Kamalea mengerjab, mencoba menegaskan apa yang ia lihat tidaklah salah. Laki-laki itu, yang berdiri di depan sana, nyatakah dia? Senggolan di tangan membuat wanita berusia 28 tahun itu menoleh, dan mendapati senyum geli Mita yang sejak tadi merasa konyol dengan sikapnya.
“Lo ngapain deh, Ya? Daritadi ngucek-ngucek mata.” Mita menatap heran Kamalea yang malah seperti baru menyadari sikap konyol yang wanita itu tunjukkan sejak tadi. Dan Kamalea sendiri juga tidak menyadari jika sejak tadi mengucek mata.
“Penilaian gue nggak salah, kan? Tapi masih single nggak, ya?” Kalimat yang Mita ucapkan otomatis membuat mata Kamalea kembali fokus ke arah depan. Di mana laki-laki yang mereka bicarakan, kini tengah memperkenalkan diri dengan nama Deon. Dan mulai hari ini akan menjadi pemimpin baru perusahaan, yang sudah menjadi tempat Kamalea bekerja tiga tahun belakangan ini.
“Deon,” bisik Kamalea dengan senyum mengembang. Dan tepat di waktu yang sama, mata Deon mengarah ke arahnya. Bahkan bibir itu seperti melempar senyum kepadanya. Mata Kamalea sontak melebar, dan wanita itu memalingkan wajah. Ia yakin tadi itu pasti tidak nyata.
“Ya ampun, doi nglempar senyum ke lo tadi?” Namun, saat bisikan Mita terdengar, netra Kamalea mau tidak mau kembali terlempar ke tempat yang sama. Dan lagi, saat itu juga mata Deon kembali menemukannya, dan senyum itu kembali muncul untuknya? Kali ini tidak hanya pipi Kamalea yang merona, tetapi jantungnya juga mulai berdegub kencang tanpa bisa ia kendalikan.
*
Kamalea yang sebelum ini yakin jika mimpinya memang pertanda akan terjadinya sesuatu, kini semakin yakin saat sosok yang masuk ke dalam mimpinya itu kini muncul di dunia nyata. Sungguh, Kamalea tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan berjalan seperti novel yang sering ia baca. Ah tidak, bahkan ini tidak hanya seperti cerita novel, tetapi malah seperti dongeng yang terjadi pada dunia nyata. Ibaratnya Deon itu pangeran dengan kuda putih, yang telah melintasi lorong waktu, dan kini datang untuk menjemputnya sebagai jodoh. Astaga! Kamalea benar-benar merasa konyol dengan pemikirannya sendiri.
Wanita itu benar-benar tidak sabar untuk mengatakan pada Revka tentang semua yang terjadi ini. Ia ingin tahu apakah laki-laki itu akan membantah jika ia bercerita jika bos baru yang muncul di hadapannya adalah jelmaan dari pangeran yang sering masuk ke dalam mimpinya.
Oke, tafsiran mimpinya yang kemarin-kemarin memang tidak selalu akurat. Namun, sejauh ini semua tafsiran mimpi itu nyaris 80% terjadi. Kamalea akan mencontohkan lagi pada semua orang terutama Revka agar mau percaya. Kamalea pernah bermimpi gigi bagian atasnya copot, dan menurut tafsir mimpi, itu adalah pertanda jika anggota keluarganya akan ada yang meninggal. Dan benar saja, satu minggu setelah mimpi itu, eyang dipanggil oleh sang pencipta.
Tentu saja itu bukan satu-satunya mimpi yang menjadi sebuah tragedi. Suatu malam, Kamalea pernah diberi uang yang begitu banyak oleh seseorang. Dan menurut tafsir mimpi, itu adalah pertanda bahwa ia akan ditimpa kemalangan. Benar saja, Kamalea mengalami kecopetan yang membuatnya kehilangan banyak surat berharga. Namun, jika Kamalea sudah mulai dengan semua itu, Revka pun akan selalu memberikan bantahan dengan kalimat yang nyaris sama.
“Kan eyang lo memang udah sakit parah sebelum lo mimpi itu.”
“Nah kalau yang gue kecopetan itu?”
Revka berdecap, merasa bingung kenapa sahabat wanitanya ini sangat bebal jika sudah berhubungan dengan mimpi.
“Itu lo-nya aja yang memang lagi apes, atau kurang ati-ati,” jawab Revka santai, membuat Kamalea malas untuk berbicara dengan Revka lagi.
