Hari Kamalea yang sudah penuh dengan semangat setiap harinya bertambah kian semangat mulai kemarin. Apalagi alasannya jika bukan karena Deon, laki-laki yang kini tidak hanya bisa ia temui melalui mimpi, tetapi juga lewat dunia nyata. Meski tidak bisa ia sentuh, hanya bisa ia pandang lewat kejauhan seperti sekarang saja, sudah membuat bibir Kamalea tertarik begitu lebar.
“Kedip woi kedip,” bisik Mita yang sejak tadi sadar ke mana arah pandang teman satu kubikelnya ini. Kamalea yang seolah baru tersadar akan kekonyolan yang ia lakukan, seketika tersentak. Diliriknya Deon yang sedang makan siang dengan beberapa karyawan laki-laki, lalu wanita itu meringis malu saat ternyata laki-laki itu juga tengah meliriknya.
“Lo nggak bisa santai apa, Ya? Jaga image dikit kali,” bisik Mita lagi dengan desisan yang nyaris tidak terdengar. Bagaimana tidak malu? Dari tadi wanita di depannya ini sungguh keterlaluan. Memandang Deon secara terang-terangan, bahkan nyaris tidak berkedip sejak beberapa menit yang lalu.
“Emang gue ngapain, si?” tanya Kamalea pura-pura lupa ingatan, padahal sejujurnya ia begitu ingat hal memalukan apa yang sejak tadi ia lakukan. Kalau yang di depannya saat ini adalah Revka, sudah pasti ia ditinggal sendirian sejak tadi. Beruntung Mita tidak memiliki sifat sekejam Revka.
Mita hanya mendelik kesal tanpa mau menjelaskan, melihat hal itu Kamalea malah terkikik lirih. Jangan salahkan dia, salahkan matanya yang kenapa enggan beralih ke arah lain kalau sudah melihat Deon.
“Udah mau jam satu, balik yuk!” ajak Mita yang sudah menyelesaikan makan siangnya dengan semangkuk soto. Mereka memang menghabiskan makan siang di luar kantor, tepatnya di kedai soto yang terletak di samping gedung kantor tempat mereka bekerja.
Kamalea mengangguk, lalu segera melangkah ke meja kasir untuk membayar. Akan tetapi—
“Sudah dibayar, Mbak.” Kamalea melongo bingung mendengar jawaban tersebut.
“Bapak yang di sana yang bayar.” Kini, mata Kamalea mengikuti arah telunjuk kasir tersebut mengarah. Dan— Kamalea meringis canggung, mengangguk pada Deon yang juga tengah menatap ke arahnya. Ia mengucapkan terima kasih tanpa suara, lalu segera melangkah cepat ke arah Mita yang tampak kebingungan.
“Kenapa?”
“Udah yuk cabut dulu!” bisik Kamalea sembari menarik lengan Mita agar mau segera meninggalkan kedai soto tersebut.
“Kenapa, si?” tanya Mita penasaran karena sikap yang Kamalea berikan sungguh aneh. Dan sekarang lebih aneh lagi saat mata wanita itu tampak berbinar-binar dengan senyum yang terlalu lebar.
“Tadi makanan kita udah dibayarin sama Pak Deon,” jawab wanita itu masih dengan senyuman lebarnya.
“What?” Mita terkejut, tentu saja ini aneh. Kamalea menganguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban atas keraguan yang kini Mita sorotkan dari matanya.
“Dalam rangka apa, ya?” gumam wanita dengan rambut sebahu itu seperti tengah berbicara sendiri. Sementara Kamalea yang memang tidak mengerti tujuan dari Deon melakukan itu, memilih mengangkat bahu tak acuh.
Bibir Kamalea kembali tertarik lebar karena pertanda tentang mimpinya semakin jelas terlihat. Apa jangan-jangan, Deon juga memimpikan dirinya? Sehingga bisa langsung mengenalinya saat pertama kali mereka bertemu hari itu? Ah iya! Bisa saja hal itu terjadi. Dan jika memang itu benar-benar terjadi, Kamalea semakin yakin jika mereka berdua ini adalah jodoh.
