“Kamu satu-satunya orang yang nggak cerewet waktu saya ajak ke sini,” ujar Deon sembari menoleh ke arah samping, di mana Kamalea tengah duduk manis dengan wajah berseri. Bukannya muka bosan yang selalu banyak orang tampilkan saat harus menemaninya memancing seperti sekarang.
Deon memang menjemput Kamalea dan mengajaknya memancing. Satu kegiatan yang katanya Deon gemari, tetapi jarang bisa ia lakukan karena kesibukan yang seringnya menggila. Apalagi di kantor sekarang, ia harus mengurus banyak kekacauan yang ditinggalkan petinggi sebelumnya, membuat Deon terkadang harus merelakan jam tidurnya. Namun, semenjak hadir Kamalea di hidupnya, laki-laki itu tidak pernah kehilangan semangat yang kadang seperti hilang begitu saja.
“Memang Mas Deon suka ngajak siapa aja?” tanya Kamalea sembari menatap wajah Deon yang sudah fokus pada kolam ikan di depannya. Tidak banyak orang yang berada di sekliling mereka membuat tempat pemancingan ini terasa nyaman, apalagi banyak pepohonan yang membuat suasana tidak terlalu panas saat semilir angin datang meniup.
“Jarang ngajak-ngajak, si, soalnya seringnya pada nggak mau.” Deon terkekeh sendiri dengan kalimat yang ia ucapkan.
“Mas Deon kenapa suka mancing?” tanya Kamalea yang sebenarnya juga tidak mengerti kenapa orang suka dengan kegiatan ini. Hal yang seperti sia-sia karena memang ini sangat membuang waktu. Andai saja bukan Deon yang berada di sampingnya, mungkin kamalea juga akan kabur sejak tadi. Namun, karena Deon yang berada di sisinya, Kamalea merasa betah. Ia bisa leluasa menikmati wajah tampan dengan pahatan sempurna itu sepuas matanya ingin memandang.
“Nggak ada alasan pasti, aku ngerasa tenang aja.” Deon menatap Kamalea sekilas, sebelum mengedar pandang dan merentangkan satu tangannya untuk menunjuk sekitar. “Apalagi suasananya adem kayak gini. Bisa ngilangin penat. Kadang bosen sama rutinitas yang penuh dengan kebisingan.”
Kamalea mengangguk-anggukan kepalanya, mungkin bagi Deon menyendiri seperti ini sangat menyenangkan.
“Lagian kita bisa ngobrol leluasa seperti sekarang, kan?” Kamalea tersenyum dengan muka bersemu merah mendengar kalimat tersebut. Memang lokasi ini sangat nyaman, tidak seperti pemancingan pada umumnya yang panas dan dipenuhi orang. Mungkin ini tempat pemancingan versi elit atau bagaimana, Kamalea sendiri juga tidak mengerti.
“Kalau hobi kamu apa Lea?” tanya Deon seraya menatap lurus ke depan.
“Saya kayaknya nggak punya hobi.” Kamalea terkikik geli, ia sering bingung jika ditanya apa hobi dan bakatnya. Jika libur, paling yang Kamalea lakukan tidur sampai sing dan menghabiskan waktu untuk menonton film apa pun itu.
Deon pun menoleh dengan alis terangkat. “Kalau libur biasanya ngapain aja?”
Kamalea menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga sebelum menjawab. “Ya … paling rebahan aja, sambil nonton film.”
Deon ikut tersenyum saat Kamalea menoleh ke arahnya dengan senyum mengembang. Hal yang sangat Deon sukai karena senyum yang Kamalea tunjukkan setiap hari begitu tulus. Bahkan seperti tidak ada beban, dan mudah sekali menular pada siapapun yang ada di sekitar, termasuk dirinya.
*
Seperti orang-orang yang hobi memancing pada umumnya, biasanya mereka tidak mau menikmati ikan hasil tangkapan mereka. Saat ditanya, katanya Deon hanya menikmati waktu, tetapi tidak suka dengan memakan hasil tangkapannya. Entah karena apa, Deon sendiri juga tidak terlalu paham. Maka, setelah menghabiskan waktu yang terasa menyenangkan karena keduanya tampak bahagia sekali hari ini, mereka memutuskan untuk mencari tempat makan guna menuntaskan rasa lapar yang kini merajai.
“Kamu suka seafood?” tanya Deon setelah selesai dengan kegiatan membuang-buang waktunya yang terasa lain karena ada Kamalea di samping laki-laki itu.
