“Ke mana lo?” tanya Revka saat melihat Kamalea sudah rapi dengan pakaian santainya di hari Minggu. Padahal, biasanya wanita itu masih akan bergelung di bawah selimut.
“Mau tahu aja,” cibir Kamalea yang juga tengah menilik penampilan rapi Revka. Padahal, biasanya laki-laki ini tengah bersiap mengisenginya jika hari libur datang. Mengganggu ketenangannya yang ingin tidur hingga matahari terbit.
“Lo sendiri mau ke mana?” tanya Kamalea balik.
Revka tersenyum miring seraya berkata, “Mau tahu aja,” ujarnya seperti yang Kamalea katakan tadi.
Kamalea kembali mencibir, tetapi langsung mendekat ke arah Revka yang sedang menyalakan motor.
“Mau ngapain?” tanya laki-laki itu dengan mata menyipit.
“Nebenglah sampai gerbang,” cengir Kamalea dengan tampang tanpa dosa. Revka pun mengedikkan kepala demi memberi Kamalea isyarat untuk segera naik, dan motor itu pun melaju dengan kecepatan sedang.
“Kenapa nggak jemput lo di rumah aja, si? Nggak gentle banget jadi cowok,” kata Revka saat melihat seorang laki-laki yang ia yakini adalah seseorang yang akan mengajak Kamalea jalan hari ini.
“Nggak usah sembarangan deh kalau ngomong.” Kamalea segera turun dari motor Revka, lalu melambaikan tangan ke arah Deon yang sedang berdiri di samping mobilnya.
“Lo kan tahu mulut lemes tetangga kita kaya apa? Makanya gue nyuruh dia buat nunggu di pintu gerbang aja,” lanjut wanita itu.
“Lah kalau ada yang liat begini nggak bakalan jadi gosip?” Kamalea malah mengedikkan bahu. Lalu menepuk bahu Revka sebagai pertanda usiran secara halus. Revka yang peka hanya melotot kesal, lalu segera meninggalkan Kamalea yang mulai berjalan riang ke arah laki-laki, yang entah mengapa terasa familier di mata Revka. Ia seperti pernah mengenal wajah itu, tetapi entah di mana.
Kamalea sendiri tidak lagi memedulikan apakah Revka masih berada di tempatnya atau tidak. Karena kini, matanya tengah terpusat pada sosok Deon yang terlihat begitu menawan hanya dengan kaos hitam berkerah serta celana jeans seperti sekarang. Wajah putihnya tampak segar, dan makin berkilau saat senyuman tercetak dengan begitu tampannya.
“Siapa?” tanya Deon mengedik ke arah motor Revka yang perlahan telah menjauh.
Kamalea pun menoleh sebentar ke arah belakang, di mana motor Revka sudah tidak terlihat, tetapi ia yakin laki-laki itulah yang Deon tanyakan. “Temen, tetangga juga, sahabat juga,” jawab wanita itu dengan senyum mengembang.
“Oh … ya udah, jalan sekarang?” tanya Deon. Dan jawaban Kamalea adalah anggukan penuh semangat yang membuat Deon terkekeh geli.
*
“Saya baru tahu kalau di Jakarta ada tempat seperti ini,” ujar Deon dengan tatapan kagum sembari menoleh ke arah Kamalea yang kini juga menoleh ke arahnya dengan senyuman lebar khas Kamalea.
“Sebenarnya ini juga belum lama kok, Mas. Dan adanya juga pagi, cuman sampai jam sembilanan,” jawab Kamalea yang dibalas anggukan oleh Deon.
“Sepertinya, saya bakalan sering ke sini.” Deon tersenyum, Kamalea pun ikut tersenyum lalu keduanya melangkah bersama di pasar tradisonal yang begitu bersih. Di mana semua tempat menjajakan makanan khas hampir semua daerah di Indonesia. Dan penjaja makanan khas Jogja lah yang keduanya hampiri pertama kali.