Akan tetapi, saat hari ini satu lagi mimpinya kembali menjadi kenyataan, Kamalea tidak memiliki tempat untuk berbagi kebahagiaan selain pada sahabatnya itu.
“Dia muncul di dunia nyata?” tanya Revka sangsi. Melihat betapa berbinarnya wajah Kamalea saat ini, membuatnya merasa kesal karena lagi-lagi Kamalea berulah dengan tafsir mimpinya itu.
“Dia bos baru gue, Rev. Mukanya benar-benar mirip dengan yang ada di mimpi gue.” Kamalea terlihat sungguh-sungguh saat mengatakan itu, tetapi tanggapan Revka malah hanya kernyitan tidak suka.
“Kali ini beneran, Rev! Dia nyata! Persis sama kayak yang di mimpi gue.” Wanita itu mencoba meyakinkan jika kali ini mimpinya adalah sebuah kenyataan.
“Lo yakin belum pernah ketemu sama dia sebelum ini?” tanya Revka masih berusaha menjegal kepercayaan Kamalea tentang arti mimpi konyolnya itu.
“Maksud lo?”
“Ya siapa tahu, lo sebenarnya pernah kenal sama dia. Dan itu alasan kenapa dia masuk ke mimpi lo. Mungkin dia pernah menjadi seseorang yang lo kagumi?” Revka yakin itu lebih masuk akal. Laki-laki itu adalah seseorang dalam masa lalu Lea, dan kini bisa muncul mungkin karena tanpa sadar Kamalea masih mengaguminya. Entahlah, yang jelas apa pun itu alasannya, Revka akan percaya jika tidak berhubungan dengan mimpi konyol Kamalea.
Kening Kamalea berkerut, mencoba mencerna maksud dari kalimat yang Revka ucapkan.”Jadi gue kayak kedistrak gitu?”
Revka mengangguk sebagai jawaban, dan diperhatikannya wajah Kamalea yang tampak berpikir. Revka pikir, Kamalea akan membenarkan ucapannya, tetapi nyatanya wanita itu malah menggeleng.
“Hari ini pertemuan pertama gue sama dia,” ujar Kamalea yakin. “Jadi artinya dia itu jodoh gue, kan?” lanjut wanita itu dengan senyum lebar.
Revka yang melihat senyum itu sontak berdecap malas. “Bodo amat Lea! Gue nggak peduli.” Dan setelah mengatakan itu, Revka sontak berdiri lalu masuk ke dalam rumah.
“Ih, lo mah nggak asik, Rev!” kesal Kamalea dengan wajah memberengut, lalu ikut bangkit dan masuk ke rumah tepat di samping hunian Revka.
*
Malam itu Deon kembali muncul di mimpi Kamalea. Laki-laki itu memberinya sebuah bunga dengan wajah bersinar begitu tampan. Tidak perlu membuka buku primbon untuk menafsirkan mimpi tersebut. Karena Kamalea yakin, jika mimpi kali ini pertanda baik. Deon memberinya bunga, itu artinya laki-laki itu akan memberikan kebaikan di hidup Kamalea. Ingat, itu tafsir mimpi mengada-ada yang Kamalea buat sendiri.
Pagi ini Kamalea bangun dengan wajah berseri dan juga senyum lebar yang tidak juga luntur. Bahkan mama, papa, serta adik laki-lakinya terlihat bingung oleh sikapnya itu. Kamalea memang wanita yang ceria, meski di usianya yang sudah menginjak 28 tahun ini belum juga menemukan pasangan, tetapi wanita itu tidak memikirkannya dengan pusing. Dan ia bersyukur, mama dan papanya termasuk manusia modern yang tidak terus mendesaknya untuk menikah karena faktor usia.
“Kesambet lo, Kak? Dari tadi senyam-senyum kagak jelas gitu,” sindir Kino yang tengah bersiap untuk berangkat ke kampus. Mereka hanya dua bersaudara, dan terpaut usia delapan tahun.
“Nggak usah sirik, deh, ya,” cibir Kamalea seraya bangun setelah memakai sepatu kerjanya.
“Mau ke mana lo?” tanya Kino menghentikan langkah kakaknya yang sudah hampir mencapai pintu pembatas rumah mereka dengan keluarga Revka.
“Mau nyamperin Revka lah.” Kamalea kembali melangkah.
“Emang lo nggak tahu Bang Revka sakit?” Mendengar hal itu, langkah Kamalea kembali terhenti, lalu menoleh ke arah adiknya.
“Sakit?”
Kino berdecap malas, lalu segera mendekati motor besarnya. “Sahabat durhaka lo. Temen sakit bisa nggak tahu,” ledeknya seraya pergi, sebelum kakaknya meminta tumpangan untuk diantar ke kantor.
“Eh No! Anterin Kakak!” jerit Kamalea yang berujung percuma karena motor dengan knalpot berisik itu sudah meluncur pergi meninggalkan asap yang mengepul hitam.
Kamalea yang sudah mengerti tabiat adiknya hanya bisa menggeram kesal, lalu ia memutuskan untuk memesan ojek online.
*
“Ini jadinya gimana, Pak? Saya udah kesiangan loh,” ujar Kamalea yang ternyata memiliki nasib sial hari ini.
Bagaimana tidak? Ojek online yang mengantarkannya ke tempat kerja malah mogok di tengah jalan. Sebenarnya bisa saja wanita itu langsung memesan ojek online lain, tetapi ia merasa perlu berbasa-basi dengan driver ojek online yang mengantarkannya ini
“Neng pesen ojol lain aja, deh. Di sekitar sini nggak ada bengkel soalnya,” jelas sang driver yang sudah terlihat letih itu. Padahal hari masih pagi.
“Ya udah, deh, ini ongkosnya, Pak.” Meski belum ada setengah perjalanan, Kamalea tidak tega untuk tidak membayarkan ongkosnya.
“Nggak usah, Neng, ini kan baru berapa meter.”
Kamalea menjejalkan uang yang dikembalikan padanya ke kantong baju sang driver. “Udah, itu rejeki Bapak.” Dan wanita itu hanya mengangguk saat bapak ojol tersebut mengucapkan terima kasih yang begitu tulus.
Kamalea pun segera mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online baru. Dan— dahinya mengernyit saat tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti persis di hadapannya. Kernyitan itu pun berubah menjadi raut terkejut saat kaca mobil diturunkan, dan menunjukkan wajah Deon.
“Kamu Lea, kan?” tanya laki-laki itu membuat mata Kamalea makin melebar. Dari mana Deon mengenal dirinya?
“Mau bareng?” Ingin menggeleng demi menjaga gengsi, tetapi jam sudah tidak memungkinkannya untuk memesan ojek online yang bisa saja lama ia dapatkan.
“Memang nggak papa, Pak?”
Deon tertawa kecil. “Memangnya harus kenapa? Udah ayo naik! Nggak perlu saya bukain pintu, kan?”
Kamalea pun menggeleng cepat, dan segera masuk ke dalam mobil. Inikah pertanda mimpinya semalam?
*
Hari ini Kamalea tampak begitu semangat dalam bekerja. Meskipun tadi Deon tidak menurunkannya di lobi kantor, melainkan di tempat yang masih harus memaksanya jalan kaki, tetapi tetap saja kesempatan satu mobil dengan Deon tidak akan pernah wanita itu lupakan. Sebenarnya turun di tempat yang masih jauh dari kantor adalah inisiatif Kamalea sendiri. Ia takut akan ada gosip yang tidak baik jika dirinya terlihat turun dari mobil bos barunya itu.
“Nanti Bapak yang rugi kalau digosipin sama saya,” ujar Kamalea saat Deon bertanya kenapa ia tidak turun di lobi.
“Kenapa harus rugi?”
Kamalea memberikan cengiran. “Digosipinnya sama rakyat jelata gini, apa untungnya, kan, Pak?”
Mendengar alasan itu, tentu saja Deon tertawa geli. “Kamu itu ada-ada aja, Lea.”
“Oke sekarang nggak papa turun di sini, tapi lain kali kalau kita kebetulan bareng lagi, nggak bakal saya izinin kamu jalan kaki. Ini masih jauh, loh.”
Kamalea tertegun bukan hanya karena wajah Deon terlihat begitu tampan saat sedang berbicara dengan penuh senyuman. Namun, kata ‘lain kali’ yang laki-laki itu ucapkan membuat hati Kamalea semakin mengembang penuh harap.
Jadi, jangan salahkan dia yang makin mempercayai jika tafsir mimpi itu benar adanya. Dia dan Deon adalah jodoh yang sudah Tuhan takdirkan.