“Saya mah pemakan segalanya, Mas.” Kamalea tersenyum lebar begitu pun Deon yang nyaris mengusap puncak kepala Kamalea karena gemas dengan wanita ini. Dan, di sinilah mereka kini berada, di sebuah rumah makan yang menyediakan masakan olahan dari laut. Tempatnya tidak terlalu jauh dari mereka memancing tadi.
“Kamu nggak mau ngerubah sesuatu?” tanya Deon ambigu setelah keduanya memesan makanan.
Kamalea yang tidak mengerti arti dari pertanyaan itu mengerutkan keningnya. “Maksudnya?”
“Kayaknya, cuman aku yang ngomongnya udah nggak terlalu formal.” Deon tersenyum lembut, dan berhasil membuat Kamalea salah tingkah saat itu juga.
Wanita itu menunjukkan ringisan, lalu menggaruk pelipisnya yang entah gatal atau tidak. “Masak si, Mas? Saya—“ Ucapan itu terpotong saat Kamalea paham apa yang Deon maksud. Panggilan saya yang masih dia gunakan ini, bukan, maksud dari kata formal itu?
“Kamu berapa bersodara?” tanya Deon seraya meraih ponselnya. Seperti memeriksa sesuatu tetapi hanya sebentar karena selanjutnya laki-laki itu kembali fokus pada Kamalea yang seperti tidak bosan terus mengamati wajahnya.
“Sa— emm, maksudnya, aku dua bersaudara. Adikku cowok. Kalau Mas Deon?”
Deon tersenyum sebelum menjawab, “Aku anak tunggal.” Kamalea hanya ber-oh panjang mendengar jawaban itu.
“Adik kamu cowok?” Kamalea mengangguk sebagai jawaban. “Pasti seru, ya, kalau punya saudara begitu?”
Kamalea mengangguk cepat, “Seru, Mas, seru buat diajak ribut.”
Deon mau tidak mau terkekeh, “Loh, kok gitu?”
Kamalea pun langsung menceritakan perihal Kino yang memang seringnya mengajaknya ribut setiap kali mereka sedang duduk berdua. Tidak pernah akur, dan memang sejak dulu seperti itu. Di mana ada Kamalea dan Kino, di situ pasti akan ada keributan. Kadang mama dan papanya saja sampai bingung untuk mengatasi kedua anaknya yang seringnya terlihat seperti tikus dan juga kucing.
“Tapi kalau salah satu nggak ada, rasanya aneh.” Kamalea mengakhiri ceritanya dengan senyuman. Mengingat kembali saat adiknya harus ke luar kota karena acara kampusnya bulan lalu. Rumah rasanya hening seperti kehilangan satu nyawa.
“Kayaknya adik kamu orang yang asik.” Deon kembali terlihat memeriksa ponselnya. Namun, lagi-lagi hanya sebentar karena mata itu kembali fokus pada Kamalea.
“Ya ... seperti yang aku bilang tadi, asik buat diajak ribut.” Kamalea terkekeh geli, Deon pun ikut tertawa geli. Selanjutnya mereka mengobrolkan banyak hal ringan yang terasa begitu menyenangkan.
*
“Terima kasih, ya, kamu selalu berhasil membuat hari-hariku lebih menyenangkan,” ujar Deon tiba-tiba saat dalam perjalanan pulang. Laki-laki itu terus memunculkan senyum yang menular pada Kamalea. Entah siapa yang sebenarnya memiliki virus senyum menular di sini.
“Aku yang makasih banget sama Mas Deon lah,” ujar Kamalea sembari menatap Deon dari samping. Di mana laki-laki itu kini tengah fokus pada kemudi dan jalanan ramai di depannya.
“Mas Deon sering banget ngajak jalan sama traktir makan. Aku yang ngerasa seneng banget.” Kamalea benar-benar terlihat serius saat mengatakan itu.
“Memangnya, kamu beneran nggak lagi deket sama siapa pun?”
Kamalea mengangkat alis bingung saat Deon sekilas menatapnya sebelum kembali fokus ke depan.
“Kamu belum punya pacar, atau laki-laki yang dekat?”
Kamalea malah tersenyum canggung. “Siapa yang mau sama aku, si, Mas?”
Deon mengernyitkan dahi mendengar kalimat tersebut. “Kok gitu, memangnya kenapa sama kamu?”