“Berarti traktiran lo yang tadi batal, ya, yang bayarin kan Pak Deon.” Ucapan Mita membuat senyum Kamalea di depannya menghilang. Jika tidak dalam kondisi hati baik dan berbunga seperti sekarang, Kamalea sudah pasti akan mendebat. Namun, karena situasi yang kini ia rasakan sedang menyenangkan, maka dengan sneyuman lebar wanita itu mengangguk. Ia akan mengganti janji mentraktir Mita yang sudah ia koar-koarkan sejak minggu lalu untuk diganti lain hari.
*
‘Gue belum bisa balik, kerjaan belum kelar. Lo balik sendiri nggak papa?’
Kamalea berdecap lirih saat membaca pesan balasan dari Revka. Laki-laki itu sudah mulai bekerja hari ini, dan wajar jika pekerjaannya menumpuk walaupun hanya meliburkan diri sehari. Revka adalah tangan kanan bos di kantornya, bos wanita yang Kamalea yakini memiliki perasaan lebih kepada laki-laki itu. Hal yang sebenarnya sudah Revka sadari, dan mungkin diam-diam keduanya menjalin kasih. Entahlah, Kamalea sendiri enggan ikut campur untuk urusan percintaan sahabatnya itu.
‘Nggak papa, gue naik ojol aja.’
Pesannya hanya Revka baca tanpa dibalas. Sudah menjadi hal yang biasa, malah akan terdengar aneh jika Revka mengucapkan hati-hati atau semacamnya.
“Belum pulang?” Kamalea yang sedang membuka aplikasi pemesanan ojek online seketika mendongak dengan mata melebar. Namun, selanjutnya ia berusaha untuk bersikap biasa meski degub jantungnya mulai tak terkendali.
“Ini baru mau pesan ojol, Pak,” jawab wanita itu seraya menundukkan kepala ke arah layar ponsel. Dalam hati terus berusaha menenangkan diri agar kegugupan yang ia rasakan tidak menimbulkam getar di tangannya.
“Bareng saya aja, gimana? Sepertinya rumah kita searah.”
“Emm—“
“Kamu tunggu di sini sebentar.” Deon langsung melangkah pergi sebelum Kamalea menjawab apa pun.
“Dia memang jodoh gue,” bisik wanita itu nyaris menlonjakkan kaki karena senang.
*
“Oh ya, Pak, makasih buat makan siangnya tadi.” Kamalea mengucapkan itu setelah duduk di dalam mobil Deon. Diliriknya dengan penuh kekaguman laki-laki yang sedang fokus melajukan mobilnya untuk meninggalkan area perkantoran ini.
“Nggak masalah,” jawab laki-laki itu seraya menoleh sekilas ke arah Kamalea yang semakin merasa gugup karena dilempar senyum menawan seperti itu.
“Tapi sayanya yang nggak enak, Pak. Udah ditebengin, dibayarin makan siang, sekarang ditebengin pulang juga,” ringis Kamalea masih memposisikan matanya ke arah Deon yang kini kembali menatapnya, sebelum menatap lurus ke jalanan.
“Biar enak, gimana kalau gantian?”
Kamalea menaikkan kedua alisnya bingung. “Maksudnya?”
“Mau mampir makan sebentar?” tawar laki-laki itu dengan senyum yang—
Kamalea cepat-cepat menarik matanya dan melempar ke arah lain. “Boleh, Pak. Gantian saya yang traktir, ya?”
Deon kembali tersenyum, lalu mengangguk dan mengarahkan mobil ke tempat di mana mereka akan menyantap makan sore.
*
“Nggak masalah, kan, Pak, tempatnya kayak gini?” tanya Kamalea saat sadar jika yang ia ajak makan ini bos, bukan rakyat jelata macam Revka yang bisa menikmati makan di manapun.
Deon tampak mengedar ke area kedai bakmi yang cukup bersih dan nyaman, sebelum menghentikan tatapannya pada Kamalea yang duduk di depannya.
“Memang kenapa?”
“Emm, ya, saya pikir—“
Deon yang akhirnya sadar apa maksud dari sikap Kamalea tertawa lirih. Hal yang membuat wanita di depannya semakin menahan napas karena Deon sungguh terlihat semakin memikat saat sedang tertawa seperti itu.
“Saya bukan orang seperti itu Kamalea,” ujar Deon dengan senyum geli. “Saya makan di mana pun. Yang penting tempatnya bersih. Nggak harus restoran atau kafe yang berharga mahal padahal rasa masakannya biasa saja.”
Kamalea tersenyum canggung, lalu hanya mengangguk untuk menanggapi kalimat Deon. Ia yang tidak tahu malu dan cerewet bisa jinak dalam waktu sekejab. Revka pasti akan menertawakannya jika melihatnya yang seperti sekarang ini.
“Saya sebenarnya suka berkuliner, datengin tempat-tempat baru dengan makanan unik.”
“Wah, kok bisa sama, Pak! Saya kalau hari libur senengnya wisata kuliner, menjelajah tempat makan baru,” sahut Kamalea penuh semangat.
“Oh ya? Sepertinya saya ketemu orang yang cocok.” Kamalea seketika tertegun mendengar kalimat itu. Namun, sepertinya Deon tidak menyadarinya.
“Gimana kalau hari minggu besok kamu ajak saya ke tempat unik yang pernah kamu datangin?” tanya Deon sembari menatap Kamalea yang langsung tergeragap karena tertangkap basah tengah memperhatikannya.
“Boleh, boleh, Pak. Nanti saya buat listnya biar Bapak yang milih mau ke mana,” ujar wanita itu dengan senyum lebar. Deon ikut tersenyum, lalu mengangguk, dan obrolan terus berlanjut sampai pesanan mereka datang.
*
“Kamu itu, orang yang menyenangkan,” ujar Deon saat dalam perjalanan pulang. Kamalea yang duduk manis sembari menahan hasrat untuk tidak terus menatap ke arah Deon langsung menoleh.
“Masak si, Pak?”
Deon mengangguk, “Buktinya kita langsung bisa akrab gini. Padahal saya bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang baru. Terutama seorang wanita.”
Kamalea mengerutkan kening, tetapi hanya sebentar karena selanjutnya wajahnya memerah saat mengerti arti dari kalimat yang Deon ucapkan. Apa, itu artinya ia istimewa? Begitukah?
“Berhenti di depan saja, Pak,” ujar Kamalea saat gerbang komplek perumahannya sudah terlihat.
“Loh, kenapa nggak sampai depan rumah aja?” Deon tampak mengerutkan kening bingung.
Kamalea malah menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal, bingung mencari alasan.
“Emm, oke-oke, saya ngerti. Takut jadi omongan?”
Kamalea meringis tidak enak. Kompleknya memang bukan komplek elit di mana sesame tetangga tidak saling peduli.
“Tapi nanti hari Minggu jadi, kan?” tanya Deon saat Kamalea mulai melepas sabuk pengamannya.
“Kalau saya si bisa-bisa aja, Pak.”
Deon mengangguk dengan senyuman menawan. “Oh ya Lea.” Gerakan Kamalea yang sedang membuka pintu mobil pun terhenti.
“Ya, Pak?”
“Emm, bisa nggak kalau di luar kantor jangan panggil saya Bapak.” Deon menatap lurus mata Kamalea yang tampak terkejut, lalu wanita itu terlihat salah tingkah.
“Terus?”
Deon mengedikkan bahu, “Boleh panggil nama aja.”
Kamalea meringis bingung, merasa tidak akan sopan jika langsung memanggil nama. Bukan hanya usia Deon yang Kamalea tebak pasti berada tiga atau empat tahun di atasnya, tetapi rasanya aneh saja.
“Nggak sopan kayaknya kalau panggil nama,” ujar wanita itu dengan senyum sungkan.
“Kalau begitu, gimana kalau mas saja? Kebetulan saya orang jawa.”
“Oh ya?” Mata Kamalea langsung berbinar mendengar itu, bukan hanya kata jawa, tetapi karena Deon menyuruhnya memanggil ‘mas’. “Saya juga orang jawa, Pak, eh Mas maksudnya.”
Deon terkekeh lirih mendengar nada canggung Kamalea. “Kamu jawa mana?”
“Orang tua saya aslinya Jogja,” jawab Kamalea.
“Kok bisa sama, ya, saya juga asli Jogja. Orang tua masih menetap di sana malah.”
“Mungkinkah kita jodoh?” Kamalea nyaris menyuarakan isi kepalanya itu. Beruntung otaknya masih waras dengan hanya menyimpan pertanyaan itu di kepalanya.