit untuk ke ruang rapat.   “Gue ke toilet bentar keburu nggak, ya?” bisik Kamalea saat kakinya hampir mendekat ke arah pintu ruang rapat.   “Ah lo kebiasaan, deh. Udah cepetan sono!” Mita menggerutu sembari mendorong pelan bahu Kamalea agar segera menuntaskan hajatnya.   Kamalea pun bergegas mengosongkan kandung kemihnya yang terasa penuh. Lalu setelah selesai ia segera masuk ke ruangan meeting yang ternyata sudah cukup penuh. Ia pun duduk di bangku samping Mita dan Mas Fajar.   “Mana yang kata lo ganteng?” bisik Kamalea sembari mengedar pandang. Namun, wajah-wajah yang ia temui tidak ada yang asing.   “Tadi udah masuk, terus keluar bentar nggak tahu mau ngapain.”   Kamalea hanya mengangguk-angguk lalu memeriksa ponselnya yang memunculkan pesan dari Revka. Namun, belum sempat ia membuka pesan tersebut, tangan Mita menyenggol lengannya sebagai isyarat jika yang mereka tunggu sudah datang. Kamalea pun segera mengantongi benda pipih itu dan—   “Ini, mimpi?” gumamnya saat melihat siapa laki-laki yang kini tengah memperkenalkan diri di depan sana. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD