“Gue bilang aneh,” ujar Revka saat Kamalea menceritakan perihal dirinya dan Deon yang akan terlihat seperti orang asing saat sedang berada di kantor. Meski faktanya mereka sering berbalas pesan, dan Deon juga sering meneleponnya saat menjelang tidur. Banyak hal yang dibicarakan hingga kadang mereka lupa waktu.
“Anehnya?” Kamalea mengerutkan kening karena dia sendiri tidak menemukan keanehan pada semua yang terjadi.
“Ya aneh lah, dia kayak nyembunyiin keberadaan lo gitu.” Revka menggelengkan kepalanya malas sembari berdecap lirih.
“Kan gue yang minta.” Kamalea mengatakan itu dengan wajah polos seperti tanpa dosa. Revka yang malah terkejut dengan penjelasan Kamalea.
“Kenapa begitu? Bukannya cewek penginnya diakui, ya? Aneh lo.” Terkadang Revka memang tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya yang satu ini. Satu-satunya sahabat yang ia punya.
“Lo itu ngomongnya kayak yang gue sama Deon udah pacaran aja. Kenalan juga baru berapa hari,” cibir Kamalea malas.
“Oh, kirain gue udah langsung jadian.” Entah mengapa wajah Revka terkesan sinis saat mengatakan hal itu.
“Lo kenapa, si, kayak gitu banget tanggepannya? Kayak yang nggak suka sama Deon.” Kamalea mengerucutkan bibir dengan pandangan menyelidik ke arah Revka yang kini mengembuskan napas pelan.
“Bukannya nggak suka, gue cuman khawatir sama lo.” Jujur saja Revka takut Kamalea akan bertindak gegabah karena mimpi konyolnya itu, sehingga akan mengambil keputusan yang berakhir dengan sakit hati.
“Khawatir?” Wanita itu malah terlihat bingung, bagian dari mananya dari dirinya yang perlu dikhawatirkan? Padahal hubungannya dengan Deon juga masih sebatas begitu saja.
Revka mengembus napas lirih, lalu dengan penuh kesabaran menjelaskan apa yang menjadi kekhawatirannya pada Kamalea. Wanita itu pun sudah memasang telinganya dengan baik.
“Lo itu kayak yang terlalu terobsesi sama itu cowok. Lo yakin banget kalau dia itu jodoh lo. Gue cuman takut, lo nantinya kecewa kalau pada akhirnya bukan itu yang terjadi.” Kamalea mengerjab, mencoba mencerna kalimat Revka yang sebenarnya terdengar masuk akal.
“Dan gue takut, lo bakalan ngelakuin banyak hal konyol dan mungkin juga berbahaya karena kepercayaan lo itu.”
“Contohnya?” Untuk yang satu ini sebenarnya Kamalea merasa Revka sudah berlebihan.
“Ya … gue takut lo bakalan ngelakuin apa aja yang ‘dia mau’.” Revka mengangkat dua jarinya membentuk tanda kutip.
Kamalea berdecap malas saat berhasil mencerna apa maksud Revka. “Gue nggak segila itu Revka! Gue masih waras.”
“Gue kan cuman khawatir.” Kamalea tidak langsung merespon, tetapi malah menyelidik wajah Revka.
“Lo nggak lagi cemburu. Kan, Rev?”
Revka mengerutkan kening bingung mendapat pertanyaan semacam itu. “Cemburu sama siapa?”
Kamalea malah menunjukkan senyum jahil, lalu tangannya mencolek dagu Revka. “Lo terlalu cinta sama gue jadi lo cemburu kalau gue deket-deket sama cowok lain. Gue terlalu berharga buat lo.”
Mata Revka sontak melebar ngeri secara berlebihan. “Astagfirullah, gue belum gila Lea.” Revka mengatakan itu sembari mengusap wajahnya dengan gaya dramatis.
“Maksud lo?”
“Gue masih waras buat nggak suka sama lo!” Revka mengatakan itu tepat di telinga Kamalea, lalu selanjutnya kabur dengan gelak tawa.
“Revka sialan!”
*
“Apa ini?” tanya Deon saat Lea yang baru saja masuk ke dalam mobilnya memberikan sebuah paper bag mini berisi makanan.
“Itu cheese cake.” Kamalea tersenyum begitu manis.
“Kamu yang buat sendiri?” tanya laki-laki itu sembari melajukan mobilnya secara perlahan.
Kamalea menjawab dengan anggukan kepala penuh semangat. “Mas cobain, nanti kasih kritiknya juga boleh.”
Deon terkekeh kecil. “Kamu pintar bikin kue ternyata?”
“Lumayan lah, meski belum bisa dikatakan mahir. Dulu Eyang punya toko kue di Jogja, dan sempet ngajarin saya.”
Deon mengangguk-angguk. “Masak bisa juga?”
Kamalea tertawa kecil, “Kalau masak nggak bisa”
“Kok aneh?”
Wanita yang mengenakan setelan kerja berwarna hijau botol itu mengedikkan bahunya. “Nggak tahu. Tapi memang dari dulu kalau masak selalu aneh rasanya.” Kamalea terkekekh geli sembari membayangkan saat di mana orang-orang terdekatnya yang akan sakit perut setelah memakan masakannya. Bahkan sampai sekarang ia tidak bisa membedakan yang mana jahe, lengkuas, hanya kunyit yang ia tahu karena berwarna kuning.
“Nggak masalah si kalau buat saya.” Kamalea langsung menoleh saat Deon mengatakan itu, tetapi laki-laki itu malah seolah tidak menyadari apa yang baru saja dikatakan. Maksudnya, apa?
*
“Sampai kapan kamu mau berhenti di sini terus?” tanya Deon sembari menggeleng geli karena Kamalea masih saja memintanya untuk menurunkan wanita itu di tempat yang masih jauh dari kantor. Padahal ini sudah berjalan satu minggu sejak Deon menawarkan diri untuk memberi tumpangan gratis pada Kamalea.
“Nggak papa, Mas, saya takut Mas Deon jadi bahan gosip aja.” Kamalea meringis dan Deon hanya mengangguk saja.
“Nanti jangan lupa kasih komen soal kuenya ya, Mas,” ujar Kamalea sebelum melepas sabuk pengamannya.
“Pasti, tapi saya rasa pasti enak.” Deon tersenyum dengan begitu menawan dan hal itu masih bisa membuat wajah Kamalea memerah.
“Tunggu Lea!” kamalea yang sudah membuka pintu urung untuk turun.
“Iya?”
“Sabtu besok ada acara?” tanya Deon yang dijawab gelengan kepala oleh Kamalea. Ia memang jarang memiliki acara sejak Revka sering sibuk di akhir pekan. Entah apa yang sebenarnya laki-laki itu sibukkan di akhir minggu.
“Gimana kalau kita jalan?”
Tidak perlu berpikir, Kamalea langsung mengangguk setuju. “Boleh, Mas.”
“Oke, nanti jam berapanya kita atur lagi, ya.”
“Siapp!” jawab Kamalea sembari turun dan cepat-cepat melangkah sebelum ada satu karyawan yang mengetahui jika ia turun dari mobil seorang Deon. Kamalea hanya sedang menjaga nama baiknya. Ia tidak mau dianggap ganjen atau apalah itu. Sementara hubungannya dengan Deon belum jelas. Nanti, jika tiba saat di mana Deon sudah meresmikan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius, maka Kamalea tidak akan turun di pertigaan jalan yang masih membutuhkan waktu berjalan lumayan jauh. Namun, sayangnya hari ini ada sepasang mata yang menangkap keberadaannya bersama Deon.
*
“Perasaan setiap berangkat, kenapa lo keliatan capek gitu, ya?” Mita yang sudah lebih dulu sampai di kubikelnya menatap Lea dengan tatapan penuh selidik.
“Gue lewat tangga soalnya, lagi target nurunin BB, biasalah,” jawab kamalea lancar seolah tidak sedang berbohong.
Mita memicingkan mata, “Yakin lo?”
Kamalea mengangguk tanpa merasa curiga dengan sikap Mita yang terlihat lain. Ia memilih menyalakan laptop sembari memperbaiki sedikit make up-nya yang luntur.
“Bukannya jalan dari pertigaan sono.” Kalimat itu diucapkan dengan nada berbisik yang seketika membuat bulu kuduk Kamalea meremang. Apalagi saat ia menoleh, dan mendapati seringai setan muncul di wajah Mita yang kini tengah melipat kedua tangan di depan d**a. Menuntut sebuah jawaban yang dibalas ringisan oleh Kamalea.
“Lo lihat, ya?” tanya wanita itu.