Keduanya terus menyusuri pasar itu dengan obrolan ringan. Sesekali berhenti saat ada makanan yang membuat salah satunya penasaran. Kamalea sangat bahagia, ia tidak pernah menyangka hari seperti ini akan tiba. Di mana saat hatinya kembali bahagia dan mampu menemukan penghuninya setelah kosong selama hampir dua tahun. Deon pun tampak bahagia di mata Kamalea, terlihat dari cara bibir laki-laki itu yang terus menunjukkan sebuah senyuman. Jika bisa, Kamalea sungguh tidak ingin berkedip. Ia ingin mengisi memorinya dengan senyum menawan milik Deon. Kadang, ada rasa takut jika semua ini hanyalah ilusi. Ia juga takut jika sebenarnya ini adalah mimpi. Namun, saat tangan Deon menariknya ke dalam pelukan karena ada satu sepeda yang nyaris menyerempet tubuhnya, Kamalea sadar kika semua ini benar-benar nyata. Karena ia bisa merasakan dengan jelas, bagaimana jantungnya yang berdentum begitu keras saat ini.
“Maaf,” ujar Deon dengan ringisan tidak enak saat tiba-tiba saja Kamalea menarik diri dari pelukan tanpa sengaja yang tadi ia lakukan. Laki-laki itu pikir, Kamalea merasa jika dirinya kurang ajar, padahal sebenarnya wanita itu takut jika Deon bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila.
“Emm, nggak papa. Makasih yang tadi.” Kamalea bahkan harus menarik dan mengembuskan napasnya untuk menetralkan perasaannya yang mendadak terasa tidak keruan.
“Tapi kamu beneran ngak papa, kan?” tanya Deon khawatir. Kamalea menggeleng tegas, dan mengajak Deon untuk meneruskan langkah sebelum suasana canggung yang ia ciptakan membuat hari indah ini rusak begitu saja.
*
“Mas Deon beneran seneng hari ini, kan? Bukan karena nggak enak sama saya?” tanya Kamalea untuk memastikan jika senyum yang laki-laki itu berikan bukanlah palsu. Meski dipandang dari segi manapun, Kamalea tidak menemukan kepalsuan.
“Maksudnya?” Deon mengernyit bingung, ia benar-benar tidak mengerti dengan kalimat yang Kamalea katakan.
“Yah … takutnya, Mas Deon sebenarnya nggak suka makan di tempat kayak tadi,” ringis Kamalea tidak enak hati. “Itu kan, nggak bener-bener bersih,” lanjut wanita itu seraya menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
Deon yang mendengar itu akhirnya tersenyum. “Memangnya, kalau kamu mandang saya itu bagaimana, si?” Kamalea malah mengangkat alis bingung.
“Cara pandang kamu ke saya? Itu gimana?” Kening Kamalea makin berkerut-kerut. Terkadang otaknya memang lamban untuk bisa mencerna sesuatu.
“Kenapa kamu bisa mikir kalau saya nggak bakalan suka datang ke tempat seperti tadi?” Deon menyederhanakan kalimatnya, dan sepertinya itu berhasil membuat Kamalea mengerti. Terbukti dari cara wanita itu yang membulatkan bibir lalu meringis tidak enak.
“Yah … biasanya kan, orang kaya, gitu, Mas.” Kamalea sengaja tidak menjabarkan kalimatnya secara gamblang, tetapi ia yakin otak cerdas Deon bisa mengerti bahasanya yang terkadang terdengar ambigu.
Deon malah tertawa geli. “Maksud kamu saya orang kaya?”
Mendengar itu Kamalea hanya menunjukkan cengiran bingung. Mau menjawab iya, tetapi seperti terkesan terlalu blak-blakan. Ingin menjawab tidak, tetapi fakta yang ada memang begitu. Dilihat dari jabatan yang laki-laki itu sandang kini, juga jenis mobil dan pakaian yang kini Deon kenakan, tentu saja laki-laki ini tidak bisa disamakan dengan dirinya yang bahkan tingal di komplek biasa.
“Saya aja masih jadi kuli, Lea. Gimana mau disebut kaya?” Deon mengembus napas pendek, lalu menatap lurus ke depan. Di mana taman tempat mereka duduk terdapat sebuah air mancur buatan, yang jatuh menimpa kolam.
“Mobil yang saya punya juga fasilitas kantor, saya nggak seperti yang kamu pandang. Jadi nggak usah canggung kalau mau ajak saya ke tempat yang menurut kamu nggk layak untuk diinjak oleh orang-orang kaya. Karena saya bukan mereka.” Deon mengatakan itu sembari mengalihkan matanya ke arah samping, di mana Kamalea juga sedang menatapnya tanpa berkedip.