“Aku kan nggak punya kelebihan apa-apa. Nggak bisa masak, nggak bisa ngurus rumah, senengnya cuman rebahan. Bukan istri dan menantu idaman.” Kamalea mengedikkan bahu, seolah kalimat yang baru saja diucapkan bukan perkara penting, dan seandainya benar-benar tidak ada yang mau dengannya juga bukan masalah.
“Itu kriteria istri idaman atau— ART?”
“Maksudnya?”
“Ya seperti yang kamu bilang.” Deon menjeda kalimatnya saat mobilnya terjebak lampu merah. “Kamu katanya bukan istri idaman karena nggak bisa masak dan ngurus rumah, kan?” Kamalea mengangguk karena selama ini itulah yang sering ia dengar.
“Memang itu tugas wajib istri?” Lagi-lagi Kamalea mengangguk dengan wajah polos. Yang ia dengar tentang istri dan menantu idaman memang seperti itu.
“Lea, Lea.” Deon malah terkekeh geli sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau menurutku semua itu nggak penting. Yang namanya memasak dan t***k bengek itu tugas bersama. Bukan hanya tugas istri saja.”
Kamalea mengerjab, merasa takjub dengan pemikiran Deon. Namun, ia memilih untuk tidak menyela saat yakin Deon belum selesai dengan penjelasannya.
“Kalau memang bisa gaji ART ya kita bisa pake jasa itu. Tapi kalau nggak bisa ya kita bagi tugas mana yang bisa istri kerjakan, dan mana yang bisa suami kerjakan. Kalau dua-duanya nggak bisa tinggal dimusyawarahin gimana baiknya. Yang jelas menurut aku apa yang kamu pikirkan itu salah. Terlalu kolot.”
Kamalea tersenyum dan merasa trenyuh dengan apa yang Deon katakan. Laki-laki ini benar-benar calon suami idaman versi Kamalea. Eh ralat, suami idaman versi banyak orang semacam dirinya yang memang sering merasa minder karena merasa tidak sempurna.
“Tapi, kan, seringnya memang begitu Mas.” Deon mengangguk, tidak mencoba membantah karena faktanya hal-hal semacam itu memang sudah menjadi dasar tanpa makna.
“Tapi kalau mamaku nggak kayak gitu, kok. Beliau juga nggak bisa masak. Papa malah yang sering masak kalau pas ART di rumah lagi pulang kampung. Tapi mereka masih tetap harmonis sampai sekarang.”
“Wah, keren.” Kamalea merasa takjub dan akan sangat beruntung jika saja Deon memanglah jodohnya. Ia tidak akan mendapat mertua nyinyir yang mempermasalahkan kekurangan yang ia miliki.
“Jadi kamu nggak usah khawatir.” Deon tersenyum manis, sementara Kamalea kebingungan. Ini, arti kalimat Deon sebenarnya apa? Kamalea menunggu penjelasan dari kalimat ambigu tersebut, tetapi sepertinya Deon sendiri tidak menyadari apa yang dikatakan tadi.
“Hari saat ada kamu selalu menyenangkan,” ujar Deon lagi saat mobilnya berhenti di depan pintu gerbang komplek perumahan Kamalea.
“Aku juga seneng kok, Mas. Sekali lagi makasih traktirannya. Oh ya, lain kali biar aku yang traktir Mas Deon, ya?”
Deon langsung mengangguk. “Gimana kalau besok pagi kita jogging?”
Mata Kamalea sontak berbinar. “Mau, Mas. Nanti aku traktir di tempat bubur ayam enak, deh.”
Deon terkekeh, “Boleh, boleh. Sampai besok ya.”
Kamale mengangguk pelan, lalu segera membuka pintu. “Mas Deon hati-hati.”
“Tunggu Lea!” Kamalea yang sudah berniat turun pun menoleh cepat.
“Kenapa, Mas?”
Deon seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi entah mengapa terlihat berat. “Enggak pa-pa. Sekali lagi terima kasih.”
Kamalea mengerutkan kening, tetapi selanjutnya tertawa kecil. “Udah nggak muat buat nampung makasihnya, Mas.”
Deon ikut tertawa, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Kamalea. “Sampai ketemu besok.”
Kamalea yang diperlakukan manis seperti itu hanya bisa mematung dengan jantung berdegub kencang. Kalau baper bisa menyebabkan pingsan, sepertinya Kamalea sudah pingsan saat itu juga.