Mita malah mendengkus malas. “Lo pikir? Itu kan masih area yang deket dari kantor.”
Kamalea terkikik geli sembari membetulkan posisi duduknya untuk fokus ke depan.
“Nggak ada yang mau diluruskan ke gue gitu?” tanya Mita saat kamalea malah tidak mengatakan apa pun. Padahal ia pikir wanita itu akan menjelaskan sesuatu pada dirinya.
“Memang ada yang keriting perlu dilurusin?” Kamalea terkekeh geli saat mendengar decapan kesal dari samping.
“Gue cuman nebeng doang, nggak ada yang penting dari itu,” jelasnya pada akhirnya.
“Kalau nebengnya sama pak Supri si nggak aneh. Ini kan masalahnya yang lo tebengin itu Pak De—“ Ucapan Mita terpotong karena Kamalea langsung membekap mulutnya.
“Ih, Lea resek. Lo mau bunuh gue?” Mita mendesis kesal yang hanya dibalas tawa geli oleh pelaku pembekapan mulut.
“Nanti deh gue ceritain pas kita makan siang.” Kamalea mengedar pandang ke ruangan divisinya yang terdapat banyak orang. “Di sini banyak biang gosip.”
“Sama traktiran lo, ya!”
“Oke lah. Untung lo nagihnya pas gue lagi seneng Mit.”
“Berarti memang ada sesuatu, kan? Sampai lo bisa seneng gitu?” Mita sedikit berbisik saat mengatakan itu karena si biang gosip Andin sudah duduk di tempatnya.
“Nanti gue ceritain.” Kamalea pun ikut berbisik. Apalagi saat sadar wanita di belakangnya tengah memasang radar telinga gosipnya.
*
“Udah sejauh itu?” Mita merasa takjub setelah mendengar cerita Kamalea yang minggu kemarin diajak pergi oleh Deon. Dan malah minggu depan sudah membuat janji. Belum lagi setiap pulang dan pergi dari kantor juga bersama.
“Belum jauh banget, kok. Masih sebatas itu,” jawab Kamalea cuek sembari menyeruput teh manisnya.
“Tapi ini termasuk gercep kalau menurut gue. Secara doi kan baru aja pindah ke kantor.”
Kamalea malah mengedikkan bahu. “Mungkin dia tipe yang gampang akrab sama orang.”
“Terus kenapa lo selalu turun di pertigaan itu?” Mita masih belum bisa menebak alasan kenapa Kamalea harus turun di tempat yang masih harus membutuhkan jalan kaki.
“Itu mau gue. Soalnya gue nggak mau ada berita yang enggak-enggak beredar.” Mita malah mengernyitkan dahi.
“Ya secara dia kan bos. Nanti apa kata karyawan lain kalau gue diperlakukan seistimewa itu, kan?” Ada nada sombong yang dibalas Mita dengan gaya ingin muntah saat Kamalea mengatakan itu.
“Gue mau jaga diri aja. Masih belum mau jadi bahan gosip.”
“Sampai?” Mita tahu kalimat yang Kamalea ucapkan belum selesai.
“Sampai hubungan gue sama dia menemui titik terang.”
“Misalnya?”
“Yah … sampai dia nembak gue dan kita resmi pacaran. Mungkin.” Kamalea mengatakan itu dengan kepercayaan diri yang tinggi.
“Lo yakin bakalan sampai ke tahap itu?” Entah mengapa Mita merasa ada yang aneh di sini.
“Bukannya kita harus punya keyakinan?”
Mita memilih mengedikkan bahu karena tidak mau menyesatkan.
“Ah lo mah nggak asik Mit,” gerutu Kamalea sembari memeriksa ponselnya yang memunculkan notifikasi pesan baru. Bibir yang biasa tersenyum itu makin membentuk satu garis senyum yang lebih lebar saat pesan yang masuk ternyata dari Deon.
‘Enak kuenya. Rasanya sangat pas, dan nggak kemanisan.’
Kamalea segera menjawab pesan tersebut dengan perasaan penuh dengan bunga-bunga.
‘Wah, tengkiu, Mas. Lain kali aku bikinin kesukaan mas Deon. Mau reques apa?’
‘Apa saja yang kamu buat saya suka.’
Kamalea hanya bisa tersenyum sembari menggigit bibir saat akhir dari pesan tersebut adalah sebuah emoticon love. Ini, Deon tidak sedang salah ketik, bukan?