Kamalea yang memutus pandang tersebut terlebih dulu, sebelum dirinya semakin jauh terjerat ke dalam pesona Deon. Jangan sampai terjadi sesuatu yang akan membuat malu dirinya karena kini masih berada di tempat umum.
Deon berdeham lalu berdiri saat merasa kecanggungan mulai merajai. “Jadi, kita mau ke mana lagi ini?”
Kamalea yang sudah membuat daftar ke mana ia harus pergi, ikut bangkit dengan semngat yang membara. “Mas Deon suka kopi?”
“Suka.” Laki-laki itu mengangguk dan segera melangkah ke arah mobil saat dengan semangat yang menggebu, Kamalea menarik lengannya, dengan kondisi tanpa sadar.
*
“Kamu benar-benar penjelajah kuliner sejati, ya.” Deon berdecak kagum pada tempat yang kini mereka datangi. Tepatnya sebuah tempat, seperti kafe, yang menyediakan semua olahan kopi. Dari minuman, makanan berat sampai ke makanan ringan ada. Dan semuanya berbahan kopi. Aroma kopi akan langsung menyeruak hidung saat kaki mereka baru menginjak lahan parkir yang lumayan penuh. Bahkan keduanya nyaris tidak kebagian tempat duduk.
“Bahkan di tempat yang agak terpelosok begini kamu bisa tahu.” Deon melebarkan senyum sembari mengedar pandang. Lokasi tempat ini memang agak jauh dari perkotaan.
“Biasalah, Mas, mengisi kegabutan. Jadi memang sering iseng nyari tempat makan aneh,” jawab Kamalea ikut mengedar pandang. Di saat yang sama, Deon malah tengah memperhatikan wajahnya dengan tatapan kagum.
“Biasanya sama siapa? Nggak mungkin sendiri, dong?”
Kamalea mengangguk, “Biasanya sama Revka, sebelum dia sibuk dengan pacarnya.”
Deon malah menyipitkan mata, seolah tengah mencari sebuah ekspresi saat kalimat itu terucap, tetapi tidak ia temukan dan entah mengapa ada embusan lega yang keluar begitu saja. Deon menyimpulkan jika Kamalea dan laki-laki bernama Revka memang bukan siapa-siapa, hanya sekadar teman, tetangga, dan sahabat seperti yang wanita itu jelaskan tadi.
Obrolan sempat terputus saat pesanan keduanya tiba. Kamalea memesan satu roti kopi berisi cokelat, dengan satu gelas cappuccino. Sementara Deon memesan satu roti kopi isi keju dengan secangkir kopi pahit.
“Mas Deon ngerokok?” tanya Kamalea saat melihat minuman yang Deon pesan. Biasanya, kopi hitam itu adalah kesukaan orang-orang yang merokok. Termasuk Revka yang memang seorang perokok.
Deon menggeleng sembari menyeruput kopinya. “Saya memang suka kopi hitam, tapi enggak dengan rokok.”
“Oh.” Kamalea hanya mengangguk-angguk sembari menggigit rotinya.
“Aneh, ya?” tanya Deon dengan senyum yang entah kenapa seolah tidak pernah bisa luntur. Bersama Kamalea sunguh membuat bibirnya seolah gampang sekali tertarik bahkan untuk sesuatu yang sederhana.
Kamalea meringis, “Sedikit.”
Deon ikut terkekeh melihat wajah Kamalea yang terlihat lucu setiap kali menunjukkan ringisan. “Dulu sering nemenin temen yang suka ngerokok. Daripada saya diem aja, ya mendingan ikut ngopi.”
“Pernah nyoba ngerokok?”
Deon mengangguk, “Pernah, tapi langsung gatel-gatel.”
Mata Kamalea melebar, “Alergi?” Deon mengangguk dengan senyum tertahan.
“Ada alergi rokok, ya?” Kamalea tampak makin menggemaskan saat sedang menampilkan keterkejutan seperti itu.
“Ada, saya orangnya,” kekeh Deon. “Juga, saya alergi minuman keras.”
Mata Kamalea makin melebar, “Wah, bagus dong, Mas. Yang nggak baik bikin alergi, suami idaman banget itu,” ujar Kamalea sembari menggigit rotinya. Namun, langsung terbatuk-batuk saat menyadari kalimat terakhir yang ia ucapkan.